Berita  

Rekonsiliasi Diaspora Manggarai Raya Menggema di Kupang

Catatan Juan Pesau

Rekonsiliasi itu akhirnya menemukan momentumnya. Ribuan warga diaspora Manggarai Raya yang berdomisili di Kota Kupang berkumpul dalam sebuah syukuran Tahun Baru bersama yang digelar di Hotel Cahaya Bapa, 31 Januari lalu.

Sekitar seribu keluarga hadir dalam perhelatan yang disebut-sebut sebagai salah satu konsolidasi terbesar warga Manggarai di Kupang. Ruangan hotel bahkan tak mampu menampung seluruh peserta. Sejumlah keluarga dikabarkan tidak kebagian tempat duduk. Itu adalah sebuah “cerita kecil” yang justru memperlihatkan besarnya antusiasme dan kerinduan untuk kembali duduk bersama dalam satu kebersamaan.

Acara diawali dengan misa syukur yang dipimpin 12 imam Katolik, seluruhnya merupakan bagian dari diaspora Manggarai di Kupang. Momentum religius itu menjadi simbol awal dari semangat rekonsiliasi yang digaungkan sepanjang acara.

Kehadiran sejumlah pejabat publik turut memberi bobot tersendiri. Perwakilan Pemerintah Kota Kupang hadir, bersama Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melki Laka Lena. Partisipasi para pemangku kebijakan ini mempertegas bahwa diaspora Manggarai memiliki posisi sosial yang signifikan di ibu kota provinsi.

READ  Richard Sontani: Labuan Bajo Perlu Membangun Kawasan Penyangga

Namun lebih dari sekadar seremoni, acara ini dinilai sarat makna sosial. Sejumlah orang tua menyebut, inilah pertama kalinya konsolidasi warga Ikatan Keluarga Manggarai Raya (IKMR) berlangsung dlam skala sebesar ini tanpa embel-embel agenda politik.

“Kalau hajatan politik, itu biasa. Tapi ini murni syukuran. Orang datang tanpa mobilisasi, tanpa kepentingan. Itu yang luar biasa,” ujar salah satu sesepuh yang hadir.

Dari Perbedaan Menuju Rekonsiliasi

Tak disangkal, diaspora Manggarai di Kupang sebelumnya sempat berada dalam pusaran perbedaan pilihan pada momentum pemilihan kepala daerah. Dinamika politik itu sempat menghadirkan sekat-sekat emosional di antara sebagian warga.

Karena itu, syukuran Tahun Baru ini tidak sekadar ajang temu kangen. Acara ini menjadi ruang rekonsiliasi. Upaya sadar untuk menutup lembaran perbedaan dan kembali pada nilai dasar kekeluargaan.

“Ini jauh dri agenda politik. Ini tentang keluarga,” demikian semangat yang berulang kali digaungkan dalam forum tersebut.

Tokoh-Tokoh di Balik Suksesnya Acara

READ  Dangko dan Perjalanan Mencari Pante

Kesuksesan kegiatan ini tidak lepas dari peran sejumlah tokoh Manggarai di Kupang. Salah satu nama yang banyak disebut adalah Frans Sarong. Di tengah kesibukannya, ia dikenal aktif mendampingi panitia sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan.

Dalam berbagai kesempatan, Frans Sarong konsisten menyuarakan pentingnya rekonsiliasi dan menjaga persaudaraan. Bahkan, dalam sebuah pertemuan di kediamannya, sejumlah tokoh Manggarai berkumpul untuk mematangkan gagasan besar kegiatan ini.

Frans Tulung, salah satu tokoh yang terlibat, menyebut Frans Sarong sebagai “perekat baru” di tubuh IKMR. Figur yang hadir untuk menyatukan kembali energi kolektif diaspora.

Selain itu, Ketua IKMR Kupang, Anton Ali, memainkan peran sentral dalam memastikan seluruh elemen keluarga Manggarai terlibat. Nama-nama seperti Frans Tulung, Aleks Lamba, Yustinus Baut, Alo Sukardan, Martinus Nahas, dan Niko Serman juga tercatat aktif dalam proses perencanaan.

Tak kalah penting, para ketua panga (kelompok kecamatan yang terbentuk di Kupang) ikut menggerakkan basis keluarga masing-masing. Kolaborasi ini diperkuat oleh kerja solid sekitar 50 anggota panitia yang dikomandoi Lon Tat sebagai ketua panitia.

READ  Ret-Ret Pejabat NTT: Investasi ASN atau Pemborosan Anggaran?

Lebih dari sekadar perayaan tahun baru, pertemuan akbar ini menjadi pengingat bahwa identitas Manggarai tidak semata-mata ditentukan oleh perbedaan pilihan politik, melainkan oleh akar kekerabatan yang kuat.

Di tengah kehidupan urban yang kian individualistik, diaspora Manggarai di Kupang menunjukkan bahwa nilai persaudaraan tetap menjadi fondasi utama. Rekonsiliasi yang digaungkan bukan sekadar slogan, melainkan diwujudkan dalam perjumpaan nyata.

Acara ini mungkin telah usai. Namun gaungnya menyisakan pesan penting: kekerabatan harus terus dirawat, kebersamaan mesti dijaga. Karena, keluarga yang kuat bukanlah keluarga tanpa perbedaan, melainkan keluarga yang mampu kembali duduk bersama setelah perbedaan itu terjadi.

Mengakhiri catatan ini baiknya kita perlu mengutip filsuf Perancis keturunan Yahudi Lituania, Emmnuel Levinas “dalam perjumpaan dengan sesama, kita menemukan kembali diri kita sendiri.” Pesan Levinas mengingatkan kita bahwa kebersamaan dan rekonsiliasi bukan sekadar agenda sosial, tetapi panggilan eksistensial manusia sebagai mahkluk relasional.
Begitulah..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *