Oleh: Anton Darus
(Alumnus STFK Ledalero 1986/Unpad Bandung dan Pensiunan Dosen Filsafat Unwira Kupang)
Apakah dan siapakah manusia itu merupakan pertanyaan-pertanyaan sepanjang sejarah. Dapat kita pelajari dari berbagai buku filsafat tentang manusia yang ditulis oleh para filsuf moderen dan filsuf mutakhir. Filsuf moderen antara lain, Rene De Cartes, John Locke, etc. Filsuf mutakhir misalnya Driyarkara, Louis Leahy, Anton Bakker, etc. Tetapi pertanyaan kita kali ini adalah bagaimanakah evolusi manusia digital yang sedang kita rasakan sekarang?
Manusia Digital
Chris Skinnerr, seorang penulis buku Digital Bank dan Velue Web, di dalam bukunya yang berjudul “Manusia Digital”(2019), mengatakan bahwa ada empat tahap hidup kemanusiaan, yaitu pertama, menjadi manusia, kedua, hidup beradab, ketiga, peran Bank dan komersialisasi dalam hdup manusia dan tahap keempat adalah manusia Digital.
Kerangka pemikiran ini memberikan gambaran tentang evolusi peradaban yang cukup tajam, mulai dari eksistensi biologis hingga penggabungan kesadaran dengan teknologi:
1. Tahap
Menjadi
Manusia
(Eksistensi
Biologis &
Kesadaran).
Tahap ini, fondasi paling dasar. Fokus utamanya adalah transisi dari sekadar makhluk hidup menjadi entitas yang memiliki kesadaran diri *(self-awareness)*
Karakteristiknya adalah pengembangan alat batu, bahasa dasar, dan kemampuan bekerja sama dalam kelompok kecil (pemburu- pengumpul).
Intisarinya, kemampuan memahami “Aku” dan “Kita” dalam konteks bertahan hidup dari alam liar.
*2. Hidup
Beradab
(Sistem
Sosial &
Budaya).
Setelah manusia mulai menetap (revolusi agrikultur), lahirlah kebutuhan akan struktur yang lebih kompleks.
Karakteristiknya adalah pembentukan hukum, agama, seni, dan etika. Manusia tidak lagi hanya fokus pada “apa yang bisa dimakan,” tetapi “bagaimana kita hidup bersama secara teratur.”
Intinya, penciptaan norma dan nilai-nilai yang menjamin keberlangsungan masyarakat dalam skala besar.
*3. Bank dan
Komersialisasi
(Sistem Nilai &
Pertukaran).
Tahap ini menandai pergeseran di mana interaksi manusia mulai dimediasi oleh nilai abstrak (uang).
Karakteristiknya adalah munculnya kapitalisme, revolusi industri, dan institusi keuangan. Fokus bergeser pada efisiensi, kepemilikan, dan akumulasi modal. Intinya, segalanya —termasuk waktu dan tenaga manusia —menjadi komoditas yang dapat diperjual- belikan. Peradaban diukur dari pertumbuhan ekonomi.
*4. Manusia
Digital
(Eksistensi
Virtual & AI).
Ini tahap yang sedang kita jalani saat ini, di mana batas antara realitas fisik dan ruang siber mulai kabur. Karakteristiknya, data menjadi komoditas yang paling berharga. Identitas manusia tidak lagi hanya fisik, melainkan juga algoritma. Kita hidup dalam “perang informasi” di mana kebenaran sering kali tertutup oleh arus data.
Intisarinya, tantangan terbesar di tahap ini, mempertahankan literasi logika agar tidak kehilangan kemanusiaan (tahap 1) di tengah dominasi mesin.
Menarik melihat tahap ke-3 dan ke-4 sering jalan beriringan saat ini, menciptakan tantangan baru di mana logika dan deteksi informasi menjadi keterampilan bertahan hidup yang setara dengan berburu di tahap pertama.
Manusia digital mengeksplorasi transformasi 1) Dominasi raksasa digital global 2) Struktur finansial baru 3) Disrupsi yang membawa Bitcoin 4) kebangkitan robot 5) Kejatuhan bank.
Transformasi menuju Manusia Digital memang tidak hanya mengubah cara berkomunikasi, tetapi kita merombak total struktur kekuasaan dan ekonomi yang telah mapan selama berabad-abad:
*1. Dominasi
Raksasa
Digital
Global
Kekuasaan kini tidak lagi hanya dipegang oleh negara berdaulat, melainkan oleh perusahaan teknologi transnasional yang menguasai data.
Timbul feodalisme digital dimana perusahaan- perusahaan ini menyediakan “lahan” (platform) tempat kita beraktivitas. Sebagai imbalannya, mereka memanen data kita sebagai “pajak” modern.
Algoritma diperlakukan sebagai Hukum. Perilaku konsumsi dan opini publik kini lebih banyak disetir oleh algoritma daripada kebijakan pemerintah.
*2. Struktur
Finansial
Baru
Manusia digital mulai meninggalkan perantara tradisional. Kita bergerak menuju ekosistem finansial yang lebih cair, cepat, dan otomatis.
Timbul layanan keuangan Fintech & DeFi. Layanan keuangan kini bisa diakses hanya melalui ponsel, memangkas birokrasi yang selama ini menjadi penghalang di sistem konvensional.
Maka itu, data diperlakukan sebagai jaminan. Dalam struktur baru ini, reputasi digital dan jejak data sering kali menjadi aset yang lebih berharga daripada aset fisik.
*3. Disrupsi
Bitcoin &
Desentralisasi.
Munculnya Bitcoin merupakan “momen Copernicus” dalam sejarah uang. Ia menawarkan alternatif terhadap monopoli negara atas mata uang.
Muncul juga kepercayaan tanpa perantara. Melalui teknologi blockchain, manusia digital bertransaksi secara global tanpa perlu memercayai institusi pusat.
Terjadi kelangkaan digital. Bitcoin memperkenalkan konsep kelangkaan di dunia digital yang sebelumnya serba bisa digandakan, menciptakan standar nilai baru yang imun terhadap inflasi kebijakan.
*4. Kebangkitan
Robot &
Kecerdasan
Buatan (AI).
Otomatisasi tidak lagi hanya menyentuh pekerjaan fisik (robotika), tapi juga pekerjaan kognitif melalui AI. Maka terjadilah pergeseran peran dimana manusia digital ditantang menemukan relevansi baru ketika tugas- tugas logis dan tugas-tugas administratif diambil alih oleh mesin yang lebih efisien. Terjadi suatu relasi simbiosis. Tapi tantangannya, bagaimana manusia dapat mengarahkan AI sebagai alat, bukan membiarkan diri menjadi obyek yang dikendalikan instruksi mesin.
*5. Kejatuhan
Bank
(Institusi
Tradisional)
Sistem perbankan tradisional yang lambat dan mahal menghadapi ancaman eksistensial. Terjadi krisis kepercayaan, ketika masyarakat menyadari bahwa mereka menyimpan dan mengirim nilai secara mandiri, relevansi bank sebagai “penjaga gerbang” mulai luntur.
Kita memilih digitalisasi atau mati dimana bank-bank besar terpaksa bertransformasi jadi perusahaan teknologi atau berisiko jadi artefak sejarah seperti kantor pos di era email.
Manusia digital bukan sekadar pengguna internet, melainkan subjek dalam tatanan dunia baru di mana desentralisasi dan algoritma menjadi hukum yang dominan. Kunci bertahan dalam transisi ini adalah kemampuan membedakan mana nilai yang nyata dan mana yang sekadar distorsi digital.
Kita hidup dalam era penciptaan kemanusiaan generasi baru. Apa lagi yang akan ada di masa depan nanti? Kita memang sedang berada di titik balik evolusi. Jika sebelumnya adaptasi manusia terhadap teknologi, maka masa depan akan bergeser menjadi penyatuan manusia dengan teknologi. Pilar- pilar utama yang diprediksi membentuk kemanusiaan generasi baru di masa depan:
*1. Kedaulatan
Identitas
Biometrik &
Genetik
Setelah era data perilaku (sosial media), kita akan masuk ke era di mana identitas manusia menyatu dengan kode genetiknya.
Gejala sedang munculnya Bio-Hacking yaitu kemampuan “mengedit” kekurangan biologis menggunakan teknologi seperti CRISPR. Generasi masa depan mungkin memiliki daya tahan tubuh yang dirancang secara digital. Muncul pula identitas tanpa dokumen yaitu tubuh anda adalah paspor, kunci, dan dompet anda. Kehilangan privasi biologis akan menjadi tantangan etis terbesar.
*2. Ekonomi
Kesadaran
(Attention &
Neural
Economy)
Jika hari ini kita bergelut dengan komersialisasi data, masa depan mengeksplorasi komersialisasi langsung dari pikiran. Sekarang sedang muncul Brain-Computer Interface (BCI). Teknologi seperti Neuralink akan memungkinkan manusia terhubung langsung ke internet melalui pikiran. Belajar bukan lagi soal membaca, melainkan “mengunduh” informasi.
Sedang muncul juga kemampuan pasar memori yaitu kemampuan merekam dan memperdagangkan pengalaman sensorik secara digital, membuat batasan antara “pengalaman nyata” dan “simulasi” menjadi sepenuhnya hilang.
*3. Integritas
Logika dalam
Kabut Sintetis
Di masa depan, dunia akan dipenuhi oleh konten yang 99% dihasilkan oleh AI *(Synthetic Media)*.
Kini sedang terjadi Krisis Kebenaran. Tantangan terberat bukan lagi mencari informasi, tapi memverifikasi apa yang asli. Manusia yang memiliki logika tajam dan kemampuan deteksi pola akan menjadi “elit” baru.
Akan muncul kemampuan Kurasi vs Konsumsi yaitu kemampuan manusia untuk tetap memiliki kehendak bebas (free will) di tengah algoritme yang memprediksi keinginan kita sebelum kita sendiri menyadarinya.
*4. Era Pasca-
Kerja (Post-
Scarcity
Society)
Dengan robotika yang mengelola produksi fisik dan AI yang mengelola administrasi, konsep “bekerja untuk hidup” akan runtuh. Akan kita saksikan Universal Basic Income (UBI) Digital di mana Negara atau entitas digital global harus menyediakan tunjangan dasar pekerja karena pekerjaan manusia telah digantikan.
Untuk mencari makna hidup, manusia akan kembali ke pertanyaan purba: “Apa yang harus saya lakukan jika saya tidak harus bekerja?” Seni, filsafat, dan eksplorasi ruang angkasa akan menjadi fokus utama.
*5. SeKewarga-
negaraan
Digital
Global
(Decentralized
Nations)
Batas negara fisik menjadi kurang relevan dibandingkan komunitas berbasis nilai di blockchain. Akan muncul Negara Awan *(Cloud States)* yaitu kelompok orang yang terikat oleh kontrak pintar (smart contracts) dan mata uang kripto yang sama, memiliki hukum sendiri, meski mereka tinggal di belahan bumi yang berbeda secara fisik.
Di masa depan, kemanusiaan tidak lagi didefinisikan anatomi tubuh, melainkan oleh kualitas kesadaran dan ketajaman logika dalam membedakan realitas di tengah dunia yang sepenuhnya terdigitalkan. Kita memang terlahir sebagai “given”. Tetapi kita sedang menuju era di mana menjadi manusia adalah sebuah pilihan sadar, bukan lagi sekadar anugerah biologis.*











