Selamat Jalan Mawar Cinta

Pater Thomas Krum SVD semasa hidup

Oleh: Br Flavianus MTB

Saya sering merasa tidak mudah menemukan kata-kata yang cukup untuk melukiskan sosok pribadi yang begitu dalam pengaruhnya dalam hidup seseorang. Demikian pula ketika saya mencoba mengenang Pater Thomas Krump SVD, yang telah berpulang pada Minggu, 15 Maret 2026. Kepergian beliau meninggalkan kesunyian batin yang sulit diungkapkan, sekaligus membangkitkan kembali kenangan-kenangan yang selama ini tersimpan dalam ruang ingatan. Dalam suasana hati yang diliputi duka, pengalaman bersama beliau hadir kembali seolah menuntut untuk diceritakan bukan sekadar sebagai kenangan, melainkan sebagai ungkapan syukur atas anugerah perjumpaan yang pernah Tuhan izinkan terjadi dalam hidup saya.

Tulisan singkat ini tidak dimaksudkan sebagai biografi lengkap tentang dirinya. Ia hanyalah sebuah kesaksian personal, sebuah refleksi tentang sosok seorang misionaris yang jejak hidupnya telah membentuk perjalanan batin banyak orang. Bagi saya, tiga tahun hidup bersama beliau (1989-1992) bukan sekadar episode masa lalu, tetapi sebuah sekolah kehidupan yang membentuk cara pandang saya terhadap iman, pelayanan, dan kemanusiaan.

Teriakan Anak-anak di Persawahan

Pada awal tahun 1980-an, setiap kali beliau mengunjungi Stasi Pahar-Paroki Rejeng, terdengar teriakan riang anak-anak dari arah persawahan Ajang: “E… tuang eaaa… e tuang eaaa…!”(Terjemahan bebas: Sang tamu agung datang, songsonglah dia!) Teriakan itu bukan sekadar sambutan anak-anak desa kepada seorang imam. Ia mencerminkan bentuk penerimaan komunitas lokal terhadap seorang misionaris yang telah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Anak-anak berlari menyambutnya, mengiringi langkahnya hingga ke pastoran. Senyumnya yang hangat selalu membuka jarak antara seorang imam asing dengan dunia sederhana anak-anak kampung. Beliau sering menanggapi kegembiraan kami dengan gaya bercanda yang khas:“Kamu pulang hemm… mandi hemm… neka ngaok hemm…”

Namun justru dalam kesederhanaan relasi seperti itulah tumbuh kedekatan yang tulus. Dalam ingatan saya, sejak kelas IV SD mulai muncul ketertarikan untuk menjadi misdinar. Bukan sekadar rasa ingin tahu, melainkan kegembiraan batin karena dapat berada dekat dengan seseorang yang menghadirkan wajah iman secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman sederhana itu perlahan membentuk kesadaran religius yang lebih dalam. Kehadiran beliau tidak hanya memperkenalkan kami pada ritus dan tata liturgi Gereja, tetapi juga menghadirkan pengalaman iman yang hidup di tengah keseharian kampung. Dalam perspektif formasi iman anak, figur seperti ini memiliki peranan penting sebagai “mediator simbolik” yang menjembatani dunia religius dengan pengalaman konkret anak-anak. Tanpa khotbah panjang atau pengajaran yang formal, kehadirannya yang akrab, humor yang ringan, dan perhatian yang tulus telah menanamkan benih panggilan serta rasa memiliki terhadap kehidupan Gereja sejak usia dini. Dari pengalaman-pengalaman kecil itulah iman tidak hanya dipahami sebagai ajaran, melainkan sebagai perjumpaan yang menghidupkan.

READ  Eulogi: Perginya Sang Pencerah dari Hungaria

Kitab Suci yang Jatuh dari Mimbar

Peristiwa yang tampaknya sederhana justru menjadi titik balik hidup saya. Ketika diminta membacakan Sabda Tuhan dalam misa sekolah, salah satu lembar Kitab Suci yang saya pegang jatuh dari mimbar. Dalam rasa gugup saya mengambilnya kembali dan melanjutkan bacaan dengan tangan gemetar. Tanpa saya sadari, peristiwa kecil itu menarik perhatian Pater Thomas. Setelah misa ia mencari tahu siapa saya, dari keluarga mana saya berasal. Beberapa waktu kemudian ia meminta saya tinggal di pastoran Ketang Rejeng untuk membantu pekerjaan pastoral. Bagi keluarga kami yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, tawaran itu bukan sekadar kesempatan bekerja, tetapi sebuah jalan harapan. Ayah saya berkata dengan mata berkaca-kaca: “Nak, ini rahmat Tuhan yang datang melalui Pater Thomas. Terimalah dengan syukur.” Dari sebuah lembar Kitab Suci yang jatuh dari mimbar, Tuhan seolah membuka jalan baru dalam hidup saya.

Br Flavianus (kanan) pose bersama Pater Thomas Krum

Sejak saat itu kehidupan saya mulai memasuki ruang formasi yang baru. Tinggal di pastoran bukan hanya berarti membantu pekerjaan sehari-hari, tetapi juga belajar melihat dari dekat bagaimana seorang imam menghidupi panggilannya. Dari cara beliau berdoa, melayani umat, hingga kesederhanaan hidupnya, saya perlahan memahami bahwa panggilan iman tidak lahir dari peristiwa-peristiwa besar semata, melainkan dari kesetiaan dalam hal-hal kecil yang dijalani setiap hari. Dalam refleksi iman saya kemudian hari, peristiwa jatuhnya lembar Kitab Suci itu tidak lagi saya lihat sebagai kesalahan seorang anak yang gugup, melainkan sebagai momen simbolik di mana Sabda Tuhan justru “menjatuhkan diri” ke dalam perjalanan hidup saya, membuka arah baru yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.

Sekolah Kehidupan di Pastoran

Hidup di pastoran menjadi pengalaman yang sangat kaya bagi seorang remaja desa seperti saya. Rutinitas harian dimulai dengan membunyikan lonceng gereja, menyiapkan perlengkapan misa, merawat kuda, hingga menemani perjalanan pastoral ke berbagai stasi di Paroki Rejeng. Dalam perjalanan itu saya belajar bahwa pelayanan misioner bukan sekadar kegiatan religius, melainkan perjumpaan manusiawi dengan berbagai wajah kehidupan umat. Namun yang paling berkesan adalah cara beliau mendidik melalui hal-hal sederhana. Ia mengajarkan tata krama di meja makan, cara berbicara dengan sopan, bahkan cara membuka dan menutup pintu dengan benar. Pendidikan karakter seperti ini tidak saya temukan dalam ruang kelas formal. Ia mengajarkan etika kehidupan melalui praktik sehari-hari.

READ  Richard Sontani: Labuan Bajo Perlu Membangun Kawasan Penyangga

Pada suatu pagi saya berdiri memandang siswa-siswa yang sedang berbaris di halaman SMP Santo Stefanus Ketang sembari menyiram bunga mawar dekat kamar beliau. Dalam hati saya berkata lirih: Andaikan aku bisa bersekolah lagi. Tanpa saya sadari, beliau memperhatikan pergumulan batin saya.Dengan nada sederhana ia bertanya: “Mau sekolah hemm?”Pertanyaan itu mengubah arah hidup saya. Ia mendaftarkan saya kembali ke sekolah dan menanggung kebutuhan pendidikan saya. Sejak saat itu saya kembali duduk di bangku sekolah, sementara setiap malam ia dengan sabar mendengarkan cerita saya tentang kehidupan di kelas.

Pendampingan seperti itu membuat saya merasakan bahwa pendidikan bukan sekadar proses memperoleh pengetahuan, melainkan juga proses dibentuk sebagai manusia yang utuh. Di pastoran saya belajar bahwa seorang pendidik sejati tidak hanya mengajar melalui kata-kata, tetapi terutama melalui perhatian, kesabaran, dan keteladanan hidup. Pater Thomas tidak pernah menyampaikan ceramah panjang tentang masa depan, namun sikapnya yang penuh kepedulian menanamkan keyakinan dalam diri saya bahwa setiap anak, betapapun sederhana latar belakangnya, memiliki kesempatan untuk bertumbuh dan melangkah lebih jauh. Dari pengalaman itulah saya mulai memahami bahwa kasih yang diwujudkan dalam tindakan nyata sering kali lebih kuat daripada nasihat yang panjang.

Guru Kehidupan

Bagi saya, Pater Thomas bukan hanya seorang imam, tetapi seorang guru kehidupan. Ia tegas dalam prinsip, tetapi tidak menyimpan kemarahan. Ia bisa menegur dengan keras, tetapi segera melupakan kesalahan orang lain. Dalam konteks budaya kita yang kadang mudah tersinggung dan menyimpan perasaan, sikap itu merupakan teladan kematangan batin yang sangat berharga. Banyak nilai yang saya pelajari darinya tentang disiplin, tanggung jawab, dan kesederhanaan hidup. Pengalaman itu kemudian menjadi bagian dari cara saya membina para siswa ketika saya sendiri menjalani tugas sebagai guru dan pembina asrama. Dengan kata lain, warisan yang ia tinggalkan bukan hanya kenangan, tetapi juga sebuah spiritualitas hidup yang terus diwariskan melalui tindakan.

Lebih dari itu, saya belajar bahwa pendidikan sejati tidak selalu lahir dari ruang kelas atau dari teori-teori yang tertulis dalam buku. Pendidikan sejati sering kali tumbuh dari teladan hidup yang sederhana namun konsisten. Dalam diri Pater Thomas saya melihat bagaimana nilai-nilai iman diwujudkan dalam tindakan konkret: dalam cara menghargai orang lain, dalam kesabaran menghadapi keterbatasan manusia, dan dalam keberanian untuk tetap setia pada panggilan pelayanan. Nilai-nilai itulah yang perlahan membentuk cara pandang saya terhadap hidup dan pelayanan.

READ  Melki Tak Sekadar Omon-omon, Satu Hal Ini Bukti Kuatnya Jaringan ke Pusat

Kini ketika saya sendiri berdiri di hadapan para siswa dan generasi muda, saya sering menyadari bahwa sebagian dari cara saya berbicara, menegur, bahkan mendengarkan mereka, tidak lain adalah gema dari didikan beliau dahulu. Seolah-olah melalui kehidupan saya, pelajaran yang pernah ia tanamkan terus berlanjut kepada orang lain. Dengan cara itulah, saya percaya bahwa seorang guru kehidupan tidak pernah benar-benar pergi; ia tetap hidup dalam setiap nilai yang diwariskan dan dalam setiap hati yang pernah disentuh oleh kasih dan teladannya.

Mawar yang Tetap Harum

Dalam memotret Pater Thomas yang lebih luas, kehadiranya di tengah umat, seperti di Paroki Rejeng bukan hanya menghadirkan pelayanan sakramental, tetapi juga membangun jembatan kebudayaan antara dunia lokal dan spiritualitas universal Gereja. Ia tidak sekadar berkarya sebagai seorang imam yang datang dari negeri jauh, tetapi perlahan menjadi bagian dari ritme kehidupan masyarakat setempat. Ia memahami bahasa, menyelami kebiasaan, dan berjalan bersama umat dalam kesederhanaan hidup mereka. Di situlah letak kekuatan misi yang sejati: bukan menempatkan diri di atas komunitas, tetapi hadir sebagai saudara yang berjalan bersama mereka dalam suka dan duka kehidupan sehari-hari.

Bagi saya pribadi, kenangan bersama beliau tidak pernah berhenti sebagai nostalgia masa lalu, melainkan terus hidup sebagai energi spiritual dalam perjalanan panggilan saya hingga hari ini. Setiap kali saya berhadapan dengan para siswa, para remaja, dan orang-orang yang saya layani, saya sering teringat pada cara beliau mendidik dengan kesabaran, ketegasan, dan kasih yang sederhana. Dalam arti tertentu, beliau telah menanam benih yang terus bertumbuh melampaui zamannya. Maka ketika kini saya mengucapkan selamat jalan kepada Sang Mawar Cinta, saya percaya bahwa harum hidupnya tidak akan pernah hilang. Ia akan terus hidup dalam cerita, dalam kenangan, dan terutama dalam setiap tindakan kasih yang lahir dari orang-orang yang pernah disentuh oleh hidupnya.

Kini beliau telah berpulang. Namun bagi saya, jejak hidupnya tetap hadir sebagai inspirasi yang tidak pernah pudar. Apa yang dahulu terasa berat selama hidup bersamanya kini berubah menjadi kemanisan yang penuh makna. Melalui dirinya saya belajar bahwa kasih Tuhan sering kali hadir dalam wajah manusia yang sederhana.Selamat jalan, Sang Mawar Cinta. Harum namamu tetap semerbak dalam ingatan kami. Semoga Tuhan yang telah engkau layani sepanjang hidupmu menerima engkau dalam kedamaian abadi. Sampai jumpa di istana keabadian.
Yogyakarta, 15 Maret 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *