Raja Midas dan Pejabat Publik Kita (Pleonexia dan Nafsu Kekuasaan yang Tak Pernah Kenyang)

Marselus Natar

Oleh: Marselus Natar

Selama empat hari dalam satu pekan kemarin, saya mengalami diare –atau, dalam bahasa sehari-hari, mencret. Pengalaman yang tidak nyaman ini mengingatkan saya bahwa tubuh adalah sistem yang jujur: apa yang kita konsumsi menentukan kondisi kita. Perut akan memberontak ketika menerima sesuatu yang tidak semestinya. Andai saja batin manusia bekerja sejujur itu, barangkali dunia akan lebih sehat.

Dari pengalaman kecil itu, pikiran saya tertarik pada satu konsep yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar mengonsumsi makanan yang salah: pleonexia –ketamakan yang tak mengenal batas. Dan salah satu gambaran kuno yang paling tepat untuk menjelaskannya adalah kisah Raja Midas dalam mitologi Yunani.

Pleonexia: Ketika “Lebih” Menjadi Kebiasaan yang Menghancurkan

Dalam buku Jejak Mitologi Yunani & Romawi karya Lloyd E. Smith, diceritakan bagaimana Midas memohon kepada Dionysos agar segala yang ia sentuh berubah menjadi emas. Di balik permintaan itu tersimpan akar persoalan yang sangat manusiawi: keinginan untuk menumpuk sebanyak mungkin demi menenangkan ketakutan dan kekosongan dalam diri.

Ketika permintaannya dikabulkan, Midas menemukan bahwa emas justru menjadi malapetaka. Makanan menjadi logam, air tidak dapat diminum, dan tragedi puncaknya: ketika ia menyentuh putrinya, sang anak pun berubah menjadi patung emas. Kekayaan yang awalnya diharapkan menjadi sumber kebahagiaan justru merenggut hal paling berharga dalam hidupnya.

READ  Menata Ulang Belanja Daerah dan Mengoptimalkan PAD: Solusi Menghadapi Tekanan Fiskal 2026

Dari sini kita belajar satu hal: ketamakan tidak pernah menghasilkan kecukupan. Ia selalu meminta lebih, dan lebih lagi, sampai yang paling bernilai pun ikut dikorbankan.

Cermin Gelap bagi Pejabat Publik

Kisah Midas mungkin berusia ribuan tahun, tetapi bayangannya terasa sangat dekat dengan realitas publik kita hari ini. Rasanya tidak berlebihan jika mengatakan bahwa banyak pejabat publik modern adalah “Midas dalam versi kontemporer” –bukan karena mereka mampu mengubah benda menjadi emas, tetapi karena mereka mampu mengubah hampir segala urusan negara menjadi alat akumulasi kepentingan pribadi.
Bedanya hanya bentuknya:
-Jika Midas mengubah air menjadi emas, sebagian pejabat mengubah anggaran menjadi peluang bisnis.
-Jika Midas kehilangan putrinya, pejabat publik rela mengorbankan masa depan rakyat demi memperpanjang kekuasaan.
-Jika Midas mencari emas, pejabat kita mengejar jabatan, pengaruh, fasilitas, dan privilese.

Sentuhan mereka pada birokrasi sering kali tidak menghasilkan efisiensi, tetapi menciptakan kebekuan moral. Prosedur dibuat rumit agar mudah dinegosiasikan. Regulasi disusun bukan untuk publik, tetapi untuk kelompok-kelompok tertentu. Kebijakan digerakkan bukan oleh kebutuhan rakyat, tetapi oleh strategi pencitraan. Inilah pleonexia dalam bentuk paling modern: keinginan untuk memperluas kuasa, bukan memperluas kebaikan.

READ  NTT Tertinggal dalam Serapan Belanja Daerah: Alarm Fiskal yang Tak Boleh Diabaikan

Ketika Segalanya Menjadi Beku

Midas membatu karena emas; pejabat publik kita membatu karena ambisi. Kita melihat kebekuan itu dalam berbagai aspek:
Pertama, beku pelayanan publik.
Ketika urusan yang seharusnya sederhana justru tersendat oleh “syarat tambahan” dan biaya tak resmi.
Kedua, beku hukum.
Hukum bekerja sangat cepat bagi rakyat kecil, tetapi berputar amat lambat—atau bahkan diam sama sekali—ketika berurusan dengan mereka yang kaya dan berpengaruh.
Ketiga, beku moralitas publik.
Ketika jabatan diperlakukan seperti harta pusaka, bukan amanah yang sewaktu-waktu harus dipertanggungjawabkan.
Keempat, beku masa depan masyarakat.
Kebijakan publik kehilangan pijakannya; ia bergerak mengikuti arah kekuasaan, bukan arah kebutuhan rakyat.
Semua kebekuan itu memperlihatkan bagaimana pleonexia dapat merusak tatanan sosial jauh lebih mengerikan daripada sekadar penyakit fisik.

Midas Bertobat: Bagaimana dengan Kita?

Dalam kisahnya, Midas akhirnya menyadari bahwa kekuasaannya menghancurkan segalanya. Ia kembali kepada Dionysos dan memohon agar anugerah –yang ternyata kutukan –itu dicabut. Ia menyadari bahwa emas bukanlah jawaban bagi kekosongan yang ia miliki.

Pertanyaannya, apakah pejabat publik kita memiliki keberanian untuk menyadari hal serupa?

READ  Polemik Parkir dan Tantangan Tata Kelola Kolaboratif antara Pemprov NTT dan Pemerintah Kota Kupang

Kita jarang melihat penguasa yang mengakui bahwa ia telah terlalu jauh. Kita lebih sering melihat mereka memodifikasi aturan, memperlebar pengaruh, memperpanjang masa jabatan, bahkan menciptakan narasi-narasi baru untuk membenarkan ambisi lama.

Di titik ini, Midas terlihat lebih manusiawi daripada sebagian pemimpin modern. Ia mempunyai kesadaran. Ia tahu kapan harus berhenti.

Cermin Terakhir untuk Kita Semua

Namun esai ini bukan semata kritik kepada pejabat publik. Pleonexia adalah persoalan manusia secara umum. Kita semua memiliki “emas” versi masing-masing: status sosial, popularitas, kenyamanan, validasi, atau ambisi pribadi.

Karena itu, sebelum menyimpulkan bahwa pejabat publik adalah satu-satunya Midas, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Emas apa yang sedang kita kejar? Berapa banyak yang telah kita korbankan untuk mengejarnya? Dan apakah kejaran itu benar-benar membuat kita lebih utuh sebagai manusia?

Pada akhirnya, kisah Midas mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak terletak pada akumulasi, tetapi pada kemampuan untuk mengatakan “cukup”. Dan sebuah bangsa akan maju bukan ketika pejabatnya berkuasa lebih lama, tetapi ketika mereka mampu menahan diri dari kerakusan yang merusak. Sebab kekuasaan yang tidak dibingkai moral pada akhirnya hanya menciptakan satu hasil: kebekuan. Dalam bentuk apa pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *