Ketika Empati Dikalahkan Algoritma

Arsen Setiawan

Oleh: Arsen Setiaw

Kemajuan teknologi digital meningkat dengan sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Perkembangan ini bukan hanya menghadirkan kemudahan, tetapi juga secara perlahan membentuk cara manusia berpikir, berinteraksi, dan memaknai realitas sosial. Media sosial kini memainkan peran sentral dalam kehidupan masyarakat, terutama di kalangan remaja dan generasi muda. Ia tidak lagi sekadar sarana komunikasi, melainkan telah menjelma menjadi ruang utama kehidupan sosial itu sendiri.

Media sosial—seperti Facebook, Instagram, YouTube, TikTok, dan berbagai platform lainnya—digunakan sebagai ruang berinteraksi secara daring, berbagi informasi, mengekspresikan diri, sekaligus membangun identitas sosial. Survei perusahaan riset global YouGov mencatat bahwa 81 persen masyarakat Indonesia aktif menggunakan media sosial. Pengguna tersebut didominasi oleh Generasi Z, yakni mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012, sebagaimana dilaporkan Kompas.id. Data ini menunjukkan secara tegas bahwa aktivitas manusia hari ini semakin berpusat pada ruang digital, bahkan kerap lebih diutamakan dibanding relasi nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Kondisi ini membawa konsekuensi serius. Ketika interaksi sosial semakin dimediasi oleh layar, empati pun perlahan mengalami erosi. Kesadaran terhadap situasi orang lain melemah. Kepekaan sosial menurun. Etika dan moralitas dalam berkomunikasi semakin kabur. Media sosial yang semestinya menjadi ruang berbagi justru sering berubah menjadi ruang pamer tanpa batas. Fenomena ini tampak jelas dalam praktik berkonten, terutama pada mereka yang mengelola akun Facebook Profesional (FB Pro).

Pada mulanya, FB Pro dipromosikan sebagai ruang bagi konten-konten produktif, positif, dan informatif. Sebuah ruang yang menjanjikan kreativitas, edukasi, serta peluang ekonomi. Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit kreator yang justru mengedepankan kreativitas yang miskin nilai. Konten dibuat tanpa mempertimbangkan etika, tanpa empati, dan tanpa tanggung jawab moral. Bahkan, pada titik tertentu, sebagian kreator kehilangan batas antara kepentingan ekonomi dan martabat manusia.

READ  Mengapa Bunda Maria Layak Dihormati Setinggi-Tingginya?

Perlu disadari bahwa bermain media sosial—termasuk mengelola akun FB Pro—telah menjadi salah satu bentuk pekerjaan daring. Dari konten yang diunggah, seseorang bisa memperoleh penghasilan, bahkan hingga puluhan atau ratusan juta rupiah. Tidak ada yang salah dengan itu. Yang menjadi persoalan adalah apa yang dipamerkan, bagaimana cara memamerkannya, dan nilai apa yang disebarkan melalui konten tersebut. Ketika konten diposisikan sebagai sumber penghasilan, maka seharusnya ia membawa dampak positif, memberi edukasi, dan menumbuhkan pengaruh yang baik bagi publik.

Namun realitas hari ini justru menunjukkan sebaliknya. Situasi yang semestinya mengundang empati—seperti kecelakaan lalu lintas, musibah, atau peristiwa sosial yang menyedihkan—malah dijadikan bahan konten. Alih-alih menolong atau menunjukkan kepedulian, kamera justru dinyalakan. Peristiwa tragis diubah menjadi tema video. Bahasa khas kreator—seperti “salam berinteraksi”—disematkan di atas penderitaan orang lain. Semua itu dilakukan demi satu tujuan: meningkatkan like, komentar, gift, dan bintang.

Kondisi ini terasa sangat miris. Kesedihan direkam. Luka dipertontonkan. Duka dijadikan alat untuk meraih perhatian. Dalam logika semacam ini, empati tidak lagi hadir sebagai sikap moral, melainkan sebagai strategi konten. Yang dipentingkan bukan lagi kemanusiaan, melainkan algoritma.

READ  Adaptasi dan Kompromi dengan Kejahatan

Antropolog media Sahana Udupa menegaskan bahwa etika digital tidak bisa dipisahkan dari teknologi itu sendiri. Menurutnya, keputusan penting tentang konten daring harus melibatkan manusia yang memiliki kesadaran nilai, bukan semata diserahkan pada sistem otomatis dan algoritma platform (LMU Munich, 2021). Pandangan ini relevan dengan situasi hari ini, ketika kerja algoritma Meta justru berkontribusi pada perampasan etika dan moral manusia dalam ruang digital.

Algoritma bekerja berdasarkan perhatian, bukan kepedulian. Ia mengutamakan yang viral, bukan yang bermoral. Dalam skala global dan dalam kehidupan bernegara, memang penting bagi manusia untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Namun adaptasi itu tidak boleh mengorbankan nilai-nilai etika dan moral yang menjadi fondasi kehidupan sosial. Teknologi seharusnya melayani manusia, bukan sebaliknya.

Secara historis, manusia memang merupakan makhluk paradoksal. Di satu sisi, manusia adalah makhluk bebas—bebas berekspresi, bebas berkreasi, bebas mencari penghidupan. Namun di sisi lain, manusia juga makhluk yang terikat: terikat oleh sejarah, nilai sosial, agama, dan kehidupan bernegara. Kebebasan itu selalu berjalan berdampingan dengan tanggung jawab moral. Kebebasan tanpa etika bukan kemerdekaan, melainkan kekacauan.

Ironisnya, aturan konten Facebook Profesional 2025 sebenarnya telah mengatur dengan cukup jelas: kewajiban orisinalitas, larangan kekerasan dan pornografi, larangan eksploitasi tragedi, serta sanksi berupa demonetisasi hingga penutupan akun. Namun dari sekian banyak aturan tersebut, hanya sebagian kecil kreator yang benar-benar mematuhinya. Selebihnya masih dengan bebas menyebarkan video kecelakaan, korban meninggal, bencana alam, hoaks, dan konten bermasalah lainnya.

READ  Menimbang Ulang Dana Reses DPR: Antara Fungsi Aspirasi dan Efisiensi Anggaran

Situasi ini perlu mendapat perhatian serius, tidak hanya dari pihak platform, tetapi juga dari pemerintah. Pengawasan terhadap perilaku digital masyarakat tidak cukup hanya bersifat administratif atau teknis. Ia harus menyentuh dimensi etika dan moral kehidupan sosial. Media sosial adalah ruang publik baru, dan setiap ruang publik selalu menuntut tanggung jawab sosial dari penggunanya.

Hari ini, penderitaan orang lain terlalu sering dijadikan bahan tontonan. Kamera dinyalakan, video direkam, lalu disebarkan seolah rasa sakit adalah milik publik. Banyak yang berlindung di balik kata “empati”, padahal yang dilakukan justru memanfaatkan luka orang lain. Empati bukan alat. Bukan alat untuk konten. Bukan alat untuk popularitas. Bukan alat untuk terlihat paling peduli.

Jika kepedulian harus direkam, jika bantuan harus dipamerkan, dan jika air mata orang lain harus disebarluaskan, maka itu bukan empati. Itu eksploitasi. Penderitaan bukan hiburan. Kesedihan bukan komoditas. Martabat manusia tidak pernah diciptakan untuk mengejar likes dan views.

Kadang, sikap paling bermoral bukan ikut merekam, tetapi berani berhenti. Menutup kamera. Dan memperlakukan manusia sebagai manusia—bukan sebagai konten.

Likes mungkin bertambah. Namun ketika martabat berkurang, yang hilang bukan sekadar etika, melainkan kemanusiaan kita sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *