Diding: Nyanyian Persatuan dari Manggarai yang Menggema di Kupang

Pada acara syukuran Natal dan Tahun Baru bersama keluarga besar Niang Todo serta keluarga Manus, sebuah lagu Manggarai berjudul “Diding” mengalun penuh makna. Lagu itu didendangkan oleh Matheus Dasal saat memberikan sambutan mewakili Ketua IKMR.

Bukan sekadar nyanyian pembuka atau penutup acara, Diding hadir sebagai pesan kultural, seruan persaudaraan, dan refleksi nilai-nilai hidup orang Mnggarai yng relevan lintas wakt u dan tempat.

Syair atau goet Manggarai yang dinyanyikan Matheus Dasal menggugah kesadaran kolektif tentang arti kebersamaan.

“Diding ite ca ame neka koe woleng tae ta diding a Diding ite ca ine neka koe pande bike ta diding a”

Syair ini mengandung pesan mendalam bahwa kita yang berasal dari satu bapa tidak boleh berbeda pendapat secara memecah, dan kita yang lahir dari satu mama tidak boleh menciptakan perpecahan. Dalam filosofi Manggarai, relasi darah dan asal-usul adalah fondasi utama persatuan.

READ  Sebuah Keteladanan dari Joao: Mundur dengan Kepala Tegak

Pesan itu dipertegas lagi dalam bait berikut:

“Nai ca anggit ta diding Tuka ca leleng ta diding a Mai ge lawa e”

Artinya, satu hati dan satu perasaan dalam satu lingkaran perut, simbol kesatuan yang utuh. Bukan hanya secara fisik, tetapi juga batin dan niat.

Makna Diding tidak berhenti pada lingkup keluarga inti. Lagu ini juga menyentuh dimensi sosial yang lebih luas:

“Diding ite ca golo neka koe woleng tombo ta diding a Diding ite ca natas neka koe woleng bantang ta diding a”

Syair ini adalah himbauan bgi mereka yng berasal dari satu kampung dan satu tanah agar tetap bersatu, tidak tercerai karena perbedaan pandangan, kepentingan, atau situasi. Kampung (golo dan natas) menjadi simbol identitas bersama yang harus dijaga, terutama bagi masyarakat Mnggarai di tanah rantau seperti Kupang.

READ  Menangkap Sari dari Rencana Syukuran Tahun Baru Diaspora Manggarai Kupang

Lagu sebagai Sambutan, Pesan sebagai Warisan

Ketika Mateus Dasal memilih Diding sebagai bagian dari sambutannya dalam acara arisan keluarga besar Niang Todo, Manus, dan Mukun Kupang, ia sesungguhnya sedang menghidupkan kembali tradisi lisan Manggarai sebagai media edukasi sosial. Lagu mejadi jembatan antara generasi tua dan muda, antara kampung halaman dan tanah perantauan.

Dalam konteks Natal dan Tahun Baru, Diding terasa semakin relevan. Ia sejalan dengan semangat kasih, rekonsiliasi, dan pembaruan hidup. Lagu ini mengingatkan bahwa perayaan iman dan pergantian tahun akan kehilangan makna jika persaudaraan retak dan kebersamaan terabaikan.

READ  Selamat Jalan Mawar Cinta

Diding, Suara Hati Orang Manggarai

Diding bukan hanya lagu. Itu adalah suara hati orang Manggarai tentang persatuan, kesetiaan pada asal-usul, dan tanggung jawab menjaga harmoni. Melalui dendangan Matheus Dasal, lagu ini kembali menemukan ruangnya. Bukan di panggung seni, tetapi di tengah keluarga, komunitas, dan perjumpaan yang penuh kehangatan.

Di Kupang, jauh dari tanah Manggarai, Diding mengingatkan satu hal penting. Di mana pun berada, orang Manggarai tetap satu bapa, satu mama, satu kampung, dan satu hati. Ya begitulah… (Juan Pesau)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *