Panca Windu SMP St. Stefanus Ketang (1986-2026): Menapak Jejak, Merajut Kasih, Membangun Masa Depan

Empat dekade perjalanan SMP St. Stefanus Ketang menjadi bukti nyata pengabdian dunia pendidikan dalam membentuk generasi muda berkarakter, mempererat persaudaraan alumni, dan menatap masa depan bersama.

Catatan Valensius Ngardi
(angkatan ke-4 1989)

Tahun 2026 menjadi momentum istimewa bagi SMP St. Stefanus Ketang. Sekolah yang telah berdiri sejak tahun 1986 itu genap berusia 40 tahun atau satu panca windu. Perjalanan empat dekade tersebut tidak hanya menandai usia sebuah lembaga pendidikan, tetapi juga merekam jejak panjang pengabdian dalam membentuk generasi muda Manggarai yang cerdas, berkarakter, dan mampu berkiprah di berbagai bidang kehidupan.

Perayaan Panca Windu SMP St. Stefanus Ketang akan berlangsung pada 12–14 Agustus 2026 dengan mengusung tema “Menapak Jejak, Merajut Kasih, Membangun Masa Depan.” Tema ini menggambarkan semangat untuk mengenang perjalanan masa lalu, mempererat persaudaraan antargenerasi alumni, serta membangun komitmen bersama demi kemajuan sekolah di masa mendatang.

Bagi banyak alumni, peringatan 40 tahun ini bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan sebuah kesempatan untuk kembali mengenang tempat yang pernah menjadi ruang pembentukan karakter dan cita-cita. Yosefivina, seorang alumni angkatan IV tahun 1989 mengungkapkan rasa bangganya terhadap almamater yang telah melahirkan ribuan lulusan yang kini tersebar di berbagai daerah dan profesi.

“Empat puluh tahun adalah usia yang matang dan produktif. Dalam rentang waktu itu, SMP St. Stefanus Ketang telah menjadi saksi pertumbuhan ribuan anak bangsa yang kini berkarya sebagai pemimpin masyarakat, tokoh gereja, pendidik, birokrat, politisi, maupun profesional di berbagai bidang,” ungkapnya.

Lembaga ini ibarat produk insani humanis dan berkarakter yang cerdas hasil didikan dari lembah Ketang untuk Indonesia, yang terletak di kawasan yang sejuk dan asri di wilayah Ketang-Rejeng, Kabupaten Manggarai. SMP St. Stefanus Ketang juga dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan yang memiliki lingkungan belajar yang kondusif. Jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, sekolah ini menawarkan suasana yang tenang dan mendukung proses pembelajaran secara optimal. Keunggulan sekolah tidak hanya terletak pada kondisi alam yang mendukung, tetapi juga pada sistem pendidikan yang selama bertahun-tahun menanamkan nilai-nilai disiplin, kejujuran, tanggung jawab, persaudaraan, dan kepemimpinan.

Dalam perkembangannya, sekolah ini juga dikenal dengan pola pendidikan berasrama yang membantu pembentukan karakter peserta didik secara lebih intensif. Keberadaan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang berdedikasi turut menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas pendidikan. Berbagai prestasi akademik maupun nonakademik yang diraih siswa selama ini menjadi bukti nyata bahwa sekolah di daerah pedesaan pun mampu menghasilkan lulusan yang kompetitif.

READ  Pengorbanan Nyawa Demi Satu Buku dan Sebatang Pena

Bagi saya sebagai alumni angkatan ke 4 (1989) sekolah ini mengajarkan bukan hanya ilmu pengetahuan, tetapi juga nilai-nilai kehidupan. Di lembaga tercinta ini kami belajar tentang disiplin, kerja keras, dan hidup bersama dalam semangat persaudaraan penuh humanis.

Dalam catatan sejarahnya, SMP St. Stefanus Ketang tidak dapat dilepaskan dari peran misionaris yang turut meletakkan fondasi pendidikan di wilayah tersebut. Salah satu tokoh penting yang dikenang adalah “Pater Thomas SVD”, seorang imam asal Hongaria yang memberikan kontribusi besar bagi pengembangan pendidikan di Ketang. Melalui dedikasi seorang imam misionaris dan para pendidik yang melanjutkan karya mereka, sekolah ini tumbuh menjadi pusat pembinaan generasi muda yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter yang kuat. Semangat pelayanan yang diwariskan para pendiri itulah yang hingga kini terus menjadi inspirasi bagi warga sekolah dan para alumninya.

Selama empat puluh tahun perjalanannya, SMP St. Stefanus Ketang telah melahirkan banyak alumni yang sukses dalam berbagai bidang kehidupan. Beberapa di antaranya aktif dalam dunia politik dan pemerintahan, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Di tingkat legislatif Provinsi Nusa Tenggara Timur, terdapat nama Boni Burhanus, sementara di tingkat DPRD Kabupaten Manggarai, Vinsensius Supardi dan Yohanes Donbosco Marino Gampur.

Keberhasilan para alumni tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan yang diperoleh di SMP St. Stefanus Ketang mampu menjadi fondasi kuat bagi perjalanan hidup mereka. Namun demikian, para alumni menegaskan bahwa kebanggaan sekolah tidak hanya diukur dari banyaknya lulusan yang menduduki jabatan penting. Lebih dari itu, keberhasilan sekolah terlihat dari kemampuannya membentuk manusia yang berintegritas dan berguna bagi masyarakat. Menurut ketua Panitia “Tidak semua alumni menjadi pejabat atau politisi. Banyak juga yang menjadi guru, petani, pengusaha, aktivis sosial, tenaga kesehatan, dan pelayan gereja. Semua itu adalah buah pendidikan yang patut disyukuri,” ujar pendidik muda di sekolah tersebut.

Tiga hari perayaan penuh makna dalam momen ini. Panitia Panca Windu telah menyusun rangkaian kegiatan selama tiga hari yang dirancang untuk melibatkan seluruh unsur sekolah, alumni, masyarakat, dan para pemerhati pendidikan. Ketua Panitia, Adrianus Daduk, S.Pd., menjelaskan bahwa perayaan ini tidak hanya bernuansa nostalgia, tetapi juga menjadi ruang refleksi terhadap masa depan pendidikan. Rangkaian kegiatan akan dimulai pada 12 Agustus 2026 dengan penyelenggaraan seminar umum bertema “Merawat Nalar, Menatap Zaman.” Seminar tersebut akan menghadirkan para alumni, akademisi, praktisi, dan narasumber yang memiliki kompetensi di bidang pendidikan, sosial, budaya, serta pembangunan masyarakat. Melalui forum ini, peserta diajak untuk mendiskusikan berbagai tantangan dunia pendidikan di era digital sekaligus mencari strategi untuk menyiapkan generasi muda menghadapi perubahan zaman.

READ  Menimbang Ulang Dana Reses DPR: Antara Fungsi Aspirasi dan Efisiensi Anggaran

Pada sore hingga malam hari, kegiatan akan dilanjutkan dengan pagelaran seni bertajuk “Panggung Cahaya Stefanus Muda.” Acara ini menjadi wadah bagi siswa dan alumni untuk menampilkan kreativitas melalui seni musik, tari, teater, puisi, dan berbagai ekspresi budaya lainnya. Memasuki hari kedua, 13 Agustus 2026, panitia menggelar kegiatan Temu Alumni dengan tema “Pulang ke Pelukan Almamater.” Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum perjumpaan lintas generasi alumni yang selama ini tersebar di berbagai daerah bahkan luar negeri. Dalam suasana kekeluargaan, para alumni akan berbagi pengalaman hidup, mengenang masa-masa sekolah, serta berdialog mengenai kontribusi yang dapat diberikan untuk kemajuan almamater.

“Banyak alumni yang sudah puluhan tahun tidak bertemu. Karena itu, acara ini diharapkan menjadi ruang untuk mempererat kembali tali persaudaraan yang pernah dibangun di bangku sekolah,” kata panitia.

Puncak perayaan akan berlangsung pada 14 Agustus 2026 melalui perayaan Ekaristi Syukur dengan tema “Melangitkan Doa di Usia Panca Windu.” Misa syukur ini menjadi ungkapan terima kasih atas penyelenggaraan Tuhan selama empat dekade perjalanan sekolah sekaligus doa bersama agar SMP St. Stefanus Ketang terus menjadi berkat bagi masyarakat dan dunia pendidikan.

Panitia juga menggalang kepedulian bersama dari alumni dan donatur peduli pendidikan. Oleh karena itu selain menjadi ajang reuni dan perayaan syukur, Panca Windu juga dimaksudkan sebagai momentum untuk membangun kepedulian bersama terhadap keberlanjutan pendidikan di Ketang. Untuk itu, panitia mengajak para alumni, donatur, pemerhati pendidikan, dan masyarakat luas untuk memberikan dukungan demi kesuksesan kegiatan sekaligus membantu pengembangan sekolah pada masa mendatang.

Menurut panitia, keterlibatan para alumni sangat penting karena mereka merupakan bagian dari sejarah dan masa depan lembaga ini. Dukungan yang diberikan tidak hanya dalam bentuk materi, tetapi juga gagasan, jejaring, pengalaman, dan berbagai bentuk kontribusi lainnya. “Sekolah ini telah memberikan banyak hal kepada kita. Kini saatnya kita kembali memberi untuk almamater yang telah ikut membentuk perjalanan hidup kita,” ujar salah seorang alumni. Semangat gotong royong dan solidaritas yang menjadi ciri khas masyarakat Manggarai diharapkan dapat menjadi kekuatan utama dalam menyukseskan perayaan tersebut.

READ  Menafsir Pertanyaan Etis Benny K. Harman soal Vonis Mati Sambo

Empat puluh tahun perjalanan tentu bukan waktu yang singkat. Di tengah berbagai perubahan sosial, budaya, dan teknologi, SMP St. Stefanus Ketang tetap berdiri sebagai salah satu pilar pendidikan yang dipercaya masyarakat. Perayaan Panca Windu menjadi kesempatan untuk melihat kembali jejak sejarah yang telah dilalui sekaligus menata langkah menuju masa depan. Tantangan pendidikan saat ini semakin kompleks, mulai dari perkembangan teknologi digital, perubahan pola belajar generasi muda, hingga tuntutan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Karena itu, momentum perayaan ini diharapkan melahirkan komitmen baru dari seluruh keluarga besar SMP St. Stefanus Ketang untuk terus menjaga kualitas pendidikan, memperkuat karakter peserta didik, dan menyiapkan generasi yang mampu menjawab kebutuhan zaman. Bagi masyarakat dan para alumni yang ingin berpartisipasi atau memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan Panca Windu SMP St. Stefanus Ketang, dapat menghubungi Ketua Panitia, Adrianus Daduk, S.Pd., melalui nomor 0812-878-1441.

Empat puluh tahun telah berlalu. Jejak-jejak pengabdian telah ditorehkan. Kini saatnya seluruh keluarga besar SMP St. Stefanus Ketang kembali bergandengan tangan, merajut kasih lintas generasi, dan bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik bagi pendidikan di bumi Ketang-Rejeng.

Akhirnya bagi saya tema “Menapak Jejak, Merajut Kasih, Membangun Masa Depan” mengandung makna yang mendalam tentang perjalanan, persaudaraan, dan harapan. “Menapak Jejak” mengajak seluruh keluarga besar SMP St. Stefanus Ketang untuk mengenang dan menghargai sejarah panjang perjuangan para pendiri, guru, orang tua, serta para alumni yang telah meletakkan dasar bagi kemajuan sekolah selama 40 tahun. ”Merajut Kasih menegaskan pentingnya mempererat kembali tali persaudaraan, solidaritas, dan rasa memiliki di antara seluruh warga sekolah lintas generasi sebagai satu keluarga besar yang dipersatukan oleh almamater yang sama. Sementara itu, “Membangun Masa Depan” merupakan komitmen bersama untuk terus mendukung pengembangan pendidikan, meningkatkan kualitas generasi muda, serta menyiapkan peserta didik yang cerdas, berkarakter, dan mampu menjawab tantangan zaman. Dengan demikian, tema ini menjadi ajakan untuk menghormati warisan masa lalu, memperkuat kebersamaan di masa kini, dan melangkah bersama menuju masa depan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *