Oleh: Aloysius Geong
Direktur Kredit Bank NTT
“Kalau ingin berjalan cepat, berjalanlah sendirian. Kalau ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama-sama.”
Pepatah sederhana ini, tanpa disadari, sesungguhnya telah diterapkan negara dalam mewujudkan pembangunan nasional, yaitu mencapai masyarakat yang adil dan makmur. Pembangunan nasional merupakan sebuah proses panjang dan berkelanjutan yang dilaksanakan oleh suatu bangsa untuk mewujudkan tujuan bersama.
Hal ini juga selaras dengan apa yang tengah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Isu defisit perdagangan menyadarkan kita bahwa impor atau barang yang masuk ke NTT masih jauh lebih besar dibandingkan ekspor atau barang yang keluar. Kondisi ini kontradiktif dengan kenyataan bahwa penyumbang terbesar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut lapangan usaha justru berasal dari sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Produksi kita masih jauh dari kapasitas yang tersedia.
Kondisi tersebut akhirnya membawa kita pada tingginya tingkat ketergantungan dalam pemenuhan kebutuhan barang. Dampaknya adalah harga yang fluktuatif dan arus kas keluar daerah yang cukup signifikan, sehingga perputaran uang di daerah menjadi stagnan, bahkan menurun. Pada akhirnya, kondisi ini turut memengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah.
Menjawab isu defisit perdagangan tersebut, Pemerintah Provinsi NTT mengambil langkah strategis melalui program hilirisasi dengan beberapa program turunan yang langsung menyentuh kondisi riil di Provinsi Nusa Tenggara Timur, yaitu (OVOP) One Village One Product, (OSOP) One School One Product, dan (OCOP) One Community One Product.
Program-program tersebut memiliki sasaran yang jelas, yaitu bagaimana NTT mulai berproduksi secara aktif sehingga mampu menjadi terobosan, bahkan katalisator percepatan kemandirian ekonomi serta peningkatan perputaran uang di masyarakat. Uang tetap berputar di koridor NTT. Ekonomi bertumbuh.
Keberadaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), sebagai lembaga yang dibentuk pemerintah untuk berkontribusi aktif dalam pembangunan ekonomi daerah, memiliki peran yang sangat strategis. Pertanyaan mendasarnya adalah bagaimana menerjemahkan program-program tersebut ke dalam aksi nyata. Sebab, ketika berbicara mengenai kemampuan produksi di daerah, persoalannya tidak hanya terbatas pada modal, pelaku usaha, lahan, dan sarana produksi. Lebih dari itu, juga menyangkut pengolahan lanjutan, rantai distribusi, akses pasar, hingga keberlanjutan produksi. Persoalan yang kompleks seperti ini jelas tidak dapat diselesaikan sendirian.
Sinergi sebagai Jawaban
Saat ini Pemerintah Provinsi NTT memiliki beberapa BUMD dengan ruang lingkup usaha yang saling melengkapi. Pemerintah NTT memiliki empat BUMD, yaitu Bank NTT sebagai lembaga keuangan, Jamkrida sebagai lembaga penjamin kredit, PT Flobamor dengan berbagai bidang usaha, serta PT Kawasan Industri Bolok sebagai pengelola kawasan industri.
Keempat BUMD tersebut memiliki kekuatan fundamental. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah, apakah mereka sudah benar-benar berjalan bersama? Inilah salah satu tantangan terbesar BUMD saat ini.
Mungkin muncul pertanyaan, bagaimana memulainya?
Bangun semangat yang sama, lalu tuangkan dalam rencana bisnis yang saling menunjang dan saling melengkapi. Hal inilah yang kemudian melahirkan pertemuan antara Gubernur dan para pimpinan BUMD untuk mengarahkan agar setiap BUMD menyelaraskan rencana bisnisnya satu sama lain, sehingga semakin memperkuat upaya mencapai tujuan pembangunan yang diharapkan.
Ciptakan ekosistem. Saatnya berjalan bersama.
“Saat ini yang dibutuhkan hanyalah kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang lebih sering melihat ke atas, tekad yang seribu kali lebih kuat dari baja, batin yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa.”
Ayo Bangun NTT!
Dirgahayu Bank NTT ke-64. Bersama Menuju Puncak.











