Oleh Marsel Robot
Budayawan, tinggal di Kupang
Di Manggarai Timur (Flores Nusa Tenggara Timur), anak-anak mengenal permainan kaok wae. Mereka saling berperang air dengan kedua telapak tangan yang dicekungkan seperti mangkuk kecil. Air dilemparkan, tubuh dan wajah menjadi kuyup, tawa bersenyawa dengan riuh arus sungai menggenapi kegembiraan. Tampak seperti peperangan, karena posisi berdiri yang kelihatan rival. Padahal, yang sedang berlangsung hanyalah permainan persahabatan.
Lapisan pesan yang paling signifikan adalah unsur sandiwara (lakon). Anak-anak berperang kaok wae sekadar sandiwara biar persahabatan terasa lebih ranum. Perang kaok wae mengingatkan saya sandiwara murahan yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung melalui tokoh utamanya Febrie Adriansyah, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) dengan pihak Kepolisian yang menggeledah rumah Febrie.
Hasil penggeledahan sejumlah uang yang fantastis dan bongkahan emas yang…uh,.., fantastis pula. Lalu, tiba-tiba tentara yang “kurang kerjaan” atau tok-tok tai mipu (duduk-duduk mencari hal- bahasa Dawan) menjaga rumah Febrie dan kadar ekstrak intimidasinya sangat kental. Hulubalang dan dalang selalu bertemu dalam panggung remang atau back stage (panggung belakang) istilah sosiolog Erving Goffman. Maklum, karakter mulia masyarakat Indonesia “gotong royong” itu dipraktikkan dalam korupsi secara baik dan masif oleh pejabat negeri ini. Sementara pihak istana menutup kain gorden, menggelar tikar kekuasaan dan menata kesunyian di ruang tengah untuk melakukan rapat dengan sejumlah orang yang terlibat dalam sandiwara murahan. Mungkin sedang mencari orang yang bersedia menjadi kambing hitam.
Dimensi murahan kian jenaka ketika Febrie Adriansyah ditetapkan sebagai tersangka tanpa kelihatan diperiksa. Febrie muncul di depan umum bukan dengan jaket tahanan dan tangan diborgol, melainkan dengan batik latar kuning di kursi “anti tuduh” memberikan keterangan pers. Raut imut dan kelopak mata yang tebal karena semalaman tidak sempat tidur. Padahal dijaga oleh prajurit yang diduga dikirim oleh “orang dalam”. Pagi itu, ia menjemput pagi dengan pernyataan yang seolah menolak sinar matahari bahwa uang ratusan miliar itu dan bongkahan batangan emas itu bukan kepunyaannya.
Gelagat sandiwara itu begitu gampang dibaca massa. Seminggu sebelumnya pihak kejaksaan menggebuk jenderal polisi yang menikmati Makan Bergizi Gratis lebih banyak dari anak-anak sekolah. Sepertinya, peristiwa saling menyerang. Dalam jargon tua orang Manggarai Koit di Manggarai Timur disebut dancu tuus agu sangken (masalah antara lutut dan dagu). Namun, dalam satu tubuh. Jadi, dicarikan penyelesaian yang tidak saling menyakiti. Karena itu, selang beberapa hari kemudian. Kapolri mendatangi kejaksaan untuk bernyanyi bersama: Mungkin inti syairnya berbunyi: “kau dan aku satu jua.” Inilah jenis perang kaok wae berpindah dari sungai ke lembaga hukum (Kejaksaan, Kepolisian, dan Lembaga Pemerintah).
Karena itu, saya mengusulkan, sudah saatnya negara mendirikan Kementerian Teaterikal Pejabat. Lembaga mulia ini bertugas mengatur seluruh pementasan, terutama yang berkaitan dengan tema korupsi, nepotisme, oligarki. Misalnya, setiap penggeledahan dan menemukan barang bukti dan barang bukti itu dihilangkan lagi, atau uang korupsi dikorupsi lagi, maka dia diberikan kategori “Aktor Terbaik”.
Setiap saling bantah dengan diksi yang alkitabiah akan diberikan penghargaan “Dialog Paling Mengharukan”. Dan setiap pernyataan, “Kita hormati proses hukum,” diberikan kategori “ naskah terbaik dalam memanipulasi hukum.” Dengan demikian, masyarakat tidak perlu sibuk bertanya apakah yang sedang mereka saksikan adalah pencarian kebenaran atau sekadar akting untuk menutup kebusukan. Semuanya telah jelas dan semuanya adalah tontonan. Dari sana pula, ketahuan kekayaan terbesar republik ini adalah kemampuan mengubah tontonan menjadi seolah tuntunan. Karena itu, di negeri ini naskah belajar membaca aktor. Bahkan kenyataan pun acap harus menunggu izin dari penyusun skenario.
Negeri ini sedang merumuskan filosofi hukum yang khas Konoha, yakni kebenaran tidak perlu dibuktikan. Kebenaran cukup diproduksi dengan “omon-omon.” Lalu, didistribusikan. Kemudian, diperdebatkan lagi sampai publik lupa mengapa perdebatan itu dimulai. Ingatan rakyat dibuatkan semacam empun yang perlahan menguap akibat diterpa panasnya konferensi pers.
Saya sungguh mengagumi kecerdasan membangun ekosistem korupsi di negeri ini. Korupsi persis lumut di batu purba. Rakyat melihatnya. Tetapi, karena tumbuh perlahan, orang mengira batu memang ada bersama lumut itu. Seperti rakyat memandang pejabat dan korupsi. Pejabat seakan harus korupsi. Karena itu, korupsi di kalangan pejabat negara dianggap bawaan sistem. Para Menteri yang mempunyai pesawat jet pribadi, komisaris yang punya selusin selir di tengah rakyat yang tiap hari masih bergulat dengan pertanyaan “apa hari ini bisa makan?” Karena itu pula, saya mengusulkan agar istilah “korupsi” dihapus dari kamus, Sebab, korupsi telah berubah menjadi kebiasaan.
Begitulah kejahatan yang paling berbahaya. Perangai korupsi hingga “tidak tahu diri” dalam mitologi orang Manggarai Timur disebut dengan Poti Pong. Sosok setan hutan yang perangainya rakus, tidak mengenal manusia apalagi kemanusiaan. Ia telah kehilangan rasa kenyang. Ketika hutan habis, ia memakan ladang. Ketika ladang habis, ia memakan kampung. Ketika kampung habis, ia mulai memakan anak-anaknya sendiri.
Kini, Poti Pong sesungguhnya tidak tinggal di hutan. Ia tinggal di dalam manusia yang mengira kekuasaan adalah alat untuk meraup kekayaan. Ia hidup di kepala yang menganggap jabatan sebagai izin berburu harta. Ia tidak lagi hidup di hutan, ia hidup di kantor-kantor megah tempat rupiah-rupiah dipindahkan dari kolom anggaran ke rekening pribadi atau rekening selir.
Negeri ini juga patut memperoleh penghargaan internasional atas keberhasilannya menemukan energi terbarukan. Sebut saja tepuk tangan. Tepuk tangan tidak pernah habis dan telah menjadi konser dalam setiap pidato. Kadang tepuk tidak seirama dengan intonasi pidatonya. Dan itu adalah lakon paling ikonik untuk kerja penjilatan. Dalam konteks inilah persahabatan sebagai sandiwara agar peperangan kepentingan tidak kentara. Inilah parodi kaok wae yang sesungguhnya.
Di tengah cuaca korupsi yang kian parah, anak-anak di Manggarai Timur masih bermain kaok wae. Mereka saling melempar air dengan tawa yang jernih. Mereka berpura-pura bermusuhan agar persahabatan tetap tumbuh. Sedangkan para pejabat berpura-pura bersahabat agar kebohongan tetap hidup dan korupsi diternak dengan apik, santun dan atas nama Tuhan.
Dan menjadi rakyat Indonesia memang tidak gampang. Ia harus mempunyai jam tidur yang panjang agar ia dapat menikmati kekayaan negeri ini dalam mimpi. Sebab, kenyataan hanya menyodorkan menu penderitaan di atas piring republik yang kian keriput. Ia pun pergi menuju lembah kemiskinan itu diiringi lagu Indonesia Raya Tanah Airku begitu sayup.**











