Mengapa Bunda Maria Layak Dihormati Setinggi-Tingginya?

Marselus Natar

Oleh: Marselus Natar
(Rohaniwan Katolik pada Kongregasi Frater-Frater Bunda Hati Kudus, penulis buku antologi cerpen berjudul: Usaha Membunuh Tuhan dan novel berjudul: Janji Yang Kian Koyak dan Terkoyaklah. Tinggal di Oesapa, Kupang NTT).

Di tengah riuh perdebatan iman, terutama yang kerap menyasar devosi Katolik kepada Bunda Maria, satu pertanyaan mendasar perlu diajukan secara jujur dan jernih: mengapa Maria dihormati begitu tinggi? Apakah penghormatan itu berlebihan? Ataukah justru lahir dari kesadaran iman yang matang dan refleksi kemanusiaan yang mendalam?

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menanggapi problem yang sedang viral di media sosial belakangan ini (pernyataan seorang pendeta: “stop mentuhankan Bunda Maria”), yang polemik itu, melainkan sebuah ulasan refleksi pribadi penulis tentang pentingnya kesadaran dan pemahaman yang benar akan praktik devosi kepada Bunda Maria sebagai bentuk penghormatan kita kepadanya.

Menghormati Maria bukanlah tindakan emosional tanpa dasar. Ia berakar pada iman, rasionalitas, sejarah, dan refleksi filosofis tentang martabat manusia di hadapan Allah. Maria bukan pusat iman Kristen–Kristuslah pusatnya–namun Maria adalah jalan sunyi yang dengannya Allah memilih masuk ke dalam sejarah manusia.

READ  Hak Tahu (Refleksi tentang Identitas, Relasi, dan Luka yang Diturunkan)

Maria dan Martabat Kebebasan Manusia

Secara filosofis, kisah Maria adalah kisah tentang kebebasan manusia yang sejati. Dalam peristiwa Kabar Sukacita, Maria tidak dipaksa. Allah tidak memperkosa kehendak manusia-Nya. Ia menunggu jawaban. Dan Maria menjawab dengan kesadaran penuh: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu.”

Di titik ini, Maria menjadi simbol tertinggi dari kebebasan yang bertanggung jawab. Ia mengajarkan bahwa ketaatan bukanlah pembungkaman akal budi, melainkan puncak keberanian manusia untuk berkata “ya” kepada kebaikan yang lebih besar dari dirinya sendiri. Menghormati Maria berarti menghormati kebebasan manusia yang memilih Allah dengan sadar, bukan karena paksaan.

Rahim yang Menjadi Ruang Inkarnasi

Secara eksistensial, tidak ada peristiwa yang lebih radikal dalam sejarah manusia selain Inkarnasi: Allah menjadi manusia. Dan peristiwa itu terjadi bukan di ruang abstrak, melainkan di rahim seorang perempuan. Maria bukan sekadar “alat biologis”, melainkan subjek sejarah keselamatan.

Menghormati Maria berarti menghormati tubuh manusia sebagai ruang kehadiran ilahi. Dalam dunia yang kerap merendahkan tubuh–terutama tubuh perempuan–Maria berdiri sebagai sanggahan profetis: bahwa tubuh manusia dapat menjadi tempat Allah berdiam. Ia mengembalikan martabat kemanusiaan yang sering direduksi menjadi sekadar objek.

READ  Menimbang Ulang Dana Reses DPR: Antara Fungsi Aspirasi dan Efisiensi Anggaran

Maria: Iman yang Tidak Sensasional

Maria tidak dikenal lewat mukjizat-mukjizat spektakuler. Ia tidak berkhotbah di alun-alun. Ia tidak membangun institusi. Ia hadir dalam keheningan, dalam kesetiaan sehari-hari, dalam penderitaan yang dipendam.

Di kaki salib, Maria tidak berkata apa-apa. Tetapi justru dalam diam itu, ia mengajarkan filsafat penderitaan yang paling jujur: bahwa iman tidak selalu menyelamatkan kita dari luka, tetapi memberi makna pada luka itu. Maria dihormati karena ia setia bahkan ketika janji Allah tampak runtuh di depan matanya.

Perlu ditegaskan dengan jernih: Gereja Katolik tidak pernah menyembah Maria. Penyembahan (latria) hanya diberikan kepada Allah. Maria dihormati (dulia), dan secara khusus (hyperdulia), karena perannya yang unik dalam sejarah keselamatan.

Menghormati Maria tidak mengurangi kemuliaan Kristus. Justru sebaliknya, Maria selalu menunjuk kepada-Nya: “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, buatlah itu.” Maria tidak menarik perhatian pada dirinya, tetapi mengarahkan manusia kepada Sang Sumber Hidup.

READ  Menata Ulang Belanja Daerah dan Mengoptimalkan PAD: Solusi Menghadapi Tekanan Fiskal 2026

Maria dan Kemanusiaan Kita Hari Ini

Dalam dunia yang bising oleh ego, Maria mengajarkan kerendahan hati. Dalam budaya instan, ia mengajarkan kesabaran. Dalam iman yang sering ingin bukti cepat, ia mengajarkan percaya tanpa jaminan.

Maria dihormati bukan karena ia jauh dari manusia, melainkan karena ia sangat manusiawi. Ia takut, ia bertanya, ia menderita, ia kehilangan. Namun dalam semua itu, ia tetap percaya. Di situlah kebesaran Maria: bukan pada keistimewaan yang memisahkannya dari kita, tetapi pada keberanian iman yang bisa kita teladani.

Menghormati Bunda Maria bukan soal tradisi kosong atau romantisme iman. Ia adalah tindakan reflektif yang memanusiakan iman itu sendiri. Maria mengingatkan kita bahwa Allah bekerja melalui manusia biasa, melalui kesediaan, melalui rahim, air mata, dan kesetiaan yang sunyi.

Maka, Maria layak dihormati setinggi-tingginya–bukan karena ia Allah, tetapi karena ia manusia yang sepenuhnya memberi ruang bagi Allah. Dan di situlah, sesungguhnya, panggilan terdalam setiap manusia beriman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *