Tangan yang Seharusnya Menjaga

Ilustrasi (pixabay)

Oleh: Arsen Juman (Mahasiswa Teknik Sipil Unwira Kupang).

Pertama, maaf
untuk segala yang tak sempat kau ucapkan,
karena aku lebih dulu membuatmu lelah.

Aku menulis ini bukan untuk memintamu kembali.
Aku tahu, ada batas
yang sekali retak tak akan benar-benar utuh lagi.
Aku hanya ingin jujur,
meski kejujuran ini datang
setelah semuanya terlambat.

Kamu pernah menjadi rumah,
tempat aku pulang tanpa ragu,
tempat segala gaduh di kepalaku
tiba-tiba menemukan tenang.
Dan anehnya,
justru di rumah itu
aku membuka pintu untuk hal lain
yang tak seharusnya ada.

Tanganku masih menggenggammu,
masih mengucap sayang seperti biasa,
namun ada bagian dari diriku
yang diam-diam berjalan ke arah lain
arah yang tak pernah kau minta,
arah yang seharusnya tak pernah kupilih.

READ  Aku Terkenang Flores: Laksamana Tasoku Sato

Aku tahu kapan semuanya mulai berubah:
bukan saat kamu menangis,
bukan saat kamu marah,
melainkan saat kamu mulai diam.

Diam yang panjang,
yang tak lagi menuntut penjelasan.
Diam yang seolah berkata:
“aku lelah memahami seseorang
yang tak lagi jujur.”

Aku melihat itu.
Aku tahu kamu terluka,
aku tahu ada yang patah di dalam dirimu.
Namun aku tetap melangkah,
seolah semuanya bisa ditunda,
seolah aku tidak sedang menghancurkan
hal paling berharga yang pernah kumiliki.

Kamu tidak pergi dengan amarah.
Kamu pergi dengan kelelahan.
Dan itu jauh lebih menyakitkan.

Sebab marah masih menyisakan harapan,
sementara lelah
adalah tanda bahwa hati telah berhenti
meminta untuk diperjuangkan.

Kini aku sering mengingatmu
bukan hanya wajahmu,
tetapi caramu percaya, caramu bertahan,
caramu tetap tinggal
bahkan saat aku tak lagi pantas ditemani.

READ  “Toe Ma Celan” di Rumah Jabatan Gubernur NTT

Di situlah aku kalah:
bukan oleh orang lain,
bukan oleh keadaan,
melainkan oleh diriku sendiri
yang tak mampu menjaga apa yang sudah ada.

Seandainya waktu bisa dilipat,
aku ingin kembali ke saat-saat kecil itu
saat aku masih bisa memilih dengan benar,
saat aku belum menukar ketulusanmu
dengan sesuatu yang sementara.

Namun waktu tak pernah mau mengulang,
dan penyesalan selalu datang
setelah semuanya selesai.

Kini kamu telah jauh,
mungkin telah menemukan tenang
yang dulu gagal kuberikan.
Dan jika itu benar,
aku tak akan mengganggu lagi.

Temukan cinta
yang tidak seperti aku
yang tidak membagi hatinya,
yang tidak membuatmu meragukan dirimu sendiri,
yang tetap tinggal
meski dunia menawarkan banyak pilihan.

Kamu pantas untuk itu.
Lebih dari pantas.

READ  Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Unwira Siap Mengabdi melalui Program MBKM

Dan tentang aku,
biarlah aku belajar dari kehilangan ini
kehilangan yang tak datang tiba-tiba,
melainkan tumbuh perlahan
dari kesalahan yang terus kuulang.

Arsen Juman

Aku tidak ditinggalkan.
Aku hanya menua
apa yang sejak awal
aku tanam sendiri.

Dan kamu—
kamu tidak benar-benar pergi.
Aku yang, dengan caraku sendiri,
menghapus alasanmu untuk tetap tinggal.

Kini aku mengerti,
tidak semua yang hancur
diciptakan oleh waktu.
Ada yang sengaja dilukai
oleh tangan yang seharusnya menjaga.

Dan aku
adalah tangan itu.

Makna Singkat Puisi:
Puisi ini merefleksikan penyesalan mendalam atas runtuhnya sebuah hubungan akibat kesalahan diri sendiri. Ia menyoroti ketidakjujuran, pengkhianatan emosional, serta kegagalan menjaga kepercayaan sebagai inti kehancuran, bukan karena keadaan atau orang lain, melainkan karena pilihan yang keliru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *