Secangkir Kopi, Cerita Pius Rengka, dan Sebuah Perjalanan Kecil di Kupang

Pius Rengka (dokumen detakpasifik)

catatan Juan Pesau

Sekira pukul 09.00 pagi tadi (Jumat/4/2026), telepon genggam yang saya letakkan di atas meja televisi tiba-tiba berdering. Suaranya memecah keheningan pagi yang sedang saya nikmati bersama tegukan demi tegukan kopi.

Kopi itu tinggal sedikit lagi menyentuh buntut cangkir kesayangan hasil undian di sebuah pasar malam.

Saya belum sempat menyesap tegukan terakhir ketika melihat layar telepon.

Muncul wajah seorang lelaki yang sudah tidak muda lagi, tetapi tetap rupawan. Rambutnya telah memutih. Wajahnya menyimpan banyak cerita. Ia adalah Dr. Pius Rengka.

“Selamat pagi, Om,” saya menyapa lebih dahulu.

“Saya sudah berada di halaman parkir kantor wali kota.”

Suaranya tegas. Pendek. Tidak ada basa-basi.

Telepon pun ditutup.

Kopi kesayangan yang sering saya ibaratkan seperti gadis bertubuh molek nan seksi, manja dan selalu ingin dibelai, terpaksa saya tinggalkan.

Saya menarik handuk dari tali jemuran dan bergegas ke kamar mandi.

Mandi seadanya. Tak sempat seperti biasanya, ketika saya suka mendendangkan lagu-lagu Pance Pondaag atau Koes Plus sambil menikmati air gayung yang jatuh satu per satu di kepala.

Kali ini tidak ada konser kamar mandi.

Pikiran saya hanya satu. Harus segera sampai.

Bukan semata-mata karena takut membuat seseorang menunggu. Tetapi, bagaimana mungkin saya tega membiarkan salah satu orang cerdas yang masih tersisa di NTT menunggu terlalu lama?

Bisa berabe urusannya.

Saya memesan ojek online.

Gercep.

Begitu pengemudi datang, saya langsung naik. Di atas motor, kaka ojek rupanya cukup banyak bertanya. Saya yang sedang berpacu dengan waktu hanya menjawab seperlunya.

“Kaka, konsentrasi saja. Kita sampai cepat, tetapi tetap aman dan selamat sentosa.”

Ia tertawa kecil, lalu menarik gas sedikit lebih dalam.

Saya tiba.

READ  Memahami Manusia Lewat Angka: Pemetaan Karakter Berbasis Psiko Numerik

Di sana, saya berpindah ke mobil Om Dr. Pius.

Dan seperti biasa, cerita pun dimulai.

Ada orang yang ketika berbicara membuat kita merasa sedang mengikuti sebuah kuliah. Ada pula yang membuat percakapan sederhana terasa seperti sedang membuka lemari tua berisi banyak cerita.

Pius Rengka termasuk yang kedua.

Ia seorang yang optimistis. Selalu punya cara melihat sisi terang dari sesuatu yang oleh orang lain mungkin dianggap gelap. Soal kecerdasan, tentu tidak perlu diperdebatkan. Banyak orang sudah tahu.

Kami kemudian melaju menuju Hotel Harper.

Kami hendak menemui Ama Beding.

Di dunia media online Kota Kupang, nama Ama Beding bukanlah nama yang asing bagi mereka yang berkutat dengan dapur digital.

Ama adalah salah satu orang yang mengatur lalu lintas sejumlah website media online di kota ini. Ada belasan media yang, dalam urusan tertentu, bergantung pada tangan dan kepalanya.

Ia me menjaga, merawat, dan memastikan website-website itu tetap berjalan sebagaimana mestinya. Karena itu, tidak berlebihan jika ia disebut sebagai salah satu penjaga dapur digital sejumlah media online di Kupang.

Kalau Ama sakit, boleh jadi sebagian dapur media online di Kupang ikut demam.

Detakpasifik.com, media online yang dibidani Pius Rengka bersama sejumlah anak muda, juga mempercayakan urusan dapurnya kepada Ama.

Pagi itu kami bertemu untuk mengurus beberapa administrasi berkaitan dengan Detakpasifik.com.

Namun, seperti lazimnya pertemuan para pekerja media, urusan administrasi tidak pernah benar-benar menjadi satu-satunya urusan.

Kami berbicara tentang media.

Tentang berita.

Tentang dunia jurnalistik.

Dan, tentu saja, tentang nasib para “kuli tinta” di Kupang dan NTT.

Profesi ini memang unik.

Kami sering mengejar berita, tetapi pada saat yang sama harus berlari mengejar kehidupan.

READ  Surat Dari Dapur Redaksi 2026

Kami menulis tentang orang lain yang mendapatkan penghargaan, sementara kadang-kadang lupa bahwa pekerjaan kami sendiri membutuhkan penghargaan yang tidak kalah penting: penghargaan untuk bertahan.

Dari Harper, saya kembali bersama Om Pius.

Kami menuju sebuah kantor pemerintah di Jalan Inaboi, Kelapa Lima.

Ada urusan yang harus diselesaikan.

Setelah itu, perjalanan membawa kami ke sebuah rumah makan RW Manado, tidak jauh dari sana.

Tempatnya sederhana.

Tidak ada kemewahan yang perlu dipamerkan. Tidak ada dekorasi yang membuat orang harus berfoto sebelum makan.

Tetapi masakannya sungguh enak.

Orang datang dan pergi.

Ada pejabat. Ada pegawai kantor. Ada orang biasa.

Masing-masing membawa wajah dan urusannya sendiri.

Ada yang makan cepat karena harus kembali bekerja. Ada yang berbicara serius. Ada yang datang bersama teman. Ada pula yang mungkin hanya ingin mengisi perut sebelum kembali menghadapi rutinitas.

Saya sendiri sempat mencuri pandang kepada beberapa ibu paruh baya yang menurut saya cantik dan menarik.

Namanya juga laki-laki.

Mata kadang punya kehendaknya sendiri.

Sementara itu, Om Pius mulai membuka lemari kenangannya.

Ia bercerita tentang masa lalu.

Tentang kehidupan dua atau tiga dekade silam. Tentang masa ketika umurnya belum sampai pada angka sekarang. Tentang orang-orang yang pernah ditemuinya, pengalaman yang pernah dilewatinya, dan berbagai kisah yang mungkin bagi orang lain sudah lama terkubur dalam ingatan.

Tetapi tidak bagi Pius.

Ingatan orang seperti dia barangkali memiliki gudang sendiri.

Tinggal dibuka, satu per satu cerita keluar.

Dan saya selalu menikmati cerita-cerita itu.

Sebab Pius memiliki satu kemampuan yang tidak semua orang memilikinya yaitu menghidupkan kembali masa lalu melalui cerita.

Pius Rengka bisa membuat peristiwa yang telah puluhan tahun berlalu terasa seperti baru saja terjadi kemarin.

READ  Sang Penabur Telah Pulang (In Memoriam Pater Thomas Krump SVD)

Lebih dari itu, Pius Rengka selalu punya cara membuat lawan bicaranya tertawa.

Siang itu pun demikian.

Saya berkali-kali harus menahan perut karena tertawa.

Makanan di depan kami belum tentu habis, tetapi cerita Pius hampir selalu membuat selera makan bertambah.


Akhirnya kami berpisah.

Perjalanan kecil itu selesai.

Tidak ada acara besar. Tidak ada pidato. Tidak ada tepuk tangan.

Hanya secangkir kopi yang saya tinggalkan di rumah, sebuah telepon pagi yang mendadak, perjalanan dengan ojek online, mobil Pius, urusan media, pertemuan dengan Ama Beding, sepiring makanan di rumah makan sederhana, dan cerita-cerita lama yang membuat kami tertawa.

Namun bukankah hidup memang sering kali tersusun dari hal-hal kecil seperti itu?

Kita mengira sedang menjalani hari biasa.

Padahal, jika suatu hari kita menoleh ke belakang, justru percakapan sederhana, pejalanan pendek dan tawa bersama seorang kawanlah yang paling lama tinggal di ingatan.

Dalam perjalanan pulang, saya memutar sebuah lagu.

My Way.

Saya mendengarkannya pelan-pelan.

Entah mengapa lagu itu terasa cocok dengan perjalanan hari inj.

Mungkin karena setiap orang memang punya jalannya sendiri.

Pius dengan jalan hidupnya.

Ama dengan dunia digital yang dijaganya.

Saya dengan dunia jurnalistik yang kadang membuat kami seperti berlari tanpa garis finis.

Dan kita semua, pada akhirnya, hanya sedang berjalan.

Menikmati kopi yang tersisa.

Mengejar seseorang yang sudah menunggu.

Menyelesaikan urusan.

Makan di warung sederhana.

Tertawa.

Lalu pulang.

Begitulah hidup.

Tidak selalu harus menjadi peristiwa besar untuk menjadi berarti.

Kadang-kadang, ia cukup menjadi sebuah pagi yang dibangunkan oleh dering telepon, secangkir kopi yang terpaksa ditinggalkan, dan seorang kawan tua yang masih punya begitu banyak cerita untuk dibagikan. Begitulah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *