Berita  

Joak Tak Sekadar Membual

Urutan dalam Foto: Frans Sarong, Hendra Jasmin, Matheus Dasal, Jhon Sariono, Juan Pesau

Pada pertengahan November lalu, sebuah panggilan telepon singkat masuk ke ponsel saya. Di seberang sana, suara seorang tokoh asal Manggarai yang telah lama bermukim di Kota Kupang terdengar akrab, lugas, tanpa basa-basi.

“Juan lagi posisi di mana? Ayo kita pergi joak.”

Percakapan itu berakhir secepat ia dimulai. Saya mengiyakan tanpa banyak tanya. Bukan semata karena ajakan itu terdengar santai, melainkan karena yang mengajak bukan orang sembarangan. Ia adalah salah satu tokoh penting Manggarai di Kupang.

Dialah Kaka Frans Sarong.

Nama itu tentu tidak asing bagi banyak orang Manggarai di Kupang, bahkan di luar Manggarai. Ia pernah lama berkiprah sebagai jurnalis Kompas, menjabat Kepala Biro Bali-Nusra, mengawal denyut peristiwa dari Bali, NTB hingga NTT. Selepas dari dunia jurnalistik, Kaka Frans tidak berhenti bergerak. Ia masuk ke dunia politik, dan bahkan dipercaya menjadi Ketua Tim Pemenangan dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT yang kini tengah menjabat.

READ  Prabowo dan PM Kanada Saksikan Penandatanganan Sejumlah Kesepakatan Strategis

Saya menyapanya “Kaka”, meskipun usia kami terpaut jauh. Sapaan itu lahir dari tradisi PMKRI, di mana tak ada sekat generasi. Senior disapa Kaka atau Kanda, junior dipanggil Dinda atau Adik. Sebuah kebiasaan yang mencairkan jarak, dan mungkin juga menjadi fondasi dari apa yang kemudian disebut joak itu sendiri.

Dalam bahasa Manggarai, joak kerap dimaknai sebagai membual. Bercerita tanpa arah, obrolan ringan yang mengalir ke mana-mana. Namun, bersama Kaka Frans, joak justru menjelma menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam.

Ia kerap menggunakan kata joak untuk mengajak kelompok kecil kami berkumpul. Kadang hanya untuk berbagi cerita, kadang untuk mengisi sela-sela urusan kekeluargaan. Tidak ada agenda tertulis, tidak ada podium, apalagi pidato. Semuanya berlangsung cair, hangat, dan apa adanya.

READ  Menagih Kepastian Fit and Proper Test Bank NTT: Antara Tata Kelola dan Kepercayaan Publik

Lalu muncul pertanyaan: benarkah joak itu sekadar membual?

Jawabannya adalah tidak.

Dalam ruang joak yang tampak sederhana itu, gagasan-gagasan besar justru lahir. Dari obrolan santai, ide-ide bergerak. Kepala-kepala digerakkan, badan-badan digerakkan. Setidaknya, joak melahirkan pemikiran dan kerap berujung pada tindakan yang kuat pengaruhnya.

Suatu ketika, di tengah suasana joak, Kreang Tua Matheus Dasal, tokoh Manggarai lain di Kupang melontarkan refleksi yang tajam. Menurutnya, pendekatan joak adalah metode yang sangat ampuh untuk menyingkap karakter orang Manggarai yang kerap terjebak dalam kerumitan berlebihan.

Pernyataan itu segera diamini Kreang Tua Dr. Jhon Sariono. Ia menambahkan, orang Manggarai memang gemar berbicara. Terlalu banyak bicara, katanya, sering kali membuat banyak hal justru tak kunjung selesai.

Saya dan Hendra Jasmin, seorang tokoh muda yang turut hadir hanya saling pandang lalu mengangguk. Dua tokoh di depan kami, Kraeng Matheus dan Kraeng Jhon seolah berlomba berbicara, mendominasi diskusi joak itu. Ironis, sekaligus menguatkan apa yang baru saja mereka kritik.

READ  Menagih Janji Dialog: Kemana Komitmen Rasionalisasi Tunjangan DPRD NTT?

Di situlah letak keunikan joak ala Kaka Frans Sarong. Ia bukan sekadar ruang bercakap, melainkan cermin. Di sana, orang Manggarai melihat dirinya sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Joak menjadi ruang refleksi kolektif, tempat ide lahir tanpa paksaan, dan kesadaran tumbuh tanpa ceramah.

Mungkin, di situlah makna terdalam joak. Bukan soal membual, melainkan soal membuka diri. Membiarkan kata-kata mengalir, agar dari kelonggaran itu lahir kejernihan. Sebuah kearifan lokal yang sederhana, namun ampuh jika dijalankan dengan ketulusan dan kepemimpinan yang matang.

Dan Kaka Frans Sarong, dengan caranya yang tenang dan bersahaja, telah membuktikan bahwa joak bisa menjadi jalan kecil menuju perubahan besar. (Juan Pesau)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *