Sang Penabur Telah Pulang (In Memoriam Pater Thomas Krump SVD)

Pater Thomas Krum, SVD semasa hidup

Oleh: Br Flavianus Ngardi MTB

Suatu hari, Sang Penabur itu akhirnya pulang, tepatnya 15 Maret 2026. Ia yang selama puluhan tahun berjalan di jalan-jalan tanah, menyeberangi bukit dan lembah, mengetuk pintu rumah umat, dan menabur benih iman di tanah Rejeng, kini kembali kepada Dia yang mengutusnya. Seperti seorang petani yang telah selesai dengan musim tanamnya, ia menyerahkan ladang itu kepada waktu, kepada generasi yang akan datang, dan kepada Tuhan yang memberi pertumbuhan.

Kepergiannya mungkin meninggalkan sunyi di hati banyak orang: umat yang pernah dilayaninya, para murid yang pernah dibimbingnya, dan rekan-rekan seperjalanan yang pernah bekerja bersamanya. Namun sunyi itu bukanlah kehampaan. Di dalamnya tersimpan jejak langkah seorang misionaris yang pernah berjalan dengan setia. Di setiap gereja yang berdiri, di setiap doa umat yang sederhana, dan di setiap panggilan hidup yang lahir dari tanah Rejeng, benih yang pernah ia taburkan tetap hidup diam-diam bertumbuh dalam rahmat Tuhan.

Namun sebelum kenangan tentang dirinya memudar dalam perjalanan waktu, sebuah kerinduan kecil pernah muncul: menyimpan jejak hidupnya dalam kata-kata. Kerinduan itu lahir secara sederhana pada tahun 2020 di Novisiat MTB Yogyakarta. Dalam sebuah percakapan santai, saya bersama Bruder Libert CSA berbicara tentang sosok Pater Thomas Krump SVD imam misionaris yang bagi banyak orang bukan hanya gembala, tetapi juga guru kehidupan. Dari percakapan yang sederhana itu tumbuh sebuah gagasan: mengumpulkan serpihan kenangan dari mereka yang pernah berjalan bersama beliau. Kami ingin agar kisah hidupnya tidak hanya tinggal dalam ingatan pribadi, tetapi juga menjadi warisan bersama sebuah cerita tentang kesetiaan, pengorbanan, dan cinta seorang misionaris yang telah menabur iman dengan tekun di tanah Rejeng.

Percakapan itu akhirnya berubah menjadi sebuah gagasan: mengumpulkan kenangan orang-orang yang pernah disentuh oleh hidup dan pelayanannya. Maka kami mulai mencari mereka yang mengenalnya para alumni SMP St. Stefanus Ketang, para religius yang pernah hidup dan berkarya di Paroki Ketang Rejeng, juga para imam yang pernah berjalan bersamanya dalam karya pastoral. Sebuah grup WhatsApp pun dibentuk. Dari ruang digital yang sederhana itu, percakapan-percakapan kenangan mulai mengalir. Cerita demi cerita bermunculan: tentang perjalanan pastoral, tentang teguran yang membentuk, tentang tawa kecil yang kadang muncul di tengah kesederhanaan hidupnya. Pertemuan-pertemuan kecil melalui Zoom kemudian menjadi ruang perjumpaan baru, tempat di mana memori lama perlahan dibuka kembali, seakan-akan menghadirkan kembali sosok sang misionaris di tengah percakapan kami.

Dari sana lahir dua belas penulis, masing-masing membawa potongan kisahnya sendiri. Di antaranya hadir pula Pater Paulus Tolo Djogo SVD, Provinsial SVD Ruteng. Tidak ada aturan akademik yang ketat. Tidak ada tuntutan gaya penulisan tertentu. Yang ada hanyalah kenangan yang tulus. Tulisan-tulisan itu akhirnya menjadi seperti mozaik kecil tentang hidup seorang misionaris. Setiap kisah mungkin tampak sederhana, bahkan biasa saja, tetapi ketika disatukan, semuanya membentuk sebuah gambaran yang utuh: tentang seorang imam yang berjalan bersama umatnya, yang hadir dalam suka dan duka mereka, dan yang tanpa banyak kata telah menanamkan nilai iman, ketekunan, dan pengabdian dalam hati banyak orang.

READ  Jaksa Boneka dan Istri Dalangnya
Pater Thomas Krump semasa hidup

Dan kenangan-kenangan itu ternyata sangat beragam. Ada yang mengenang Pater Thomas sejak masa kanak-kanak di bangku sekolah dasar. Ada yang mengenalnya ketika masih remaja di SMP atau SMA. Ada pula yang datang kepadanya sebagai seorang pencari panggilan, memohon surat rekomendasi untuk masuk biara. Sementara para imam mengenangnya sebagai rekan seperjalanan dalam pelayanan Gereja. Dari semua kisah itu muncul satu gambaran yang sama: seorang imam yang hidup dekat dengan umatnya. Ia tegas dalam prinsip, sederhana dalam hidup, dan diam-diam memiliki selera humor yang sering membuat orang tersenyum.

Bagi banyak orang, Pater Thomas bukan sekadar imam paroki yang memimpin misa atau mengurus administrasi Gereja. Ia adalah sosok yang hadir dalam kehidupan sehari-hari umat: berjalan bersama mereka di jalan-jalan tanah yang panjang, duduk di rumah-rumah sederhana, mendengarkan cerita hidup yang kadang penuh kesulitan. Dalam kehadiran yang tenang itulah ia menabur sesuatu yang jauh lebih dalam daripada kata-kata sebuah teladan tentang kesetiaan melayani tanpa mencari pujian.

Buku itu akhirnya lahir dengan judul yang terasa sangat tepat: “Sang Penabur Heroik.” Namun jalan menuju penerbitannya tidak mudah. Kami hampir menyerah ketika menyadari bahwa biaya percetakan tidak kami miliki. Tetapi Tuhan sering bekerja melalui tangan-tangan sederhana. Seorang alumni SMP Ketang, Bapak Aventinus Janur dari Gencor yang tinggal di Jakarta, dengan tulus bersedia menanggung biaya percetakan. Buku itu kemudian dikirim ke berbagai tempat; Jakarta, Bekasi, dan banyak wilayah di Indonesia Timur. Hampir setiap provinsi memiliki pembacanya. Sementara di tanah Rejeng sendiri, penjualannya dipercayakan kepada Bapak Felix. Dan seperti benih yang jatuh di tanah yang subur, buku kecil itu menemukan jalannya sendiri. Ia berpindah dari tangan ke tangan, dari rumah ke rumah, dari satu kenangan ke kenangan yang lain. Di setiap halaman, orang-orang seakan kembali berjumpa dengan sosok yang pernah berjalan di antara mereka seorang misionaris yang tidak hanya menabur Sabda, tetapi juga meninggalkan jejak kasih yang terus hidup dalam ingatan banyak orang.

READ  Membangun dengan Mental atau Membangun Mental?
Jenazah Pater Thomas Krump saat disemayam di Gereja Paroki Rejeng

Tidak sampai 2 bulan, seluruh buku itu habis terjual. Ketika buku itu akhirnya sampai di tangan Pater Thomas, ia membacanya dengan rasa haru. Menurut Pak Felix, Pater beberapa kali tersenyum bahkan tertawa kecil ketika membaca kisah-kisah yang ditulis orang tentang dirinya. Ada cerita-cerita penuh humor yang bahkan membuatnya sendiri terkejut. Seolah-olah ia baru menyadari bahwa hidupnya telah menjadi bagian dari cerita banyak orang.
Barangkali saat itu ia melihat kembali perjalanan hidupnya seperti seseorang yang memandang ladang yang pernah ia garap dengan tekun. Ada jejak langkah yang dahulu terasa biasa saja, ada peristiwa kecil yang dulu mungkin terlupakan, namun kini semuanya tampak sebagai bagian dari kisah yang lebih besar. Dalam kesederhanaannya, ia mungkin tidak pernah merasa melakukan sesuatu yang luar biasa. Tetapi melalui mata orang-orang yang pernah berjalan bersamanya, hidupnya ternyata telah menjadi benih cerita yang tumbuh di banyak hati.

Sampul depan buku itu memuat sebuah foto yang sangat simbolis: Pater Thomas menunggang kuda di tengah perjalanan pastoral. Kuda itu adalah alat transportasi yang sering digunakannya untuk mengunjungi stasi-stasi yang jauh di tanah Lelak. Foto itu saya temukan secara diam-diam di kamarnya ketika saya cuti pada tahun 2017. Kemudian foto itu direproduksi kembali untuk dijadikan sampul buku. Di latar belakangnya terlihat hamparan wilayah Tonggur dari bukit Golo Karot. Mungkin saat itu Pater sedang pulang dari Stasi Pahar atau Tonggur setelah menempuh perjalanan panjang melayani umat.

Foto itu seakan menjadi lambang seluruh hidupnya: seorang misionaris yang tidak pernah berhenti berjalan. Di jalan-jalan sunyi itulah ia membawa Sabda, harapan, dan kehadiran Gereja bagi umat yang sederhana. Di atas punggung kuda, menembus angin dan kabut pegunungan, ia menapaki panggilan yang dijalaninya dengan setia sebuah perjalanan panjang yang kini dikenang sebagai jejak seorang penabur yang tak pernah lelah. Gambar itu seakan merangkum seluruh hidupnya: seorang misionaris yang terus berjalan.

Sampul belakang menampilkan sebuah gereja Paroki sederhana dengan arsitektur khas. Banyak gereja stasi yang dibangun Pater Thomas memiliki bentuk yang hampir serupa, terinspirasi dari gaya klasik Jerman. Bangunan-bangunan itu kini berdiri sebagai saksi bisu dari kerja keras seorang imam yang membangun Gereja dengan kesetiaan yang sunyi. Namun sebenarnya, karya terbesar Pater Thomas bukanlah bangunan. Karya terbesarnya adalah manusia. Di tanah Rejeng ia menabur benih iman. Ia juga menabur benih panggilan hidup religius. Paroki Ketang kemudian dikenal sebagai salah satu sumber panggilan religius terbesar di Keuskupan Ruteng. Banyak imam, bruder, suster, dan kaum awam lahir dari tanah yang pernah ia layani. Salah satu karya yang paling dikenang adalah pendirian SMPK St. Stefanus Ketang. Dari sekolah sederhana itu lahir generasi yang kemudian memberi kontribusi bagi Gereja, masyarakat, dan bangsa.

READ  Kematian dalam Sembilan Baris: Membalas Surat Yohanes Bastian Roja (YBR)

Barangkali itulah warisan paling sunyi sekaligus paling indah dari seorang misionaris: bukan sekadar bangunan yang berdiri tegak, melainkan manusia-manusia yang tumbuh dengan iman yang kuat. Seperti benih yang jatuh di tanah subur, apa yang pernah ia taburkan kini berakar dalam kehidupan banyak orang bertumbuh menjadi pelayanan, pengabdian, dan harapan baru bagi Gereja dan dunia. Kini Sang Penabur itu telah menyelesaikan perjalanannya. Tetapi seorang penabur sejati tidak pernah benar-benar pergi. Benih yang ia tabur tidak berhenti bertumbuh. Ia hidup dalam iman umat yang pernah ia layani. Ia hidup dalam panggilan mereka yang terinspirasi oleh teladannya. Ia hidup dalam gereja-gereja kecil yang berdiri di bukit-bukit Rejeng. Ia hidup dalam kenangan yang diam-diam menghangatkan hati.Terima kasih, Sang Penabur Heroik. Engkau telah menjalani semangat Serikat Sabda Allah dengan setia: menabur Sabda, menabur iman, menabur harapan di tengah umat yang sederhana.

Kini langkah kakimu telah berhenti di jalan-jalan tanah yang dahulu kau tempuh, tetapi gema perjalananmu masih terdengar dalam kehidupan banyak orang. Seperti benih yang jatuh ke dalam tanah dan diam-diam bertumbuh, demikian pula karya hidupmu akan terus berbuah dalam waktu Tuhan. Dan ketika generasi baru melangkah di tanah Rejeng, mereka mungkin tidak lagi melihat jejak kakimu namun mereka akan merasakan bahwa di tanah ini pernah berjalan seorang penabur yang menanam dengan kasih dan kesetiaan
Kini engkau telah pulang kepada Sang Tuan Ladang. Dan kami percaya:di ladang Tuhan yang abadi itu, engkau masih menabur, bukan lagi dengan langkah kaki yang letih, melainkan dengan damai yang kekal.

Selamat jalan, Sang Penabur. Benih yang kau tabur akan terus tumbuh. Dan suatu hari nanti, ketika angin pagi berhembus lembut di bukit-bukit Rejeng, ketika lonceng gereja kecil kembali berdentang memanggil umat untuk berdoa, mungkin orang-orang akan teringat bahwa di tanah ini pernah hidup seorang misionaris yang berjalan dengan sunyi tetapi menabur dengan setia. Kisahmu mungkin telah selesai dituliskan di dunia, tetapi buah dari benih yang kau tabur akan terus bercerita dari generasi ke generasi. Yogyakarta, 17 Maret 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *