Laporan Pius Rengka
Wartawan detakpasifik.com
Senja berbaring perlahan di Cottage Pantai Otan, medio April 2026 silam. Kala itu, rombongan Anggota Komisi I DPR RI, Dr. Viktor Bungtilu Laiskodat tiba di situ.
Di ufuk barat, matahari tampak menggelantung memerah keemasan persis di tubir bibir Laut Sawu, meninggalkan senyum cakrawala siang sembari angin berhembus lembut membelai wajah sunyi.
Di tempat itulah, beberapa tahun silam, tiga tokoh Pulau Semau ditemui terpisah. Mereka membawa kisah. Kisah tentang tanah yang lama hidup dalam sunyi, tetapi menyimpan pesona alam nana dasyat. Mereka berkisah tentang mitos yang tak pernah benar-benar mati. Mereka itu Marthen Solet, Johny Ukat, dan Martinus Tousbele.
Konon katanya, Pulau Semau bukan sekadar pulau kecil di depan Kota Kupang. Semau adalah serenada puisi. Dilantunkan saban tahun utamanya di musim kemarau sebagai syair nasib.
Bentangan sunyi di itu pulau menyimpan sejarah manusia. Tentang luka kemiskinan yang terlalu lama, mitos purba yang mengendap bagai hantu, dan harapan masa depan yang tidak pernah usai dimakan usia para pejuang.
Manusia Semau katanya, banyak ahli ilmu gaib nan aneh. Banyak guna-guna pula, meski kita tidak pernah tahu persis juga apa gunanya guna-guna.
Marthen Solet berkisah nyaris dengan suara tertelan. Ia pensiunan guru sekolah dasar di Semau Utara. Tubuhnya ringkih dimakan usia, tetapi sorot matanya menyimpan segudang ketabahan panjang dari seseorang yang melewati rintangan derita hidup tanpa banyak mengeluh.
Ia memulai karier sebagai guru bantu. Gajinya nyaris tak cukup untuk mempertahankan hidup. Pada masa itu, honor seorang guru dua ratus ribu rupiah per bulan. Pembayarannya pun kerap tak menentu.
Di tengah hidup serba sempit, ia memilih bertahan. “Hidup harus terus berjalan. Sejarah hidupku tidak boleh menoleh ke belakang,” katanya perih.
Kalimat itu sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan pergulatan manusia kecil di republik ini, bekerja seumur hidup, mengabdi tanpa gaduh, lalu menua dalam kepungan kemiskinan yang nyaris dianggap biasa.
Dalam perspektif strukturalisme maupun Marxisme, kemiskinan semacam itu bukan semata nasib individual, melainkan akibat langsung dari struktur sosial yang timpang dan menindas. Orang-orang seperti Marthen Solet hidup di tepi sejarah pembangunan, tetapi merekalah yang justru menopang kehidupan sosial dari generasi ke generasi di pulau itu.
Meski demikian, ia tidak kehilangan harapan. Pada usia kian renta, ia masih percaya Semau sekali waktu entah kapan, akan dikenal dunia. “Pulau ini terlalu indah untuk terus dilupakan,” ujarnya. Ia bercerita tentang Pantai Otan dan Liman, dua bentangan pantai berpasir putih di sisi barat Pulau Semau yang menurutnya mampu membuat siapa saja jatuh cinta pada pandangan pertama.
Di Pantai Otan, hamparan pasir putih membentang dua kilometer. Laut Sawu tampak biru tenang, seperti cermin raksasa yang memantulkan langit senja. Kini, di tepi pantai itu telah berdiri cottage dan restoran dengan aneka menu laut khas Semau.
Wisatawan ke Otan bukan sekadar mencari pantai. Mereka datang menikmati kesepian dan mendengar betapa riuhnya keheningan. Di sana, orang duduk berjam-jam memandangi matahari yang perlahan tenggelam di cakrawala nun jauh. Ombak datang pelan, nyaris seperti berbisik. Angin darat berhembus lembut tanpa gangguan nyamuk, tanpa hiruk-pikuk kota. Malam di Otan menghadirkan sejenis ketenangan langka.
Menu makanan yang tersedia pun sederhana tetapi lezat. Ikan kerapu kuah asam, kakap bakar, sayur kelor khas Semau yang dimasak dengan citarasa lokal. Semuanya terasa nikmat karena disantap di bawah langit terbuka sambil mendengar debur ombak Laut Sawu seolah memanggil nelayan bergegas menghitung nasib.
Bagi penggemar puisi, Otan seperti ruang sunyi tempat kata-kata lahir tanpa dipaksa. Alam mengembalikan manusia kepada dirinya sendiri.
“Di Otan, orang seperti dipanggil kembali menjadi manusia purba yang hidup tanpa terlalu banyak aturan,” kata Marthen. Tidak jauh dari sana, Pantai Liman menghadirkan panorama memukau. Pasir putih membentang melengkung sekitar delapan kilometer, halus bagai tepung terigu yang baru diayak. Air laut biru toska membentuk garis lengkungbagai lukisan alam sempurna di sepanjang pantai.
Di sisi pantai berdiri Bukit Liman. Bukit kecil saja. Dalam riwayat masyarakat Semau itu bukit sakral. Dari puncaknya, laut tampak seperti hamparan permadani biru tak berujung yang menyatu dengan kaki dan jemari langit. Bagi masyarakat Semau, Bukit Liman bukan sekadar bukit. Ia dipercaya sebagai tempat “pemulihan”.
Orang-orang datang ke sana membawa luka hidup, kegagalan, kesedihan, patah hati, atau kebuntuan nasib. Mereka duduk hening diam di puncak bukit, memandang bentangan laut, lalu melantunkan doa dalam keheningan sempurna.
“Datanglah ke sana, hening sejenak, dengarkan suara keheningan itu,” kata Martinus Tousbele. Tousbele berkisah tentang dua pramugari asal Solo yang pernah datang ke Bukit Liman. Keduanya, mengalami kesulitan menemukan pasangan hidup. Setiap kali hubungan menuju pernikahan, selalu kandas.
Suatu ketika mereka datang ke Semau. Mereka naik ke Bukit Liman berdoa di sana. Beberapa waktu kemudian, keduanya dipinang dan menikah. Sejak itu, pasangan tersebut rutin kembali ke Bukit Liman untuk mencari keteduhan batin. Benar atau tidak kisah itu, masyarakat Semau mempercayainya sebagai bagian dari narasi panjang tentang bukit pemulihan.
Secara etimologis, Liman berasal dari bahasa Helong: “Li” berarti gerak kaki menari sukacita. “Mana” berarti tempat. Liman, dengan demikian, dimaknai sebagai tempat menemukan kegembiraan dan kedamaian.
Selain Bukit Liman, masyarakat Semau juga mengenal Bukit Bun. Sebuah lokasi lumpur alami yang dipercaya mampu menyembuhkan penyakit kulit dan menghaluskan tubuh.
Johny Ukat, bertutur banyak pelancong dari berbagai daerah bahkan luar negeri datang ke sana untuk bermandi lumpur. Lumpur dingin, tidak berbau belerang, tetapi dipercayai memiliki kandungan mineral tertentu.
“Orang-orang datang dari Jawa, Papua, Sulawesi, bahkan dari Eropa,” ujarnya.
Ia pernah mendapati pasangan wisatawan asal Spanyol melumuri tubuh mereka dengan lumpur Bukit Bun, lalu mandi di pantai Liman dan berjemur hingga senja. Sebelum pulang, mereka membawa pulang beberapa botol lumpur sebagai oleh-oleh.
Bukit Bun diperlakukan seperti kolam Bethesda, tempat orang berharap menemukan kesembuhan. Namun, di balik kisah mistis, Semau sesungguhnya adalah dokumen cerita yang lebih tua dan lebih besar. Kisah Nabi Nuh.
Martinus Tousbele membawa percakapan menuju Batu Upu, yang dikenal Daleblan dalam bahasa Helong. Batu besar itu terletak di tengah Semau. Bentuknya menyerupai bahtera.
Masyarakat percaya, itulah bangkai Bahtera Nabi Nuh yang membatu. Para leluhur Semau menuturkan kisah itu jauh sebelum agama-agama modern masuk ke pulau tersebut. Menurut mereka, bahtera Nabi Nuh tidak berakhir di Timur Tengah sebagaimana dipercaya banyak orang, melainkan terdampar di Semau setelah mengarungi air bah.
Di tengah batu itu terdapat lingkaran menyerupai bekas pancangan tiang layar kapal. “Kalau mau ke sana harus didahului ritual adat,” kata Tousbele. “Biasanya disembelih babi hitam dan merah”. Masyarakat percaya begitu saja. Siapa pun yang datang tanpa menghormati adat dapat malapetaka. Narasi ini dituturkan turun menurun tanpa interupsi.
Entah legenda, mitos, atau sekadar warisan imajinasi kolektif manusia Semau, Batu Upu tetap menjadi salah satu titik paling misterius di pulau itu. Dari puncaknya, terpapar pemandangan hampir seluruh Semau, hingga Kota Kupang dan Pulau Rote.
Tetapi, di tengah seluruh keindahan itu, Semau tetap hidup dalam keterbatasan. Jalan rusak parah. Listrik tidak stabil. Air bersih sulit. Jaringan telekomunikasi sering hilang. Bahkan bahan bakar pun susah diperoleh. “Semau pulau yang dilupakan negara,” ujar Johny Ukat. Padahal, pulau itu hanya 15 menit waktu tempuh dari Kota Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Viktor Laiskodat Membangun Semau
Johny Ukat mengakui pada era kepemimpinan Dr. Viktor Laiskodat, perhatian terhadap Pulau Semau mulai tumbuh, meski diakui belum sepenuhnya memadai. Pariwisata mulai bergerak. Wisatawan berdatangan. Tetapi, infrastruktur dasar masih tertinggal jauh.
Namun, detakpasifik.com mencatat setelah hampir tutup tahun masa jabatan gubernur, Viktor Laiskodat membuka jalan lingkar menembus hingga Otan dan Liman dengan standar jalan yang memadai dengan dana APBN. Selepas Gubernur, Viktor Laiskodat menumpahkan perhatian total terhadap infrastruktur Pulau Semau.
Kini Semau kian mekar. Jalan raya dipoles, pembangunan stadion sepakbola dirintis perlahan. Rencananya, ke depan lapangan sepakbola yang pernah menggelar Lazarus Kudang Laiskodat Cup itu, berproses menjadi lapangan berstandar internasional. Rumputnya harus khas dan khusus.
Bupati Kupang, Josef Lede, pada medio April itu, berkata, di Semau nantinya dibangun hotel bintang. Dia tidak merinci bintang berapa. Bersamaan dengan gelar reses DPR RI, terkuak rencana Pulau Semau menjadi destinasi pariwisata premium. Menurut Bupati Kupang, pembangunan di Pulau Semua terus didorong hingga ini pulau didatangi wisatawan domestik dan manca negara.
Pulau Semau dihuni 18 ribu jiwa. Sebagian besar petani dan nelayan. Namun masyarakat berbenah. Sekolah-sekolah didorong belajar bahasa Inggris. Petani didorong menanam sayur, buah-buahan dan memelihara ternak untuk menopang kebutuhan wisata. Juga madu putih yang kesohor itu.
Rakyat sadar. Masa depan Semau terletak pada pariwisata. Tetapi, lebih dari itu, Semau memperjuangkan satu hal mendasar yaitu hak untuk dilihat dan diperhatikan pemerintah (Desa, Kabupaten dan provinsi).
“Kami sangat dekat dengan ibu kota provinsi,” ujar Martinus Tousbele menutup percakapan kala itu. “Tetapi tolong jangan melihat kami hanya sebelah mata.”
Senja di Otan pun perlahan tenggelam. Laut Sawu gelap. Angin bertiup dari barat. Dan, di Pulau Semau, kisah tentang Nuh, tentang bukit pemulihan, tentang lumpur penyembuh, tentang stadion bertaraf FIFA, tentanf hotel berbintang dan tentang manusia kecil yang bertahan dalam sunyi, tetap hidup dari generasi ke generasi.











