Faber Est Suae Guisgue Fortunae

Dari kampung kecil Kejek, Winsensius Tala meniti jalan panjang pengabdian hingga dipercaya menjadi Sekda Manggarai Timur, membawa pesan tentang ketekunan, kerendahan hati, dan godaan kekuasaan yang harus dijaga.

Kanis Lina Bana (dokpri)

oleh: Kanis Lina Bana

(Catatan kaki untuk Winsesius Tala,S.Pd. M.Pd)

Siapakah yang mengetahui butir emas dari tanah Kejek, Desa Benteng Pau, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur? Lebih ekstrem, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Kejek?” (Bdk Yoh. 1:46).

Pertanyaan liar dan gila ini, bisa saja melingkar isi kepala warga Elar khususnya dan warga Manggarai Timur umumnya. Sebab diakui atau tidak, boleh jadi, hanya segelintir orang yang mengenal nama Kejek, kampung kecil udik dan kampungan itu
Namun di hari, Sabtu (25/7/2026) lalu di sudut-sudut kampung Kejek dan sekitarnya, undangan serta sejumlah ASN yang sering “kepung” tanah Lehong harus membuang langkah menuju kampung kecil itu. Bukan untuk menelisik seperti apa Kampung Kejek. Bukan pula untuk “mengagungkan” sang mutiara dari kampung itu. Semua yang datang dan hadir itu sama-sama untuk menyatakan syukur atas anugerah istimewa yang diperoleh seorang putra Kejek bernama, Winsensius Tala, S.Pd, M.Pd. Tokoh muda potensial, energik yang mendapat tugas sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Manggarai Timur.

Terlepas dari jabatan puncak karir sebagai ASN, di hari itu juga seperti sedang memproklamasikan bahwa Kejek, bukan sekadar nama. Tidak sebatas menunjukkan identitas suatu wilayah. Melainkan mutiara yang turut menghadirkan energi baru bagi tanah Manggarai Timur.

Dari sekian banyak mutiara yang masih “terkubur”, satu di antaranya menguap ke pelataran alam. Ia hadir dalam diri dan kediriannya. Ia ada bukan pelengkap, melainkan memberi sisi lain untuk kemajuan tanah asal di bumi Lawelujang ini.

Winsesius Tala, memulai karir ASN dari bawah. Sebagai guru di Seminari Pius XII Kisol. Selanjutnya kepak sayapnya melebar sebagai kepala sekolah. Tak berhenti di situ, jejak abdinya melangkah lebih jauh dalam jajaran birokrasi sebagai kepala bidang pendidikan menengah di Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO) Manggarai Timur.

READ  Bank NTT Perkuat Kemitraan dengan GKS, Salurkan KUR untuk Dorong Kemandirian Ekonomi Jemaat

Titian kecil yang dirintis itu menjadi jembatan untuk melewati tahap demi tahap butir pelayanannya. Hingga dipercayakan menjadi Sekretaris Dinas PPO dan Kadis PPO Matim. Jalan panjang yang dimulainya dan amal pelayanan maksimal yang ditunjukkannya menjadikannya bernas hingga pada saat ini bertengger di “kursi empuk nan panas” yang dirindukan jajaran birokrasi, Sekda Manggarai Timur.

Perjalanan karir nan panjang ini dilewati Vinsen Tala-demikian sapaan akrabnya seperti menggenapi wasiat Appius Claudius Caecus- seorang politik Romawi Kuno. “Setiap orang adalah perancang atau pembuat nasibnya sendiri”. “Faber est suae guisgue fortunae,” katanya.

Lagu Nostalgia

Perjumpaan saya dengan putera Kejek yang ganteng ini, berlangsung tak sengaja. Semuanya berlatar selera yang sama. Di Aula SMPK Wae Mokel 18 tahun lalu, kami mendendangkan lagu nostalgia SMA dari album Blacksweet. Inilah titik awal saya mengenalnya. Selanjutnya saya menyusuri butir abdinya di Seminari Kisol. Titian serabut ini membias ketika sama-sama mendaratkan langkah di Lehong.

Berada di Lehong, saya sebagai penulis lokal yang sedang belajar menulis, dan Vinsen Tala sebagai ASN di jajaran birokrasi. Dalam jumpa itu diam-diam saya menjadikannya sebagai nara sumber berita dan sumber inspirasi dalam mengulik kata menjadi kalimat. Dan itu berlangsung hingga saat ini. Bahkan tukar gagas, impian, dan rajutan harap untuk tanah asal hingga sapaan Opa untuk saya menjadi jalan damai merekatkan persahabatan. Persahabatan dalam peran sama-sama membangun rumah idaman bersama Manggarai Timur, meski dalam lorong berbeda.

READ  Menafsir Pertanyaan Etis Benny K. Harman soal Vonis Mati Sambo

Jika mengurut ke belakang, boleh jadi dalam ion-ion isi kepala dan kedalaman refleksinya, Vinsen Tala, tidak pernah membayangkan kelak mendapat jabatan Sekda Manggarai Timur. Yang selalu dia nyatakan adalah butir amal yang tak bersyarat. Mengabdi tulus dengan totalitas tinggi. Pengabdian nan tulus tersebut menghantarnya mendapat imbalan sepadan. Persis seperti yang diingatkan pesan suci “Setia terhadap perkara kecil, kepadanya dipercayakan perkara yang lebih besar” (Bdk. Luk 16: 10).

Virus SKS dan “Ampika”

Ada tiga godaan bagi semua pejabat; uang, kuasa, dan perempuan. Frasa ini sering diingatkan berulang oleh pengamat sosial, aktivis, pun kaum peduli bagi pemangku kebijakan.

Hemat saya awasan tersebut lahir dari getaran budi dan emosional jiwa seseorang agar pejabat selalu kembali pulang pada esensi jabatannya. Dalam nada yang sama saya garis bawahi untuk sahabatku, saudaraku Sekda Manggarai Timur, Winsensius Tala, S.Pd, M.Pd. Mengulang awasan publik tersebut, izinkan saya tambahkan ini; waspadalah virus “SKS” dan “Ampika”.

SKS-saudara, kenalan, dan sahabat. Ampika-anak menantu, ponaan, ipar, kakak-adik. Sebab sadar atau tidak jabatan Sekda selalu tergoda dengan virus itu. Virus ini bakal tertular ketika berurusan dengan jenjang karir ASN dan urusan strategis lainnya.

Karena itu tetaplah menjadi Vinsen Tala seperti yang saya kenal sedari awal hingga kini. Tetaplah low profile. Tetaplah merawat kebajikan amal bagi anak-anak yang kurang beruntung seperti yang sudah-sudah.

Maaf bila berlebihan. Tetapi awasan ini lahir dari kejernihan, kepekaan, dan kedalaman budi dan nurani. Agar selama menahkodai dapur birokrasi Manggarai Timur tidak tergores selera murahan, melainkan tetap tegak kokoh sesuai amanat tugas dan perannya.

READ  Bank NTT Siapkan KUR untuk Pekerja Migran, Dorong SDM NTT Naik Kelas

Sebab di satu sisi jabatan sekda itu strategis, di sisi lain, banyak power alias polo wera (idiom bahasa Rongga) menghantui. Tak pelak, banyak pejabat terkulai dalam arus salera murahan. Bukan karena buah dari kebaikan pelayanan, melainkan salah arah hingga terkapar di lapak penjara.

Karena itu, sebagai sahabat saya terpanggil untuk mengingatkan Bapak Sekda Manggarai Timur, Winsensius Tala. Tetaplah menjadi orang baik. Teruslah berbuat baik. Jika beruntung Anda akan mendapatkan orang baik. Jika tidak, orang-orang baiklah yang mendatangi Anda. Ingat lagu kesayangan kita karangan, Ebiet G Ade bertajuk, “Bila Kita Ikhlas”. Saya kutip di sini refrainnya. Tugas kita masih sangat banyak. Menyelesaikan hidup dengan benar. Tak perlu merampas yang bukan bagian kita. Ikhlas saja. Bila kita pasrah tumbuh rasa damai. Dalam damai kita bertemu bahagia.

Bapak Sekda terkasih, maafkan jika pesan pendek ini terlalu keras. Maafkan juga jika di dua momentum penting jejak hidupmu, saya tak sempat hadir merayakan bersama. Hal itu bukan sengaja, tetapi karena tanggung jawab saya sebagai anak sulung yang tidak bisa diwakili.

Meski demikian, saya selalu mendukungmu. Tulisan pendek ini menjadi intensi bahwa doa tetap saya hunjukkan. Saya berharap di hari-hari mendatang tetaplah menjadi sahabat seperti di awal yang saya kenal. Tetaplah rendah hati. Sukses selalu dalam tugas pelayananmu. (*)

Penulis sahabat lama, tinggal di Kampung Lekolembo-Mausui.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *