Mendengar Bisikan Jenazah dari dalam Peti Struktural dengan Telinga Farmer

Dr. Marsel Robot

Oleh Marsel Robot
Pengamat Budaya dan Pendidikan

Sebelum melanjutkan membaca tulisan ini, bayangkan Anda sedang duduk di samping peti jenazah Om Obi, si pemasak sopi yang semasa hidupnya lebih hafal tikungan jalan rusak daripada isi pidato pejabat. Ia meninggal di perjalanan menuju rumah sakit, karena mobil mogok dan jalan buruk. Anda melayat, memasukkan uang duka ke dalam kotak samping kiri jenazah. Terus, Anda menunduk dan berdoa untuk mengikhlaskan kepergian Om Obi ke pangkuan Bunda Kesunyian Abadi. Ada yang berdoa sambil memegang rosario dan memohon agar Bunda Maria, sang penolong sejati itu bisa menurunkan tangga alternatif dari surga buat Om Obi. Akan tetapi, peti jenazah belum sepenuhnya ditutup. Sebab, keluarga duka masih menunggu famili dari Nilulat (Timor Tenga Utara), famili dari Koit (Manggarai Timur), famili dari Kodi (Sumba Barat Daya).

Om Obi rupanya sedang melakukan klarifikasi atas kematiannya. Tiba-tiba, dari dalam peti jenazah setengah terbuka itu, Om Obi berbisik lirih dalam bahasa Indonesia dialek Kupang: “Beta mati karena oto mogok dan jalan rusak.” Anda, sekonyong diserang oleh rasa kejut campur takut rangkap dua. Pertama, Anda terkejut karena jenazah berbisik, dan kedua yang lebih mengejutkan lagi, alasan kematiannya karena oto mogok di jalan rusak. Padahal, dalam ibadah, sebelum Anda datang, pemimpin ibadah dengan penuh keyakinan berkhotbah, bahwa, “ini kehendak Tuhan.” Dan semua umat meyakini itu. Seolah-olah Tuhan mempunyai kebiasaan mengekspor orang miskin ke dalam gorong-gorong penderitaan. Lalu, Tuhan, dengan senyum dikulum duduk santai di balkon surga menyaksikan perayaan Idul Adha Presiden Prabowo di Prancis. Tuhan terus disudutkan dituduhkan bahwa kematian karena ketidakadilan itu selalu dikirim ke alamat Tuhan. Di sinilah Paul Farmer berbisik lirih, selirih bisikan Om Obi dari dalam peti jenazah. Paul Farmer (1959–2022) seorang dokter, antropolog, aktivis kemanusiaan, dan akademisi Amerika Serikat yang terkenal dengan gagasan structural violence atau kekerasan struktural, pasti mengatakan bahwa kematian Om Obi sesungguhnya tidak alamiah. Kematian itu diproduksi oleh struktur atau sistem yang tidak adil. Nyawa rakyat yang dicabut secara sopan melalui kerja sistem yang tampak penuh kemuliaan.

READ  Kritik Ret-ret ASN NTT dan Urgensi Pembinaan Mental Aparatur

Andaikan Paul Farmer masih hidup dan berjalan masuk ke pelosok-pelosok negeri ini, mungkin ia akan mendengar suara aneh dari dalam peti mati rakyat kecil. Paul Farmer mungkin akan berdiri di samping peti mati bersama Anda sambil membuka stetoskop sosialnya. Lalu, ia mendengar detak suara arwah orang miskin yang sedang mencari tanah kavling di surga, dan detak suara struktur yang batuk-batuk karena tersedak oleh bongkahan uang korupsi. Setengah menggeleng, Farmer berbisik lagi: “Banyak orang miskin mati dibunuh oleh sistem yang tidak adil. “Pemerintah Anda begitu setia merawat penyakit itu dalam birokrasi nepoistik,” sambil menoleh kepada Anda.

Rakyat yang hanya bertahan hidup diajak untuk berhemat, sementara presiden terhitung puluhan kali keluar negeri dan menghabiskan dana miliaran, bahkan triliunan. Belum direken, uang ulang tahun pejabat tertentu di hotel paling mahal di Paris. Padahal, tumpukan uang itu cukup untuk membangun sekolah di kampung-kampung yang muridnya masih belajar duduk di lantai. Kita sedang mengalami disabilitas empati. Ada semacam gangguan kejiwaan sehingga sulit menghubungkan kemiskinan rakyat dengan mentalitas hedonistik para pejabat.

Bangsa ini hidup dalam situasi melankolik yang bengis. Pejabat berbicara tentang efisiensi sambil menambah staf khusus, menambah mobil dinas, dan menambah perjalanan luar negeri. Lebih jenaka lagi, setiap pelantikan pejabat dimulai dengan sumpah dan di bawah tudungan kitab suci. Mobil hasil pencucian uang diberkati oleh Bapak Pastor atau Bapak Pendeta. Koruptor didaulat lagi menjadi menteri lagi. Bahkan, pencuri uang rakyat kadang lebih rajin ke rumah ibadah daripada guru honorer yang gajinya hanya cukup membeli pulsa dan mi instan di kios Bugis.

READ  Pulau Semau: Calon Obyek Wisata Premium di Kabupaten Kupang

Kala seorang anak meninggal karena kurang gizi, pejabat datang membawa amplop duka dan membawa kamera untuk memotret wajah prihatin. Mereka berdiri di depan peti jenazah sambil berkata: “Kami turut berbelasungkawa.” Treseduh di depan jenazah sambil tetap memelihara struktur yang membunuhnya. Kemudian, perlahan hilang dari dusun miskin itu dengan mobil Toyota Fortune seharga satu miliar itu melintasi jalan rusak sepanjang semak desa. Paul Farmer mengategorikan kematian itu sebagai akibat kekerasan struktural.
Indonesia memang mirip negeri Poti Wolo (mitologi Manggarai). Negeri yang dipimpin oleh monster berlibido serakah. Tugasnya memangsai. Tetapi, bekerja dengan narasi yang alkitabiah dan struktur itu bekerja sangat halus seperti letik (kalajengking) dalam istilah Manggarai. Gigitannya tidak langsung mematikan, tetapi racunnya menyebar perlahan. Rakyat dibuat terbiasa hidup susah. Lama-lama, kemiskinan diterima sebagai takdir, antre bantuan dianggap tradisi nasional, dan penderitaan dianggap ujian iman. Dan kematian diterima sebagai kehendak Tuhan.

Partai politik pun berulah seperti agen tenaga kerja keluarga. Anggota dewan menjadi suku cadang rente untuk partai. Mereka berlutut dan berhala kepada ketua partai yang menentukan masa depan karier. Akibatnya, parlemen lebih sering terdengar seperti ruang rapat pemegang saham daripada rumah aspirasi rakyat. Kalaupun dia meraung di ruang sidang, itu hanya cara lain untuk meminta jatah.

Di ruang sidang itu, kata “kemiskinan” berjatuhan dari mulut-mulut yang baru selesai makan siang seharga uang sekolah satu semester mahasiswa. Ironis memang, orang lapar dijelaskan oleh orang yang tidak pernah lapar. Sementara itu, rakyat terus diajari menerima keadaan dan tabah serta menyerahkan seluruh hidup kepada Tuhan. Padahal, Tuhan mungkin sedang geleng kepala melihat nama-Nya terus dipakai untuk melegitimasi kehendak struktural. Tuhan di negeri ini terlalu sering dipaksa menandatangani “nota kesalahan” pemerintah.

READ  Menimbang Ulang Dana Reses DPR: Antara Fungsi Aspirasi dan Efisiensi Anggaran

Bahasa juga ikut menjadi alat penghapus dosa kekuasaan. Ketika warga mati karena jalan rusak, disebut “kecelakaan”. Ketika rakyat kelaparan, kita menyebutnya “tantangan iman”. Ketika korupsi merajalela, kita menyebutnya “penyalahgunaan jabatan”. Diksi dan frasa-frasa semacam itu menjadi parfum untuk menghilangkan aroma jenazah tubuh struktural. Di balik semua istilah sopan itu, rakyat yang setiap hari berjuang mempertahankan hidup dengan cara purba. Hidup bagi banyak orang miskin hanya proyek bertahan hidup. Kadang dari lorong dapur nyelonong pertanyaan: “apa hari ini bisa makan?” Sementara di kalangan pejabat bertanya, “hari ini makan di mana?” Di Paris atau di Italia? Dan yang paling menyakitkan, penderitaan itu terus diproduksi secara sistematis melalui sistem yang tampak beradab.

Mungkin karena itulah, jenazah rakyat kecil selalu berbisik dari dalam peti jenazah: “Saya meninggal karena ketidakadilan dan sistem tak henti memproduksi penderitaan rakyat kecil. Mereka dibunuh perlahan dengan narasi yang begitu alkitabiah dan struktur yang bekerja seperti minyak kompor yang meresap halus membakar sumbu.

Sayangnya, bisikan Om Obi itu hanya terdengar bila kita menggunakan telinga Paul Farmer. Lantas, Anda mundur dari peti jenazah yang setengah terbuka itu. Sebab, terasa ada bau “jenazah hati nurani para pejabat” lebih tengik dari bau jenazah Om Obi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *