Melawan Stigma, Meraih Prestasi:Kisah Generasi Muda NTT di Kota Gudeg

Yeriski Kawawu Ndama Yelu

Catatan Valensius Ngardi
(Mahasiswa Peneliti di Nara Kupu Yogyakarta)

Merantau bagi banyak generasi muda dari Nusa Tenggara Timur bukan sekadar perpindahan geografis. Ia adalah perjalanan batin: meninggalkan rumah, keluarga, dan kenyamanan demi masa depan yang belum pasti. Dari kampung-kampung kecil di Flores, Sumba, Timor, Alor, hingga Rote, ribuan anak muda melangkah menuju kota-kota besar seperti Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, Kalimantan, Papua, bahkan Sumatera, membawa harapan sederhana: memperoleh pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan yang lebih baik. Namun jalan menuju harapan itu tidak selalu terbuka dengan ramah.

Di tengah masyarakat urban yang kompleks, sebagian anak muda NTT masih harus menghadapi stigma sosial yang telah lama melekat pada identitas mereka. Mereka kerap dipandang keras, emosional, atau identik dengan konflik hanya karena berasal dari Indonesia Timur. Bahkan tidak sedikit yang mengalami penolakan ketika mencari tempat tinggal atau pekerjaan karena dianggap “anak Timur” yang berpotensi menimbulkan masalah.

Dalam situasi seperti ini, identitas asal daerah sering kali mendahului pengenalan terhadap kepribadian seseorang secara utuh. Seseorang belum dikenal karena karakter, kemampuan, atau integritasnya, tetapi terlebih dahulu dinilai berdasarkan stereotip kolektif yang diwariskan secara sosialPadahal, pandangan semacam itu sesungguhnya terlalu sederhana untuk memahami realitas manusia yang begitu kompleks. Sejumlah penelitian akademik menunjukkan bahwa pelabelan sosial terhadap kelompok tertentu sering kali lahir dari generalisasi yang tidak adil. Harimurti (2017), misalnya, dalam kajiannya tentang premanisme dan fantasi kepahlawanan, mengkritik cara masyarakat memberi label negatif terhadap kelompok tertentu, termasuk mahasiswa asal NTT. Menurutnya, stigma muncul karena masyarakat cenderung melihat sebagian kecil kasus lalu menganggapnya sebagai gambaran keseluruhan identitas kelompok. Pandangan serupa juga ditemukan dalam penelitian Ave (2018) mengenai konflik mahasiswa NTT dan warga Tambakbayan, Babarsari, di Yogyakarta. Kajian itu menegaskan bahwa tindakan kekerasan tidak dapat diidentikkan dengan identitas budaya tertentu, sebab perilaku negatif dapat muncul dari siapa saja, tanpa memandang asal daerah, etnis, ataupun latar sosial.

Di sinilah pentingnya melihat generasi muda NTT secara lebih manusiawi dan objektif. Sebab di balik berbagai stigma itu, ada begitu banyak kisah perjuangan yang jarang terlihat. Ada anak-anak muda yang datang dari keluarga petani, nelayan, dan buruh sederhana; menempuh perjalanan jauh dengan biaya terbatas; hidup hemat di tanah rantau; bekerja sambil kuliah; dan berusaha bertahan di tengah tekanan ekonomi maupun sosial. Mereka bukan sekadar perantau, tetapi pejuang kehidupan.

Pengalaman diskriminasi tentu meninggalkan luka batin. Bayangkan seorang mahasiswa yang datang dengan mimpi untuk belajar, tetapi harus menghadapi tatapan curiga hanya karena warna kulit, aksen bicara, atau penampilan fisiknya berbeda. Ada yang ditolak saat mencari kos. Ada yang dipandang rendah di lingkungan kerja. Ada pula yang merasa harus bekerja dua kali lebih keras hanya untuk memperoleh pengakuan yang sama.

READ  Pengurus KONI NTT Resmi Dilantik, Targetkan 10 Besar PON dan Kesiapan Jadi Tuan Rumah

Situasi seperti ini sering menumbuhkan rasa minder dan keterasingan. Namun justru dari pengalaman pahit itulah banyak generasi muda NTT belajar tentang ketangguhan.
Mereka menyadari bahwa kemarahan tidak akan menyelesaikan persoalan. Cara terbaik melawan stigma bukanlah dengan kekerasan, melainkan melalui prestasi, karakter, dan konsistensi hidup. Perlahan tetapi pasti, banyak anak muda NTT membuktikan bahwa mereka mampu bersaing secara sehat di tengah ketatnya kehidupan kota besar. Mereka dikenal memiliki daya juang tinggi, loyalitas, kemampuan bertahan, serta semangat kerja yang kuat.

