Oleh: Juan Pesau
Diaspora Manggarai di Kupang tengah merajut pelan-pelan sebuah rencana yang penuh makna. Rencana itu bukan sekadar perayaan pergantian angka kalender, melainkan sebuah ikhtiar menyulam kembali rasa kebersamaan. Syukuran Tahun Baru 2026 Diaspora Manggarai di Kupang.
Konon, jumlah orang Manggarai di Kupang mencapai angka nyaris sepuluh ribu jiwa. Angka itu mungkin belum pernah dibuktikan lewat sensus yang rapi, tetapi kehadiran mereka terasa nyata. Tanyalah di tiap kelurahan, akan selalu ada cerita tentang keluarga Manggarai yang menetap, beranak-pinak, bekerja, dan bertumbuh. Cerita-cerita itu hidup dari obrolan warung kopi, dari percakapan ringan sebelum mata terpejam di ranjang malam. Angka ini mungkin tak tercatat, tetapi diakui.
Kerinduan untuk berhimpun itulah yang menjadi benih utama syukuran tahun baru ini. Diaspora Manggarai di Kupang selama ini terhimpun dalam sebuah payung kekeluargaan bernama Ikatan Keluarga Manggarai Raya (IKMR). Di pucuknya, Ali Antonius, seorang pengacara senior dipercaya sebagai ketua, atau lebih tepatnya, sebagai sosok yang dituakan. Dalam tradisi Manggarai, kepemimpinan bukanlah sekadar jabatan administratif, melainkan soal kepercayaan yang diakui bersama.
Pada pertengahan Desember 2025, rumah Ali Antonius menjadi saksi sebuah pertemuan penting. Mlam itu, sejumlah tokoh kunci diaspora Manggarai Kupang berkumpul, termasuk para ketua panga. Ketua panga merupakan figur-figur yang dalam struktur kultural memiliki posisi strategis. Mereka ibarat temenggung dalam khazanah Jawa. Penguasa wilayah komunitas, pemegang mandat kultural. Dalam banyak hal, keputusan besar IKMR tak mungkin lahir tanpa persetujuan mereka.
Tak semua bisa hadir, tetapi gagasan yang lahir dari pertemuan itu terlampau kuat untuk diabaikan.
Ali Antonius membuka percakapan dengan menyampaikan sebuah kerinduan yang bergaung di banyak hati yaitu keinginan para angota, bahkan para sesepuh, agar diaspora Manggarai menggelar syukuran Tahun Baru 2026. Tak ada penolakan. Anggukan-anggukan kepala menjadi bahasa persetujuan yang paling jujur.
Frans Sarong, salah satu tokoh yang hadir, menegaskan dorongan itu dengan semangat yang mengalir. Ucapannya membuat kerinduan tadi tumbuh menjadi tekad. Ia disambut suara-suara lain, ada Alex Lamba, Frans Tulung, Martinus Nahas, Alo Sukardan, Niko Serman, Yustinus Baut, serta para ketua panga yang hadir. Malam itu, gagasan bukan hanya diterima, tetapi disepakati.
Hasilnya konkret. Syukuran Tahun Baru disetujui untuk digelar pada akhir Januari 2026, dengan pembentukan panitia besar beranggotakan sekitar 50 orang. Dr. Florentianus Tat dipercaya sebagai ketua panitia, sementara Frans Sarong ditempatkan sebagai ketua dewan pengarah.
Namun sejak awal, arah kegiatan ini ditegaskan. Syukuran ini harus dijauhkan dari bayang-bayang politik. Frans Sarong mengingatkan dengan tegas agar urusan kekeluargaan tidak ditarik ke gelanggang kepentingan. Lebih dari itu, ia mendorong agar syukuran ini menjadi ruang rekonsiliasi jika sebelumnya diaspora Manggarai sempat terbelah oleh pilihan politik atau pilkada. Tahun baru, dalam pandangannya, adalah waktu yang tepat untuk saling memaafkan dan memulai kembali.
Alex Lamba menambahkan lapisan refleksi yang tak kalah penting. Syukuran ini, katanya, tak boleh berhenti sebagai seremoni kosong. Ia harus melahirkan sesuatu yang lebih bermakna bagi kebersamaan orang Manggarai di Kupang. “Apalah gunanya,” ia menggugat, “jika nanti hanya sebuah seremoni.”
Sementara itu, Frans Tulung memandang acara ini sebagai perwujudan kerinduan yang telah lama dipendam. Duduk dan berdiri bersama dalam ungkapan syukur, menurutnya, adalah buah dari kerinduan untuk berkumpul, berteman, bercengkerama, dan saling menyapa. Hal-hal sederhana yang justru sering tergerus karena kesibukan hidup di perantauan.
Dalam sebuah diskusi kecil, Frans Sarong pernah melemparkan sebuah refleksi yang menggugah: Indonesia, katanya, bernafas dengan pemikiran Jawa. Sementara Nusa Tenggara Timur, dalam banyak hal, bernafas dengan pemikiran Manggarai. Karena itu, orang Manggarai selalu diperhitungkan. Namun pertanyaannya kini terbuka lebar, apakah anggapan itu masih berlaku, atau perlahan memudar?
Syukuran Tahun Baru Diaspora Manggarai Kupang tampaknya hendak menjadi salah satu jawaban. Ia bukan sekadar pesta, bukan sekadar pertemuan massal, melainkan upaya menangkap kembali sari dari kebersamaan, tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan bagaimana mereka ingin terus hadir di kota ini, bersama-sama.*











