Catatan Valensius Ngardi (Narsum Seminar)
detakpasifik, — Suasana berbeda terasa di Aula Gitang Sang Surya, Sekadau, Kalimantan Barat. Selama dua hari, 25-26 September 2026, ruang pertemuan itu tidak hanya menjadi tempat berkumpul para guru dan karyawan, tetapi juga menjadi ruang untuk berhenti sejenak, berbagi pengalaman, dan kembali bertanya tentang makna menjadi seorang pendidik. Sebanyak 58 guru dan karyawan TK St Gema dan SD Slamet Riyadi mengikuti kegiatan pada hari pertama. Pada hari berikutnya, sekitar 60 guru dan karyawan dari SMP St Gabriel dan SMA Karya Sekadau mengikuti kegiatan yang sama. Seminar tahunan yang diselenggarakan Yayasan Badan Karya Keuskupan Sanggau Perwakilan Sekadau itu mengangkat tema “Memeluk, Merawat, dan Mencintai Panggilan sebagai Guru.” Tema tersebut menjadi ajakan bagi para pendidik untuk menyegarkan kembali motivasi dan kesadaran bahwa tugas mereka di sekolah bukan sekadar pekerjaan, melainkan pelayanan kepada generasi muda.
Suasana pembinaan berlangsung santai dan dinamis. Sesekali terdengar tawa ketika peserta mengikuti permainan dan ice breaking. Namun, suasana segera berubah serius ketika para guru mulai berdiskusi mengenai persoalan yang mereka hadapi di sekolah. Dalam kelompok-kelompok kecil, peserta membahas berbagai persoalan pendidikan melalui studi kasus. Mereka kemudian mempresentasikan hasil diskusi di hadapan peserta lain. Cara ini membuat pengalaman sehari-hari para guru menjadi bahan pembelajaran bersama.
Pembinaan berlangsung dalam dua sesi. Pada sesi pertama, peserta diajak mengikuti dinamika kelompok dan studi kasus. Mereka diminta melihat berbagai persoalan pendidikan secara kritis, sekaligus mencari kemungkinan jalan keluarnya. Sesi kedua diisi dengan pemaparan narasumber yang merangkum berbagai gagasan dari proses diskusi. Metode pembinaan yang tidak terlalu formal membuat peserta lebih leluasa menyampaikan pengalaman, kegelisahan, sekaligus harapan mereka mengenai masa depan sekolah.
Kembali Bertanya: Mengapa Saya Menjadi Guru?
Di tengah perubahan dunia pendidikan yang semakin cepat, pertanyaan mengenai identitas guru menjadi semakin penting: Siapakah saya sebagai guru? Mengapa saya memilih menjadi guru? Pertanyaan tersebut terdengar sederhana, tetapi tidak selalu mudah dijawab. Guru setiap hari berhadapan dengan berbagai tuntutan. Mereka harus mengajar, menyiapkan perangkat pembelajaran, membuat evaluasi, mengisi administrasi, menjalankan tugas sebagai wali kelas, berkomunikasi dengan orang tua, mengikuti perubahan kurikulum, dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Rutinitas itu dapat membuat pekerjaan guru perlahan dipahami hanya sebagai kewajiban yang harus diselesaikan. Padahal, pendidikan pada hakikatnya bukan sekadar proses memindahkan pengetahuan dari guru kepada peserta didik. Pendidikan juga merupakan proses memanusiakan manusia.
Di dalam proses tersebut, guru memiliki peran penting. Guru bukan hanya orang yang menyampaikan pelajaran, tetapi juga pribadi yang menemani, mendengarkan, memberi inspirasi, membentuk karakter, menumbuhkan harapan, dan membantu peserta didik menemukan arah hidupnya. Karena itu, menjadi guru tidak cukup dipahami sebagai profesi. Di balik profesi tersebut terdapat dimensi panggilan kemanusiaan.
Bagi guru Katolik, panggilan itu memiliki dimensi iman. Kehadiran guru di sekolah menjadi bagian dari perutusan Gereja dalam dunia pendidikan. Keteladanan Yesus yang menerima, mendengarkan, melayani, mengampuni, dan memberi perhatian kepada mereka yang kecil dapat menjadi inspirasi dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. Guru Katolik tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik dan pedagogis. Ia juga diharapkan menghadirkan integritas, kepedulian, keteladanan, dan spiritualitas dalam relasinya dengan peserta didik.
Guru di Tengah Perubahan Digital
Perubahan teknologi turut mengubah wajah pendidikan.Peserta didik saat ini hidup dalam lingkungan yang dipenuhi informasi. Internet, media sosial, kecerdasan artifisial, dan berbagai platform digital membuat pengetahuan dapat diperoleh dalam hitungan detik.Dalam situasi seperti itu, guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi.Peran guru justru semakin penting dalam membantu peserta didik memilah informasi, berpikir kritis, memahami kebenaran, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.Teknologi tidak semestinya menggantikan relasi antara guru dan peserta didik. Sebaliknya, teknologi dapat digunakan untuk memperkaya proses pembelajaran, membuka kreativitas, dan memperluas wawasan.Karena itu, guru Katolik di era digital ditantang untuk menjadi pribadi yang profesional sekaligus humanis; terbuka terhadap perubahan, tetapi tetap memiliki akar yang kuat pada nilai-nilai kemanusiaan dan Injil.
Panggilan sebagai guru juga tidak dapat dilepaskan dari relasi. Guru bekerja bersama guru lain, peserta didik, orang tua, kepala sekolah, yayasan, Gereja, dan masyarakat. Pendidikan yang baik membutuhkan kerja sama seluruh unsur tersebut. Peserta didik juga tidak dapat dilihat hanya sebagai objek yang harus menerima pelajaran. Mereka adalah pribadi yang memiliki martabat, pengalaman, potensi, dan cita-cita. Begitu pula orang tua perlu ditempatkan sebagai mitra dalam pendidikan anak. Dalam konteks itu, sekolah tidak hanya membutuhkan guru yang mampu mengajar, tetapi juga guru yang mampu membangun relasi, mendengarkan, dan bekerja sama.
Jangan Hanya Menyenangkan Ketua Yayasan
Wakil Ketua Yayasan Badan Karya Keuskupan Sanggau Perwakilan Sekadau, Br. Yan, MTB, mengingatkan para guru agar menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan bagi peserta didik.Menurut dia, kegembiraan anak dalam belajar menjadi salah satu bagian penting dari kehidupan sekolah.“Menjadi guru itu harus selalu senang dan menyenangkan bagi para murid. Kalau murid senang, banyak orang tua mau menyekolahkan anaknya di sekolah kita,” ujar Br. Yan.Ia bahkan mengingatkan para guru agar tidak menjadikan kepuasan pimpinan sebagai ukuran utama dalam menjalankan tugas.“Jangan sekali-kali menyenangkan ketua yayasan,” katanya, disambut tawa peserta.Bagi Br. Yan, perhatian utama guru harus tetap tertuju kepada peserta didik dan proses pendidikan yang mereka jalani.
Kepala SD Slamet Riyadi mengaku memperoleh banyak hal dari kegiatan pembinaan tersebut. Menurut dia, kegiatan kali ini memberi ruang bagi para guru untuk saling berbagi pengalaman dan belajar dari persoalan nyata yang mereka hadapi. Kesan serupa disampaikan para kepala sekolah lainnya. Materi pembinaan dinilai dekat dengan situasi yang mereka alami sehari-hari. Para guru juga menyambut positif metode pembinaan yang lebih cair. Diskusi, studi kasus, presentasi kelompok, dan ice breaking membuat kegiatan tidak terasa seperti seminar yang kaku. Sejumlah peserta bahkan berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin setiap tahun.
Ketua Yayasan Badan Karya Keuskupan Sanggau, P. Martin, CP, menegaskan bahwa kualitas sebuah sekolah sangat bergantung pada kualitas guru. Baginya, tema seminar kali ini menyentuh inti kehidupan seorang pendidik. Menjadi guru berarti bersedia mengalami dinamika kehidupan sekolah dari hari ke hari termasuk menghadapi keberhasilan, kegagalan, kelelahan, dan berbagai persoalan pendidikan. “Menjadi guru harus merasakan jatuh bangunnya setiap hari demi anak bangsa,” demikian pesan P. Martin.
Antara Mutu dan Kesejahteraan
Sekolah-sekolah Katolik di bawah Yayasan Badan Karya Keuskupan Sanggau Perwakilan Sekadau mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA merupakan bagian penting dari sejarah pendidikan Katolik di wilayah tersebut. Sekolah-sekolah tersebut telah melahirkan berbagai prestasi, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik. Lebih dari itu, ribuan peserta didik mendapatkan pendidikan melalui lembaga-lembaga tersebut. Namun, di balik pencapaian itu terdapat persoalan yang juga perlu mendapat perhatian: kesejahteraan guru.
Para guru berharap peningkatan mutu pendidikan berjalan beriringan dengan perhatian terhadap kesejahteraan mereka. Penghargaan terhadap guru bukan hanya melalui tuntutan peningkatan profesionalisme, tetapi juga melalui pemenuhan hak dan kebutuhan mereka secara layak. Dengan demikian, membangun sekolah bermutu tidak dapat hanya dibebankan kepada guru. Yayasan, pimpinan sekolah, guru, karyawan, orang tua, dan masyarakat perlu bergerak bersama.
Tema “Memeluk, Merawat, dan Mencintai Panggilan sebagai Guru” pada akhirnya bukan sekadar slogan seminar. “Memeluk” berarti menerima panggilan sebagai guru dengan segala suka dan dukanya.“Merawat” berarti menjaga semangat, kompetensi, relasi, dan tanggung jawab agar panggilan itu tidak kehilangan makna. Sementara “mencintai” berarti tetap menghadirkan hati dalam pekerjaan yang dijalani setiap hari. Panggilan sebagai guru memang tidak selalu mudah. Ada administrasi yang harus diselesaikan, perubahan kurikulum yang harus diikuti, tuntutan orang tua yang harus dihadapi, perkembangan teknologi yang harus dipelajari, serta persoalan peserta didik yang membutuhkan perhatian.
Namun, di balik semua itu terdapat satu hal yang tidak boleh hilang: kesadaran bahwa pendidikan berurusan dengan manusia.Karena itu, guru tidak hanya mengajarkan pelajaran. Ia turut membentuk masa depan. Di ruang kelas, di halaman sekolah, dalam percakapan sederhana, bahkan melalui cara seorang guru memperlakukan peserta didiknya, nilai-nilai pendidikan sedang ditanamkan. Bagi sekolah Katolik, panggilan itu juga dapat diperluas melalui kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Semangat “Laudato Si’, misalnya, mengingatkan bahwa pendidikan perlu membangun kesadaran mengenai keterhubungan manusia dengan sesama dan seluruh ciptaan. Sekolah dengan demikian tidak hanya menjadi tempat mengejar prestasi akademik, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan karakter, spiritualitas, kepedulian sosial, kreativitas, dan tanggung jawab ekologis.
Para pendidik juga diajak melihat kembali kekuatan dan kelemahan sekolah melalui analisis SWOT. Kekuatan apa yang sudah dimiliki? Kelemahan apa yang perlu diperbaiki? Peluang apa yang dapat dimanfaatkan? Dan tantangan apa yang harus dihadapi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bersama. Analisis SWOT tidak berhenti sebagai alat manajemen. Bagi guru, ia dapat menjadi cara sederhana untuk membaca kenyataan secara jujur dan menentukan langkah pembaruan. Sebab sekolah yang terus berkembang bukanlah sekolah yang merasa dirinya sudah sempurna. Sekolah yang hidup adalah sekolah yang bersedia belajar, mengevaluasi diri, dan memperbaiki kekurangan.
Seminar selama dua hari itu akhirnya menjadi ruang perjumpaan. Para guru tidak hanya datang untuk menerima materi, tetapi juga untuk saling mendengarkan dan mengingat kembali alasan mengapa mereka memilih jalan pendidikan. Di tengah berbagai tuntutan dan perubahan zaman, satu pesan menjadi penting: menjadi guru bukan hanya soal apa yang dikerjakan, tetapi juga tentang siapa yang dihadirkan melalui pekerjaan itu. Dan ketika guru kembali menemukan makna panggilannya, sekolah pun memiliki kesempatan untuk menjadi tempat yang bukan hanya mengajar anak-anak, tetapi juga membantu mereka tumbuh menjadi manusia.***