Di Yogyakarta, kota yang dipenuhi mahasiswa dari berbagai daerah dan perguruan tinggi ternama seperti Universitas Gadjah Mada, Atmajaya, Universitas Sanata Dharma, APMD, UNY, UPN, UST,UTY, UMB dan lain sebagainya generasi muda NTT tetap mampu menunjukkan kualitas dirinya. Banyak yang berhasil lulus dengan predikat terbaik, menjadi aktivis kampus, penerima beasiswa, jurnalis, peneliti, guru, dosen, profesional, pastor, frater, bruder, suster, aktivis sosial, hingga pengusaha sukses. Semua ini menunjukkan bahwa kecerdasan dan keberhasilan tidak pernah ditentukan oleh asal daerah, melainkan oleh ketekunan, disiplin, dan keberanian untuk terus belajar.

Selain melalui pendidikan, sebagian generasi muda NTT mulai membangun identitas positif lewat budaya dan kewirausahaan. Di berbagai sudut kota muncul usaha kuliner khas Timur yang memperkenalkan sei sapi, kopi Flores, hingga aneka olahan ikan khas pesisir NTT. Kuliner menjadi lebih dari sekadar bisnis; ia menjadi jembatan budaya yang mempertemukan banyak orang dalam suasana hangat dan bersahabat. Bersamaan dengan itu, anak-anak muda NTT juga aktif memperkenalkan seni dan budaya daerah melalui musik, tari tradisional, tenun ikat, sasando, media digital, hingga konten kreatif. Mereka memperlihatkan bahwa identitas Timur Indonesia bukanlah identitas kekerasan, melainkan identitas yang kaya tradisi, penuh solidaritas, dan memiliki kekuatan budaya yang besar.

Namun perjuangan melawan stigma juga membutuhkan refleksi diri. Harus diakui bahwa ada sebagian kecil oknum yang terlibat dalam tindakan negatif sehingga memperkuat prasangka masyarakat. Karena itu generasi muda NTT dipanggil bukan hanya untuk berhasil secara pribadi, tetapi juga membangun solidaritas dan kedewasaan kolektif. Jangan saling menjatuhkan sesama anak Timur. Sebaliknya, mereka perlu saling mendukung dan menunjukkan bahwa masyarakat Timur Indonesia dikenal karena penghargaan terhadap sesama, kerja keras, dan kontribusi positif bagi bangsa.

READ  RUPS LB Bank NTT Pangkas Direksi dan Komisaris, Pemegang Saham Sepakati Tambahan Modal

Dalam konteks inilah kisah-kisah personal menjadi penting untuk diangkat. Sebab perubahan cara pandang masyarakat sering kali lahir dari perjumpaan dengan pengalaman manusia yang nyata. Salah satu kisah inspiratif itu datang dari seorang pemuda asal Sumba Timur bernama Yeriski Kawawu Ndama Yelu. Yeriski lahir di Hambapraing pada 21 Oktober 1999 dari pasangan Bapak Podi Maki dan Ibu Kahi Ngaji. Ia tumbuh dalam kesederhanaan dan menempuh pendidikan di SDK Wolihi, SMP Negeri 2 Haharu, hingga SMA Negeri 2 Haharu. Setelah lulus SMA, ia memutuskan merantau ke Yogyakarta untuk melanjutkan studi di Politeknik API Yogyakarta jurusan Pariwisata dan berhasil menyelesaikan pendidikannya pada tahun 2022.

Seperti banyak anak muda NTT lainnya, perjalanan Yeriski bukan perjalanan yang mudah. Merantau berarti belajar hidup mandiri jauh dari keluarga. Ia harus beradaptasi dengan lingkungan baru, budaya baru, dan ritme kehidupan kota yang berbeda dari kampung halamannya. Namun justru di tanah rantau itulah ia belajar memahami arti perjuangan.

Sejak masa kuliah, Yeriski sudah terbiasa bekerja sambil belajar. Ia pernah bekerja sebagai barista di sebuah coffee shop selama kurang lebih satu tahun. Dari pekerjaan sederhana itu ia belajar tentang disiplin, komunikasi, pelayanan, dan tanggung jawab. Baginya, dunia kerja adalah sekolah kehidupan yang tidak kalah penting dibanding bangku kuliah. Setelah itu, ia melanjutkan karier di PT Nara Kupu sebagai barista, tim marketing, sekaligus head of hospitality pada resto dan villa yang dikelola perusahaan tersebut.

Pengalaman bekerja membuatnya memahami bahwa dunia profesional tidak hanya membutuhkan ijazah, tetapi juga karakter. Ia menyadari bahwa kemampuan beradaptasi, sikap rendah hati, serta kemauan untuk terus belajar jauh lebih menentukan dibanding sekadar kemampuan akademik. “Saya belajar bahwa dunia kerja tidak hanya soal ijazah, tetapi juga soal sikap, relasi, dan kemampuan beradaptasi,” ungkapnya.

Ketika ditanya mengapa memilih bekerja di luar NTT, Yeriski menjawab dengan sederhana namun penuh makna. Menurutnya, peluang kerja di luar daerah lebih terbuka dan memberikan ruang yang lebih besar untuk berkembang. Namun baginya, merantau bukan berarti melupakan kampung halaman. Justru melalui pengalaman di luar daerah, ia ingin mempersiapkan diri agar suatu hari dapat kembali membawa pengetahuan dan pengalaman untuk membangun tanah kelahirannya sendiri.

Di Yogyakarta, ia menemukan banyak pengalaman baru. Kota ini memberinya ruang untuk bertumbuh, membangun relasi, dan melihat dunia secara lebih luas. Namun perjalanan itu tentu tidak selalu mulus. Ia pernah mengalami perlakuan diskriminatif karena identitas asal daerahnya. Ada stereotip terhadap anak Timur yang membuatnya merasa tidak nyaman. Tetapi ia memilih menghadapi semuanya dengan tenang. “Saya tidak mau membalas dengan emosi. Saya memilih membuktikan diri lewat kerja keras dan sikap yang baik,” katanya.

READ  Gara-gara Sampul, Ratusan Kader Nasdem di NTT Serentak Turun ke Jalan

Sikap inilah yang perlahan membentuk kedewasaannya. Ia percaya bahwa banyak anak muda NTT berkembang justru karena mereka dipaksa keluar dari zona nyaman. Persaingan hidup mengajarkan mereka untuk mandiri, disiplin, dan bekerja lebih keras dibanding sebelumnya. Di tengah kesibukannya, Yeriski juga merasa bangga melihat semakin banyak anak muda NTT yang berani membuka usaha kuliner di Yogyakarta. Baginya, usaha-usaha kecil itu bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga bentuk kebanggaan budaya dan solidaritas sesama anak rantau.

Menurutnya, tantangan generasi muda saat ini semakin kompleks. Dunia kerja menuntut kreativitas, kemampuan belajar cepat, dan penguasaan teknologi. Namun ia juga melihat masih banyak anak muda yang menganggur karena kurangnya keterampilan, terbatasnya lapangan pekerjaan, atau rasa gengsi untuk memulai dari bawah. Karena itu ia percaya bahwa kesuksesan selalu membutuhkan proses panjang yang dijalani dengan kesabaran dan konsistensi. Baginya, sikap adalah fondasi utama kehidupan profesional. “Kalau mau dipercaya orang, kita harus disiplin, jujur, bertanggung jawab, dan terus mau belajar,” tuturnya.

Di balik seluruh perjuangan hidupnya, Yeriski memegang sebuah motto sederhana:
“Hidup semestinya, sisanya Tuhan pasti bantu. ”Kalimat itu menjadi pegangan hidupnya sebagai anak rantau. Sebuah keyakinan bahwa manusia hanya perlu berusaha dengan tulus dan bekerja keras, sementara Tuhan akan membuka jalan pada waktunya. Kisah Yeriski sesungguhnya bukan hanya kisah satu orang. Ia adalah cermin dari semangat banyak generasi muda NTT hari ini. Mereka merantau bukan untuk melupakan tanah kelahiran, melainkan untuk mempersiapkan diri kembali pulang membawa pengalaman, harapan, dan perubahan. Mereka sedang membuktikan bahwa identitas tidak ditentukan oleh stigma sosial, melainkan oleh keberanian untuk bertahan, belajar, dan terus berkembang.

Di tengah dunia yang sering cepat menghakimi, generasi muda NTT mengajarkan satu hal penting: bahwa manusia tidak boleh dinilai dari asal daerahnya, melainkan dari integritas hidup, kerja keras, dan kontribusinya bagi sesama. Orang boleh meremehkan hari ini, tetapi waktu dan prestasi akan berbicara dengan caranya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *