Catatan Valensius Ngardi
Pukul empat pagi, Vihara Mendut, Magelang, masih diselimuti dingin. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, sementara langit perlahan beranjak dari gelap menuju cahaya. Dari sudut-sudut kompleks vihara, satu per satu peserta keluar dan berjalan menuju ruang meditasi. Tidak ada suara percakapan. Tidak ada dering telepon genggam. Tidak ada sapaan atau tawa kecil seperti yang biasanya spontan muncul ketika dua orang berpapasan. Bahkan sekadar bertanya, “Sudah bangun?” pun harus disimpan dalam diam. Kami sedang belajar sesuatu yang tampaknya sederhana, tetapi ternyata tidak mudah: diam.
Hari belum sepenuhnya terang ketika sekitar 50 orang mulai duduk dalam keheningan. Mereka datang dari berbagai daerah, mulai dari Jakarta, Surabaya hingga sejumlah wilayah di Jawa Tengah. Usia dan profesinya beragam. Demikian pula latar belakang keyakinannya: ada Muslim, Katolik, Protestan, penganut aliran kepercayaan, dan lainnya. Saya sendiri datang sebagai seorang Katolik. Kehadiran saya di Vihara Mendut bukan untuk membandingkan agama mana yang lebih benar, apalagi untuk meninggalkan keyakinan yang selama ini saya hidupi. Saya datang sebagai seorang yang ingin belajar. Saya ingin melihat bagaimana tradisi Buddhis mengolah kesadaran, keheningan, dan pengalaman batin manusia. Justru dari posisi itulah pengalaman ini menjadi menarik bagi saya.
Saya membawa tradisi spiritualitas saya sendiri, sementara para Bhante membimbing kami melalui praktik meditasi dalam tradisi Buddhis. Ada batas-batas keyakinan yang tetap saya sadari, tetapi ada pula pengalaman kemanusiaan yang dapat kami jumpai bersama: kegelisahan, luka, keinginan untuk menjadi lebih baik, kebutuhan akan ketenangan, dan kerinduan untuk memahami diri.
Tiga hari, 18–20 September 2026, kami belajar sesuatu yang tampaknya sederhana tetapi ternyata tidak mudah: diam dan sadar. Di dalam ruang meditasi, tubuh diminta diam. Punggung ditegakkan. Napas diperhatikan. Pikiran yang datang dan pergi tidak perlu dikejar. Kami menjalani noble silence, atau keheningan mulia. Tidak diperkenankan berbicara sembarangan, merokok, maupun keluar dari kompleks vihara selama kegiatan berlangsung. Bagi manusia yang setiap hari dikelilingi notifikasi, percakapan, pekerjaan, kendaraan, media sosial, dan arus informasi tanpa henti, keheningan seperti ini terasa asing.
Namun, dalam keheningan itulah saya menemukan pengalaman lintas iman yang tidak banyak saya duga sebelumnya. Kami tidak banyak berbicara tentang perbedaan agama. Kami lebih banyak belajar melalui pengalaman: duduk diam, berjalan perlahan, mengatur perhatian, mendengarkan penjelasan Bhante, dan kemudian mengolah pengalaman masing-masing. Di situ saya mulai melihat bahwa dialog lintas iman tidak selalu harus dimulai dengan diskusi panjang tentang doktrin. Kadang-kadang dialog justru dimulai ketika seseorang bersedia duduk bersama orang yang berbeda, diam bersama, dan belajar bersama.
Datang sebagai Katolik, Belajar dari Tradisi Buddhis
Sejak masa formasi awal sebagai bruder, saya sudah mengenal meditasi. Saya berlatih meditasi dengan objek seperti Kitab Suci dan gambar kudus, serta kontemplasi alam dalam tradisi Fransiskan. Karena itu, ketika mengikuti meditasi kesadaran di Vihara Mendut, saya membawa pengalaman tersebut sebagai bekal. Namun, saya segera menyadari bahwa pendekatan yang saya alami kali ini berbeda. Dalam meditasi Buddhis yang kami jalani, perhatian diarahkan pada kesadaran terhadap apa yang sedang terjadi: napas, tubuh, pikiran, perasaan, dan pengalaman saat ini.
Saya tidak harus membawa Kitab Suci sebagai objek permenungan. Tidak harus membayangkan gambaran tertentu. Saya justru diajak memperhatikan pengalaman yang sedang berlangsung. Bagi saya, ini merupakan pengalaman belajar. Saya dapat menerima sebuah metode atau pengalaman spiritual dari tradisi lain tanpa harus kehilangan identitas iman saya sendiri. Bahkan, pengalaman tersebut justru membuat saya kembali melihat tradisi saya dengan pertanyaan baru. Mengapa saya berdoa? Mengapa saya membaca Kitab Suci? Apakah saya sungguh hadir ketika berdoa, atau tubuh saya berada di kapel sementara pikiran saya berkelana ke berbagai tempat?
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul bukan karena iman saya harus digantikan, melainkan karena pengalaman di Vihara Mendut membuat saya kembali memeriksa kedalaman praktik spiritual yang selama ini saya jalani. Di situlah saya melihat makna penting perjumpaan lintas iman: bukan sekadar mengetahui bahwa orang lain mempunyai keyakinan yang berbeda, tetapi bersedia belajar dari pengalaman mereka dengan tetap sadar akan identitas diri sendiri.
Keheningan yang Mempertemukan
Hal menarik lainnya adalah keberagaman peserta. Seorang Muslim dapat duduk bermeditasi bersama seorang Katolik. Seorang Protestan dapat berada dalam satu kelompok dengan penganut aliran kepercayaan. Mereka datang dengan kisah hidup masing-masing. Kami tidak perlu menjadi sama untuk dapat duduk dalam satu keheningan. Perbedaan agama tidak hilang. Identitas kami tidak dilebur. Tetapi untuk beberapa saat, kami bertemu pada pengalaman yang sangat manusiawi: tubuh yang lelah, pikiran yang ramai, luka yang belum selesai, kecemasan akan masa depan, serta keinginan untuk menemukan ketenangan. Bagi saya, inilah salah satu pengalaman paling berharga dari kegiatan tersebut.
Selama ini dialog lintas iman sering dibayangkan sebagai pertemuan formal: seminar, diskusi, ceramah, atau forum antaragama. Semua itu penting. Tetapi Vihara Mendut memberi saya pengalaman bahwa dialog juga dapat berlangsung dalam bentuk yang jauh lebih sederhana. Duduk bersama. Diam bersama. Menghormati keheningan bersama. Dari sana tumbuh penghargaan terhadap pengalaman iman orang lain.
Belajar Tanpa Kehilangan Identitas
Mengikuti kegiatan di Vihara Mendut juga membuat saya semakin memahami bahwa keterbukaan lintas iman tidak sama dengan kehilangan identitas. Saya tetap seorang Katolik. Saya tetap Bruder. Saya tetap membawa Kitab Suci, spiritualitas, pengalaman doa, dan tradisi Fransiskan yang telah membentuk perjalanan hidup saya. Namun, sebagai seorang Katolik, saya juga dapat belajar dari seorang Bhante tentang pentingnya kesadaran, disiplin, keheningan, dan perhatian terhadap pengalaman batin.
Ada sesuatu yang dapat dipelajari tanpa harus mengklaim bahwa semua agama sama. Perbedaan tetap ada dan penting untuk dihormati. Namun, perbedaan tidak harus selalu menjadi alasan untuk saling menjauh. Perbedaan dapat menjadi ruang untuk belajar melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas. Pengalaman di Vihara Mendut memperlihatkan kepada saya bahwa manusia dapat berbagi ruang spiritual tanpa harus kehilangan keyakinannya masing-masing.
Pulang Membawa Pertanyaan
Setelah tiga hari, kami akhirnya meninggalkan kompleks vihara. Dunia di luar ternyata tetap sama. Pekerjaan masih menunggu, telepon genggam kembali berbunyi, dan berbagai persoalan sehari-hari hadir lagi. Namun, saya pulang dengan pengalaman berbeda. Saya tidak pulang sebagai orang yang berpindah agama, melainkan sebagai seorang Katolik yang mendapat pengalaman baru dari tradisi Buddhis.
Selama meditasi, tantangan terbesar justru berhadapan dengan diri sendiri. Pada awalnya saya berusaha mengikuti napas dengan tenang. Beberapa menit kemudian pikiran mulai mengembara: pekerjaan yang belum selesai, percakapan masa lalu, rencana masa depan, hingga hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting. Tubuh pun mulai pegal, kaki kesemutan, dan muncul keinginan untuk mengubah posisi.
Saya belajar tidak selalu mengikuti setiap dorongan. Ketika kaki terasa sakit, saya mencoba menerimanya tanpa buru-buru bergerak. Ketika pikiran mengembara, saya kembali memperhatikan napas. Dari pengalaman sederhana itu saya menemukan bahwa meditasi bukan upaya mengosongkan pikiran, melainkan latihan untuk mengenali apa yang sedang berlangsung di dalam diri.
Ketika meditasi duduk terasa sulit, saya melakukan meditasi berjalan. Langkah diperlambat. Telapak kaki menyentuh tanah, tubuh menjaga keseimbangan, udara terasa di kulit, sementara suara-suara di sekitar terdengar lebih jelas. Berjalan yang biasanya hanya menjadi cara untuk mencapai tujuan berubah menjadi pengalaman memperhatikan setiap langkah.
Meditasi tanpa objek juga menjadi pengalaman baru. Biasanya saya menggunakan Kitab Suci atau gambar kudus sebagai objek permenungan. Kali ini saya hanya mengamati napas, tubuh, pikiran, dan perasaan. Lamunan dan imajinasi datang silih berganti. Saya tidak selalu berhasil berkonsentrasi, tetapi dari situlah saya belajar menerima keterbatasan diri tanpa harus frustrasi. Pengalaman tersebut membuat saya melihat kembali kebiasaan hidup. Kesibukan sering dianggap sebagai tanda produktivitas, padahal kesibukan juga dapat membuat seseorang kehilangan waktu untuk berhenti dan bertanya: apa yang sebenarnya sedang saya kejar? Sepulang dari Mendut, pertanyaan itu terasa lebih penting daripada sekadar mencari jawaban cepat.
Perjumpaan dengan peserta dari berbagai agama juga meninggalkan kesan tersendiri. Sebagai seorang Katolik, saya tetap membawa iman dan tradisi spiritualitas saya. Namun, saya dapat belajar dari praktik Buddhis tanpa harus kehilangan identitas tersebut. Kami berbeda dalam keyakinan, tetapi dapat bertemu dalam pengalaman manusiawi: kegelisahan, luka, keterbatasan, dan kerinduan untuk menjalani hidup dengan lebih baik.
Mungkin di tengah dunia yang semakin ramai oleh perdebatan identitas, kita membutuhkan lebih banyak ruang untuk mendengarkan. Saya tetap menjadi diri saya, tetapi saya bersedia belajar dari pengalaman orang lain. Tiga hari di Vihara Mendut tidak membuat persoalan hidup menghilang. Pekerjaan tetap ada, relasi tetap membutuhkan perhatian, dan kelemahan diri tidak serta-merta lenyap. Tetapi saya pulang dengan satu kebiasaan kecil yang ingin terus dilatih: berhenti sejenak sebelum bereaksi, melihat apa yang terjadi dalam diri, lalu memilih langkah berikutnya dengan lebih tenang.***











