oleh Marselus Natar (rohaniawan Katolik pada Kongregasi Frater-Frater Bunda Hati Kudus, penulis buku kumpulan cerpen dengan judul Usaha Membunuh Tuhan).
Tidak semua kematian harus berakhir di atas tempat tidur dalam rumah. Sebagian berakhir di atas tempat tidur sebuah rumah sakit, di bawah pohon, dalam seutas tali, di trotoar pinggir jalan, di atas kursi, di dalam kamar sebuah hotel yang tak pernah mengenal nama penghuninya, hanya nomor yang digantung di pintu dan lembar tagihan yang harus dilunasi sebelum seseorang pergi. Di tempat-tempat seperti itu, hidup sering kali ditanggalkan tanpa saksi. Yang tertinggal hanyalah bau pendingin ruangan, seprei yang kusut, selimut serta bantal yang tergeletak di lantai dan hawa tubuhnya yang kuat terasa di hidung.
Begok ditemukan pada sebuah pagi yang basah. Hujan semalam masih menyisakan genangan di halaman hotel ketika petugas membuka pintu kamar. Betapa terkejut, ketika ia menyaksikan sesosok tubuh terbujur di sisi ranjang. Wajahnya tenang, seolah ia hanya terlambat bangun. Gelas di atas meja masih berisi separuh air. Televisi menyala tanpa suara. Pendingin ruangan tetap bekerja dengan setia, seakan tidak pernah terjadi sesuatu yang mengubah satu kehidupan menjadi seonggok tubuh yang dingin.
Tidak ada tanda-tanda fisik, misalnya bekas luka akibat sabetan senjata tajam, benturan benda keras semacam kayu, batu, linggis serta bekas perkelahian seperti memar atau lebam akibat tertinju, dicekik, ditendang, diinjak.
Menjelang siang, kabar itu telah melampaui jarak yang mampu ditempuh sepeda motor. Telepon-telepon berdering tanpa henti. Foto-foto hotel berpindah dari satu layar ke layar lain. Nama Begok, yang selama ini hanya dikenal oleh orang-orang sekampung, mendadak menjadi milik banyak orang yang tak pernah sekalipun berjabat tangan dengannya. Di bawah unggahan-unggahan itu, dugaan tumbuh lebih cepat daripada kenyataan. Ada yang menyebut pembunuhan, ada yang mencium aroma konspirasi, ada pula yang merasa paling dekat dengan kebenaran hanya karena pernah menonton film kriminal.
Sementara itu, tubuh Begok sedang dibedah oleh orang-orang yang percaya bahwa setiap kematian meninggalkan jejak yang dapat dibaca. Hasil pemeriksaan justru menambah panjang lorong pertanyaan. Tidak ada racun dalam lambungnya. Tidak ada tulang yang patah pun remuk. Tidak ada pembuluh yang robek akibat benturan. Dokter hanya menuliskan satu kemungkinan yang paling masuk akal: serangan jantung. Kalimat itu terdengar seperti sebuah ikhtisar atas apa yang terjadi. Namun, beberapa orang bersikap kritis, kepala mereka dijejali satu pernyataan singkat: hasil pemeriksaan terlalu sederhana, bahkan, untuk menutup rasa ingin tahu yang telanjur membesar.
Sore harinya ambulans memasuki kampung.
Orang-orang yang sejak tadi menunggu di tepi jalan berjalan pelan mengikuti kendaraan itu. Ratap tangis keluarga dan sahabat kenalan memecah keheningan. Duka yang datang terlalu mendadak membuat tangisan terdengar melampaui Ovos nyanyian ratapan Jum’at Agung di Larantuka.
Ketika peti hendak diangkat memasuki rumah, beberapa lelaki tua mengangkat tangan. Sebuah isyarat yang cukup untuk membuat semua langkah berhenti.
“Tidak.”
Mereka lalu memutar arah dan meletakkan peti itu di beranda, tepat di depan pintu utama.
Di kampung itu, siapa pun yang meninggal dengan cara yang dianggap tidak wajar tidak pernah melewati ambang rumah untuk terakhir kalinya. Sejak kapan kebiasaan itu dimulai, tak ada yang mampu menjawab. Barangkali tradisi memang tidak lahir dari jawaban, melainkan dari pengulangan yang akhirnya diterima sebagai kebenaran.
Beranda menjadi batas.
Di satu sisi ada rumah, tempat segala percakapan tentang kehidupan pernah tumbuh. Di sisi lain terbentang halaman yang menghadap jalan, tempat dunia datang membawa kabar, lalu pergi meninggalkan kenangan.
Begok dibaringkan tepat di antara keduanya.
Ibunya keluar dari dalam rumah dengan langkah yang nyaris tak terdengar. Wajah perempuan tua itu tidak dipenuhi tangis. Kesedihan yang telah melewati batas tertentu sering kali tidak lagi menemukan jalan menuju air mata. Ia duduk di samping peti, meletakkan telapak tangannya di atas peti yang dingin, lalu memandang pintu rumah yang hanya berjarak beberapa jengkal.
Semua orang tahu, Begok lahir dari balik pintu itu. Belajar berjalan dari ruang tamu menuju halaman. Namun, pada kepulangan terakhirnya, pintu itu tidak lagi terbuka untuknya.
Perempuan tua itu tidak bertanya kepada siapa pun. Ia hanya berbisik, pelan sekali, seolah takut mengganggu seseorang yang sedang tidur.
“Mungkin memang ada pulang yang tidak sampai.”
Kalimat itu pendam bersama kegetiran hatinya yang amat dalam. Tak seorang pun yang sekadar menyambung atau menjawabnya.
Malam turun perlahan. Orang-orang mulai berdatangan untuk berdoa. Lilin dinyalakan. Cahaya kecilnya bergoyang ditiup angin, memantulkan bayangan yang bergerak di dinding rumah seperti kenangan yang enggan diam.
Di antara doa-doa yang melambung, tak seorang pun menyadari bahwa misteri itu baru saja membuka pintunya yang pertama. Malam pertama selalu mempunyai cara sendiri untuk menguji orang yang ditinggalkan.
Sesudah doa-doa usai, sesudah para pelayat pulang membawa sisa-sisa percakapan yang belum menemukan ujungnya, rumah itu kembali tenggelam dalam kesunyian. Hanya nyala lilin di dekat peti yang sesekali bergoyang diterpa angin. Cahaya itu membuat bayangan memanjang di lantai beranda, lalu memendek lagi, seolah malam sedang menarik dan mengulur napasnya sendiri.
Di dalam rumah, tak seorang pun benar-benar tidur.
Mereka hanya merebahkan tubuh, membiarkan mata terpejam tanpa pernah berhasil memanggil lelap.
Adik perempuan Begok adalah orang pertama yang akhirnya tertidur menjelang dini hari.
Dalam tidurnya ia melihat jalan kecil yang biasa dilewati Begok ketika pulang dari kebun semasa muda. Jalan itu masih sama; tanahnya merah, rumput liar yang tumbuh subur di tepi jalan, dan pohon asam di tikungan masih berdiri dengan batang yang miring. Hanya satu hal yang berbeda. Begok berjalan dari arah yang berlawanan. Ia tidak membawa apa pun. Tidak pula mengenakan pakaian yang dipakaikan keluarga saat pemakaman. Wajahnya bersih, bahkan tampak lebih muda daripada yang diingat adiknya.
“Ada apa, Kak?” tanyanya.
Begok tidak segera menjawab. Ia hanya tersenyum, sebagaimana biasanya.
“Hapeku…”
“Hapemu kenapa?”
“Buka.”
“Aku tidak tahu sandinya.”
Begok mengangkat telunjuknya. Dengan gerakan perlahan, ia menggambar sesuatu di udara.
Turun.
Lalu ke kanan.
Membentuk huruf L.
Sesudah itu ia memandang adiknya cukup lama. Tatapan itu tidak mengandung ketakutan, juga tidak menyimpan kemarahan. Hanya ada kelelahan yang sulit diterjemahkan oleh bahasa.
Lalu semuanya lenyap.
Adiknya terbangun dengan dada berdebar.
Ia meneguk air, mencoba mengusir mimpi itu dari kepalanya. Menjelang subuh, ia bahkan sempat menertawakan dirinya sendiri.
Barangkali itu hanya cara pikirannya menolak kehilangan.
Pagi harinya ia memilih diam.
Ia tak ingin menambah beban ibunya dengan cerita yang mungkin hanya bunga tidur.
Namun, malam kedua menghadirkan keganjilan yang tak lagi mudah disangkal.
Kali ini ibu mereka yang bermimpi.
Dalam mimpinya, Ia melihat Begok berdiri di beranda, persis di tempat petinya semalam diletakkan. Ia memandang pintu rumah yang tertutup, lalu menoleh kepada ibunya.
“Bu…”
Perempuan tua itu menangis dalam mimpi.
“Kau sudah pulang?”
Begok menggeleng pelan.
“Hapeku…”
Ibunya mengusap wajah anaknya seperti ketika ia masih kecil.
“Kau butuh apa, Nak?”
“Buka hapeku.”
“Ibu tidak tahu.”
Begok kembali menggambar satu pola dengan ujung jarinya.
Turun.
Belok ke kanan.
Huruf L.
Lalu tubuhnya menghilang dari pandangan ibunya.
Ketika terbangun, perempuan tua itu tidak langsung menceritakan mimpinya. Ia hanya duduk lama di dapur sambil memandangi air yang mendidih di dalam periuk. Sesekali bibirnya bergerak, mengulang-ulang bentuk yang tak dapat diucapkan.
Huruf L.
Menjelang siang, adik Begok akhirnya memberanikan diri bercerita.
Belum selesai ia mengisahkan mimpinya, wajah ibunya berubah pucat.
Mereka saling berpandangan cukup lama.
Tak ada yang perlu dijelaskan.
Mereka telah melihat lelaki yang sama.
Mendengar kalimat yang sama.
Melihat gerakan jari yang sama.
Mereka menangis histeris sejadinya. Orang-orang berdatangan.
Hari itu rumah kembali dipenuhi pelayat.
Namun, untuk pertama kalinya, percakapan mereka tidak lagi hanya berkisar pada penyebab kematian Begok.
Ada sesuatu yang lebih ganjil.
Sesuatu yang tidak berani mereka ucapkan keras-keras.
Menjelang malam ketiga, sepupu Begok datang dengan wajah gelisah.
“Aku semalam bermimpi tentang dia.”
Tak lama kemudian, sahabat lamanya yang tinggal di kampung sebelah muncul dengan cerita yang serupa.
Dua hari setelah pemakaman, mantan kekasih Begok –yang telah bertahun-tahun menikah dengan orang lain– diam-diam menemui ibunya. Perempuan itu duduk cukup lama sebelum akhirnya berkata lirih,
“Aku tidak tahu apakah Ibu akan percaya… tapi semalam Begok datang.”
Tak ada seorang pun menertawakannya.
Sebab sebelum ia selesai bercerita, semua orang telah mengetahui akhir kisah itu.
“Hapeku…”
“Buka…”
“Pola huruf L…”
Kalimat itu berpindah dari satu mimpi ke mimpi yang lain, seperti doa yang sengaja dihafalkan oleh seseorang.
Lama-kelamaan, mimpi itu menjalar ke seluruh kampung.
Orang-orang mulai mengurangi pembicaraan tentang hotel.
Tak banyak lagi yang menyinggung hasil autopsi.
Mereka justru sibuk bertanya-tanya tentang sebuah telepon genggam yang tak pernah ditemukan.
Keluarga mencari ke setiap sudut rumah.
Lemari dibongkar. Laci dibuka satu per satu. Tas, pakaian, bahkan karung-karung lama di gudang ikut diperiksa.
Tidak ada
Polisi mengatakan telepon itu tidak ditemukan di kamar hotel. Petugas hotel bersumpah tak pernah melihatnya. Barang-barang Begok yang diserahkan kepada keluarga pun tak memuat benda itu.
Seolah telepon kecil itu menguap bersama napas terakhir pemiliknya.
Suatu sore, ketika hujan turun rintik-rintik dan orang-orang duduk menghangatkan kopi di bawah emper rumah, seorang lelaki renta yang ikut memandikan jenazah Begok mendadak menghentikan ceritanya.
Keriput di dahinya mengeras.
“Aneh…”
Semua mata beralih kepadanya.
“Aku baru ingat…”
Ia memejamkan mata beberapa saat, seperti sedang menyusun kembali serpihan ingatan yang hampir lapuk dimakan usia.
“Waktu kami mengganti bajunya… seingatku… ada sesuatu yang berat di saku kemejanya.”
Tak ada yang menyela.
“Awalnya kukira dompet.”
Ia menarik napas panjang.
“Sekarang baru terpikir… jangan-jangan…”
Kalimat itu tidak pernah selesai.
Namun setiap orang di beranda telah mendengar ujungnya, meski tak satu pun terucap.
Angin sore tiba-tiba terasa lebih dingin dari biasanya.
Di kejauhan, azan magrib dan dentang lonceng gereja hampir bersamaan mengisi langit.
Bagaimana jika telepon itu ikut dikuburkan bersama Begok? Ungkap seorang pemuda yang secara spontan memecah keheningan. Semua mata tertuju kepadanya. Tidak ada satupun yang menimpalinya.
Esok paginya, langit menggantung rendah. Awan bergerak pelan, merendah di atas bubungan rumah warga, seolah ikut menimbang keputusan yang tak pernah dibayangkan akan diambil oleh keluarga mana pun.
Membuka kembali makam seseorang selalu terdengar seperti mengusik ketenangan orang mati. Namun, dalam hidup, ada kalanya yang mati justru lebih gelisah daripada yang masih hidup.
Setelah berunding dengan keluarga, para tetua adat, pemuka agama, dan pihak berwenang, izin akhirnya diberikan.
Kendati demikian, sebenarnya tidak ada yang benar-benar rela.
Tetapi tak ada pula yang sanggup mengabaikan mimpi yang datang bergantian kepada orang-orang yang bahkan tak lagi saling berhubungan.
Pagi itu, hanya sedikit orang yang ikut ke pemakaman.
Sebagian karena merasa takut. Sebagian lagi karena tak tega menyaksikan tanah yang baru beberapa hari mengeras kembali dicangkul.
Kuburan Begok berada di bawah pohon Kelapa yang telah tumbuh jauh sebelum ia dilahirkan. Daun-daunnya bergesekan pelan ditiup angin. Sesekali seekor burung hinggap sebentar, lalu terbang lagi, seakan memahami bahwa hari itu manusia sedang sibuk dengan urusannya sendiri.
Tidak terdengar banyak percakapan selai bunyi cangkul, pelan, teratur, menghantam tanah yang masih lembap. Setiap ayunan seolah mengorek kembali kesedihan yang belum sempat mengering.
Ketika peti itu akhirnya terangkat, tak seorang pun berani mendekat.
Ayah Begok memilih memalingkan wajah.
Ibunya memejamkan mata sambil menggenggam Rosario yang sejak hari kematian anaknya tak pernah lepas dari telapak tangannya.
Tutup peti dibuka perlahan.
Tak ada yang berubah selain bau kayu yang semakin pekat.
Seorang lelaki yang ikut memandikan jenazah beberapa hari sebelumnya merogoh pelan saku kemeja yang dikenakan Begok.
Tangannya berhenti.
Lalu perlahan ia mengeluarkan sebuah telepon genggam.
Semua orang mengamati sambil menutup hidung. Hening.
Barangkali keheningan jauh lebih fasih mengungkapkan rasa terkejut daripada teriakan.
Benda itu masih utuh.
Lumpur belum sempat menjangkaunya.
Seseorang mengusap layar dengan ujung lengan bajunya.
Hitam. Lalu menyala.
Baterainya tinggal dua puluh persen.
Adik Begok menerima telepon itu dengan tangan gemetar.
Ia menarik napas panjang.
Kemudian, tanpa berkata apa-apa, telunjuknya mulai bergerak di atas layar.
Turun.
Belok ke kanan.
Membentuk huruf L.
Layar terbuka.
Tidak seorang pun berebut melihat. Tidak ada yang mengira bahwa sebuah benda sekecil itu sanggup menyimpan beban sebesar ini.
Di halaman pertama tidak tampak sesuatu yang ganjil.
Foto-foto biasa.
Nomor telepon.
Beberapa lagu.
Percakapan yang terputus.
Namun, sebuah aplikasi yang terletak di sudut layar menarik perhatian adiknya.
Ikonnya penuh warna.
Terlalu cerah untuk pagi yang muram.
Ia menyentuhnya.
Yang terbuka bukan sekadar permainan.
Di sana tersimpan riwayat yang panjang.
Setoran demi setoran.
Nominal yang mula-mula kecil, lalu membesar tanpa terasa.
Kemenangan-kemenangan receh yang selalu disambut dengan taruhan yang lebih tinggi.
Kekalahan yang dibalas dengan keyakinan bahwa putaran berikutnya pasti berbeda.
Di sela-sela itu, bermunculan pemberitahuan pinjaman.
Tagihan.
Ancaman.
Permintaan agar segera melunasi utang.
Percakapan dengan teman-teman yang meminjamkan uang.
Alasan-alasan yang ternyata tak pernah benar.
Seseorang menggulir layar hingga ke bagian paling bawah.
Riwayat itu seperti tak mengenal akhir.
Malam demi malam.
Hari demi hari.
Angka-angka terus bergerak.
Uang datang.
Uang pergi.
Lalu, pada catatan yang tersimpan tanpa pernah terkirim, mereka menemukan beberapa kalimat. Bukan wasiat.
Hanya serpihan isi kepala seseorang yang terlalu lama berbicara kepada dirinya sendiri.
”Kalau berhenti sekarang, semua yang hilang menjadi sia-sia.”
Beberapa baris di bawahnya tertulis lagi,
”Satu putaran lagi.”
Lalu,
”Sedikit lagi.”
Dan pada catatan yang paling akhir,
”Kalau kali ini juga kalah, aku tidak tahu lagi harus pulang membawa wajah yang bagaimana.”
Riwayat permainan berhenti beberapa menit sebelum waktu yang diperkirakan sebagai saat kematiannya.
Putaran terakhir menelan seluruh sisa uang di rekening.
Tidak bersisa sepeserpun.
Telepon itu perlahan berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain.
Tidak ada yang sanggup mengucapkan apa pun.
Mereka datang ke makam itu dengan dugaan akan menemukan pembunuh.
Yang mereka temukan justru seorang manusia yang telah lama berperang melawan dirinya sendiri.
Dokter memang menulis bahwa Begok meninggal akibat serangan jantung.
Kini kalimat itu terasa memiliki arti yang lain.
Jantungnya bukan hanya berhenti karena tubuhnya lelah.
Barangkali ia telah lebih dahulu patah oleh sesuatu yang tak pernah terlihat di hasil autopsi.
Rasa malu.
Harapan yang dipelihara terlalu lama.
Keinginan untuk menang sekali saja.
Dan keyakinan bahwa sesudah satu kemenangan, hidup akan kembali seperti semula.
Tak ada pisau yang menikam Begok.
Tak ada tangan yang mencekiknya.
Namun, selama berbulan-bulan, sesuatu telah menggerogoti dirinya sedikit demi sedikit.
Bukan tubuhnya.
Melainkan keberaniannya untuk menerima kenyataan.
Makam itu kembali ditutup menjelang sore.
Tanah diratakan seperti semula.
Rumput yang tercabut ditanam kembali.
Tak ada lagi yang perlu dicari.
Anehnya, sejak hari itu, tak seorang pun bermimpi didatangi Begok.
Ia seolah benar-benar pergi.
Barangkali karena pesan yang dipikulnya telah sampai kepada orang-orang yang ditinggalkannya.
Beberapa bulan kemudian, telepon genggam itu disimpan di dalam sebuah laci tua di rumah ibunya.
Tak pernah dinyalakan lagi.
Tak pernah pula dibuang.
Sesekali, ketika membersihkan rumah, perempuan tua itu mengusap benda tersebut dengan kain kering. Bukan karena ia ingin membuka kembali kenangan, melainkan karena ia takut debu membuat orang lupa.
Sebab yang paling mudah hilang dari ingatan manusia bukanlah nama seseorang.
Melainkan alasan mengapa ia kehilangan hidupnya.
Di kampung itu, anak-anak masih bermain di halaman ketika senja turun. Lelaki-lelaki masih berkumpul di gardu bambu. Perempuan-perempuan masih menjemur padi di pelataran rumah. Hidup terus bergerak, seolah tidak pernah kehilangan siapa pun.
Hanya saja, sesekali, jika malam terlalu sunyi dan cahaya dari layar telepon memantul di wajah seorang anak muda yang sedang menatap putaran demi putaran dengan mata penuh harap, orang-orang tua akan saling berpandangan.
Mereka mengingat satu huruf yang pernah datang berkali-kali melalui mimpi.
L.
Huruf yang mula-mula membuka layar sebuah telepon.
Lalu membuka sebuah rahasia.
Dan, tanpa disadari, membuka mata banyak orang bahwa tidak semua liang kubur digali oleh cangkul.
Sebagiannya digali perlahan oleh harapan yang keliru, malam demi malam, sampai akhirnya seseorang mengubur dirinya sendiri, jauh sebelum tubuhnya benar-benar dibaringkan di dalam tanah.











