Pemuda Katolik NTT Dorong Generasi Muda Kuasai AI dan Bioteknologi

100 Champion AI dan Bioteknologi NTT

Kupang, detakpasifik.com- Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan bioteknologi tidak lagi bisa dipandang sebagai teknologi masa depan. Bagi generasi muda Nusa Tenggara Timur (NTT), penguasaan teknologi tersebut justru dapat menjadi salah satu kunci untuk menjawab berbagai persoalan daerah sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

Semangat itu menjadi dasar digelarnya 100 Champion AI dan Bioteknologi NTT oleh Pemuda Katolik NTT di Hotel T-More Kupang, Jumat (31/7/2026).

Mengusung tema “Pemuda NTT Menguasai Teknologi, Menjawab Persoalan Daerah, dan Menyebarkan Kemajuan bagi Semua”, kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari hingga Sabtu (1/8/2026).

Kegiatan ini tidak hanya diarahkan untuk memperkenalkan perkembangan AI dan bioteknologi kepada peserta, tetapi juga mendorong anak muda NTT agar mampu melihat teknologi sebagai instrumen untuk menciptakan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Pada hari pertama, sejumlah narasumber yang memiliki kompetensi di bidang teknologi, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia hadir memberikan materi.

Mereka di antaranya Robertus Theodore dari Beni Foundation, Hanif Fairi selaku Chief Education Officer Bharabas Camp, Juan Intan Kanggrawan yang merupakan Regional Digital & AI Expert UNDP Asia Pacific, serta Rusli Kuwanto dari Simpul Indonesia.

READ  Tokoh Manggarai Raya Silaturahmi dengan Gubernur NTT, Undang Hadiri Syukuran Diaspora Manggarai Kupang

Peserta kegiatan berasal dari pengurus dan anggota Pemuda Katolik NTT. Sejumlah pemuda di Kota Kupang juga turut dilibatkan untuk memperluas jejaring dan ruang pembelajaran mengenai teknologi digital.

Ketua Pemuda Katolik NTT, Yuvens Tukung, mengatakan kegiatan tersebut juga melibatkan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).

Menurut Yuvens, kolaborasi lintas organisasi kepemudaan menjadi penting karena tantangan perkembangan teknologi tidak dapat dihadapi secara sendiri-sendiri.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi generasi muda NTT, terutama dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan mereka dalam memanfaatkan teknologi AI.

“Harapannya, pemuda NTT semakin melek teknologi dan mampu memanfaatkan AI untuk meningkatkan pendapatan,” kata Yuvens.

Menurut dia, kemampuan menggunakan AI tidak semestinya berhenti pada kemampuan mengoperasikan aplikasi atau menghasilkan konten secara cepat. Lebih jauh, teknologi tersebut harus mampu diterjemahkan menjadi keterampilan produktif yang memberikan nilai tambah bagi kehidupan masyarakat.

Pemuda NTT, kata Yuvens, perlu didorong untuk melihat AI sebagai alat kerja dan alat penciptaan peluang, bukan sekadar teknologi yang sedang populer.

READ  Suasana Sunyi dalam Perhelatan Pemilihan Kepala Desa Ketang

Dengan penguasaan AI, anak muda dapat mengembangkan berbagai sektor yang memiliki potensi besar di NTT, mulai dari usaha mikro, ekonomi kreatif, pertanian, peternakan, perikanan, pariwisata, pendidikan hingga pelayanan publik.

Di sektor usaha, misalnya, AI dapat membantu pelaku UMKM melakukan riset pasar, menyusun strategi pemasaran, membuat materi promosi, mengelola administrasi, hingga menjangkau konsumen yang lebih luas.

Sementara di sektor pertanian dan peternakan, perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk membantu pengolahan data, meningkatkan efisiensi produksi, serta mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat.

Hal yang sama dapat diterapkan dalam sektor pariwisata. Generasi muda dapat memanfaatkan teknologi digital dan AI untuk mempromosikan destinasi wisata NTT, membuat narasi kreatif, menerjemahkan informasi ke berbagai bahasa, hingga memperkenalkan produk ekonomi lokal ke pasar yang lebih luas.

Karena itu, penguasaan teknologi bagi pemuda NTT tidak hanya berkaitan dengan persoalan kemampuan digital. Lebih dari itu, teknologi harus menjadi bagian dari strategi membangun kemandirian ekonomi generasi muda.

READ  Labuan Bajo: Kota Kecil dengan Janji Besar

Yuvens menilai, jika pengetahuan dan keterampilan tersebut dapat dikembangkan secara berkelanjutan, anak muda NTT tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi pencipta solusi dan lapangan kerja.

“Jangan sampai pemuda NTT hanya menjadi konsumen teknologi. Kita harus menjadi orang yang mampu menciptakan sesuatu dari teknologi itu,” ujarnya.

Yuvens juga menekankan pentingnya memastikan perkembangan teknologi tetap berpijak pada kebutuhan masyarakat NTT. Artinya, kecanggihan AI harus diterjemahkan ke dalam persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Teknologi akan memiliki arti ketika mampu membantu petani meningkatkan produktivitas, membantu pelaku UMKM meningkatkan omzet, membantu anak muda memperoleh pekerjaan, membantu sekolah meningkatkan kualitas pembelajaran, dan membantu pemerintah memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.

“Dalam konteks tersebut, 100 Champion AI dan Bioteknologi NTT diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan pelatihan selama dua hari. Program tersebut diharapkan menjadi titik awal lahirnya komunitas anak muda yang mampu saling berbagi pengetahuan, mengembangkan inovasi, dan menghasilkan solusi berbasis teknologi,” tutup Yuvens Tukung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *