Memelihara Anjing Juga Berarti Memikul Tanggung Jawab

Kasus gigitan anjing dan ancaman rabies di NTT menjadi pengingat bahwa memelihara hewan bukan hanya soal kasih sayang, tetapi juga tanggung jawab menjaga kesehatan, keselamatan, dan keamanan masyarakat.

Marselus Natar

Oleh: Marselus Natar

Meningkatnya kasus gigitan anjing yang diduga terinfeksi rabies di Nusa Tenggara Timur merupakan kabar yang semestinya membuat kita semua berhenti sejenak untuk merenung. Di berbagai daerah, korban terus berjatuhan. Ada yang harus menjalani perawatan medis, ada yang terpaksa menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan vaksin anti rabies, dan ada pula yang hidup berhari-hari dalam ketakutan menunggu kepastian apakah dirinya tertular atau tidak.

Di tengah situasi ini, masyarakat sering kali menuntut pemerintah untuk bertindak lebih cepat dan lebih tegas. Tuntutan tersebut tentu wajar. Negara memang memiliki kewajiban untuk melindungi warganya dari ancaman penyakit yang membahayakan keselamatan jiwa. Namun, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian: rabies tidak akan pernah bisa dikendalikan jika kesadaran masyarakat sebagai pemilik anjing masih rendah.

Sebelum menyalahkan pemerintah, mari kita mengajukan dua pertanyaan sederhana kepada diri kita sendiri.

Pertama, bagaimana jika anjing yang menggigit seseorang itu adalah anjing peliharaan kita?

Bayangkan seekor anjing yang setiap hari kita beri makan, kita pelihara, dan kita banggakan sebagai penjaga rumah tiba-tiba menyerang seorang anak yang sedang bermain atau berjalan menuju sekolah. Anak itu terluka. Orang tuanya panik. Kita juga pun, tentu panik. Warga, misalnya berdatangan. Nama kita disebut sebagai pemilik anjing tersebut.

Dalam situasi seperti itu, apakah kita bisa dengan mudah mengatakan bahwa itu hanyalah kesalahan seekor hewan?

Tentu tidak.

Kita mungkin tidak memerintahkan anjing tersebut untuk menggigit orang lain. Namun sebagai pemilik, kita tetap memiliki tanggung jawab moral dan sosial atas segala risiko yang ditimbulkannya. Memelihara anjing bukan hanya soal memberi makan dan menyediakan tempat berteduh. Memelihara anjing berarti menerima konsekuensi dan tanggung jawab atas keberadaan hewan itu di tengah masyarakat.

READ  Tiga Tekanan terhadap Kepemimpinan Melki Laka Lena

Sekarang mari kita balik pertanyaannya.

Bagaimana jika yang digigit adalah kita sendiri?

Bagaimana jika anak kita yang menjadi korban? Atau saudara kita? Atau tetangga kita?

Bayangkan kita sedang berjalan pulang dari kebun atau dari tempat kerja, lalu seekor anjing milik orang lain datang dan menggigit tanpa alasan yang jelas. Dalam hitungan detik, rasa sakit bercampur ketakutan menyeruak. Kita tidak hanya memikirkan luka yang terlihat di tubuh, tetapi juga ancaman yang tidak terlihat: virus rabies yang bisa berujung pada kematian.

Saat itu, kita pasti akan bertanya mengapa pemilik anjing membiarkan hewannya berkeliaran. Mengapa anjing tersebut tidak divaksin. Mengapa keselamatan orang lain tidak menjadi perhatian.

Pertanyaan-pertanyaan itu sesungguhnya perlu dijawab sebelum tragedi terjadi, bukan setelah ada korban.

Bagi kita orang NTT, memelihara anjing bukanlah hal yang asing. Dalam banyak komunitas, anjing memiliki fungsi penting sebagai penjaga rumah, teman berburu, bahkan bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Kehadiran anjing telah menjadi bagian dari keseharian yang sulit dipisahkan dari budaya kita.

Namun budaya memelihara anjing harus berjalan seiring dengan budaya bertanggung jawab.

Masalahnya, tidak sedikit masyarakat yang memelihara anjing dalam jumlah banyak tanpa kemampuan yang memadai untuk merawatnya. Ada rumah tangga yang memiliki lima hingga belasan ekor anjing. Sebagian besar dibiarkan berkeliaran bebas di jalan, masuk ke halaman rumah orang lain, bahkan berkumpul di tempat-tempat umum.

Ketika jumlah anjing yang dipelihara melebihi kemampuan pemilik untuk mengawasi dan merawatnya, risiko penyebaran rabies pun semakin besar.

Kondisi ini diperparah oleh rendahnya kesadaran vaksinasi. Program vaksinasi yang dilakukan pemerintah sering kali belum mendapatkan dukungan optimal dari masyarakat. Ada pemilik yang tidak membawa anjingnya untuk divaksin. Ada yang menganggap vaksinasi tidak penting karena anjingnya terlihat sehat. Ada pula yang menganggap rabies sebagai persoalan yang jauh dan tidak mungkin terjadi pada dirinya.

READ  Buku Asa dan Rasa, Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Melki–Johny Dilaunching

Padahal rabies tidak mengenal rasa optimistis manusia.

Penyakit ini tidak memilih korban berdasarkan status sosial, tingkat pendidikan, ataupun lokasi tempat tinggal. Ketika virus rabies sudah menyerang sistem saraf dan gejala klinis muncul, peluang untuk bertahan hidup hampir tidak ada. Karena itu, pencegahan menjadi satu satunya senjata paling efektif.

Vaksinasi anjing bukan sekadar urusan kesehatan hewan. Vaksinasi adalah bentuk perlindungan terhadap manusia. Setiap anjing yang divaksin berarti satu potensi sumber penularan yang berhasil dicegah. Sebaliknya, setiap anjing yang tidak divaksin merupakan risiko yang sewaktu-waktu dapat mengancam keselamatan orang lain.

Selain vaksinasi, masyarakat juga perlu mulai berpikir realistis mengenai jumlah hewan peliharaan yang dimiliki.

Tidak ada keharusan untuk memelihara banyak anjing sekaligus. Jika seseorang hanya mampu merawat dua atau tiga ekor dengan baik, maka itulah jumlah yang ideal baginya. Memelihara sedikit anjing yang sehat, terawat, dan divaksin jauh lebih bertanggung jawab daripada memelihara banyak anjing yang hidup tanpa pengawasan.

Dalam konteks ini, mengurangi jumlah anjing peliharaan bukan berarti mengurangi kecintaan terhadap hewan. Justru sebaliknya, hal itu menunjukkan bentuk kepedulian yang lebih dewasa. Hewan yang dipelihara dalam jumlah sesuai kemampuan akan mendapatkan perhatian yang lebih baik, sementara masyarakat sekitar pun merasa lebih aman.

Sudah saatnya kita meninggalkan pola pikir bahwa setelah memberi makan seekor anjing, tugas kita sebagai pemilik telah selesai. Tanggung jawab terhadap anjing tidak berhenti di tempat makan dan kandang. Tanggung jawab itu mencakup kesehatan hewan, perilakunya, pergerakannya, serta dampaknya terhadap lingkungan sekitar.

READ  Sampah Jadi Tiket Baca, Rumah Literasi di Kupang Tanamkan Karakter Anak Desa

Memelihara anjing sesungguhnya adalah sebuah kontrak moral dengan masyarakat. Kita menikmati manfaat kehadiran hewan tersebut sebagai penjaga rumah atau teman setia, tetapi pada saat yang sama kita berkewajiban memastikan bahwa keberadaannya tidak menjadi ancaman bagi orang lain.

Meningkatnya kasus gigitan anjing di NTT harus dibaca sebagai peringatan bahwa masih ada pekerjaan besar yang harus dilakukan bersama. Pemerintah perlu memperkuat vaksinasi dan edukasi. Aparat desa perlu membantu pengawasan. Tenaga kesehatan perlu terus melakukan sosialisasi. Namun yang paling menentukan tetaplah kesadaran masyarakat sebagai pemilik anjing.

Sebab rabies tidak lahir dari ruang rapat pemerintah. Rabies menyebar melalui hewan yang hidup di sekitar kita. Dan pengendalian rabies tidak dimulai dari kantor-kantor pemerintahan, melainkan dari halaman rumah masing-masing.

Pada akhirnya, masyarakat yang bertanggung jawab bukanlah masyarakat yang sekadar menyukai hewan peliharaan, melainkan masyarakat yang memahami konsekuensi dari memeliharanya.

Karena itu, sebelum memutuskan untuk memelihara seekor anjing, setiap orang perlu bertanya kepada dirinya sendiri: apakah saya siap bertanggung jawab?

Sebab memelihara anjing bukan hanya tentang hak untuk memiliki, melainkan juga kewajiban untuk menjaga. Dan dalam situasi ancaman rabies yang terus menghantui NTT hari ini, memelihara anjing juga berarti memikul tanggung jawab. Bagaimana dapat memikul tanggung jawab jika anjing tak dikenal pemiliknya? Anjing liar dari daerah atau wilayah lain yang masuk ke wilayah kita dan menggigit orang? Ya, yang namanya hewan peliharaan manusia tentu saja punya pemiliknya. Karena itu, yang dibutuhkan adalah kesadaran kolektif kita, terutama yang saat ini sedang memelihara anjing. Beri dia vaksin. Kurangi jumlahnya. Ingat, memelihara anjing sesungguhnya adalah sebuah kontrak moral dengan masyarakat lain di sekitar kita!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *