Berita  

Rumah Runtuh, Harapan Stefanus Belum Beranjak dari Tanah

Rumah yang dibangun dari hasil menjual tanah runtuh dalam hitungan detik. Stefanus kini menunggu perhatian pemerintah.

Stefanus Mandut berdiri di depan rumahnya yang total remuk setelah dihantam gempa Flores pada 15 Agustus 2026 (foto: Riki Cowang)

Laporan Riki Cowang

detakpasifik– Di Rentung, Desa Belang Turi, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, sisa-sisa sebuah rumah berdiri seperti penanda bahwa gempa pernah datang dengan cara yang paling kejam.

Rumah itu milik Stefanus Mandut. Petani kebun yang sehari-hari menggantungkan hidup dari hasil bumi. Pada 15 Agustus 2026, ketika gempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang Flores, rumah yang dibangunnya dengan susah payah runtuh hampir seketika.

Stefanus masih berada di dalam rumah ketika tembok mulai roboh.

Tidak ada firasat. Tidak ada waktu untuk menyelamatkan barang-barang. Yang ada hanya naluri untuk bertahan hidup.

“Saat kejadian saya berhasil melarikan diri dari dalam kamar melalui dapur kecil saya,” kisah Stefanus kepada detakpasifik.

Ia selamat. Tetapi rumah tempat ia berlindung selama bertahun-tahun tidak. Rumah itu Remuk.

READ  Pulau Semau: Calon Obyek Wisata Premium di Kabupaten Kupang

Rumah berdinding batu bata itu baru sekitar empat tahun ditempati. Bagi Stefanus, rumah tersebut bukan sekadar bangunan. Di dalamnya ada keringat, pengorbanan, dan sebidang tanah yang pernah ia jual agar rumah itu bisa berdiri kokoh.

Rumah Stefanus Mandut yang ia bangun dari hasil menjual sebidang tanah total remuk setelah dihantam gempa Flores pada 15 Agustus 2026 (foto: Riki Cowang)

Rumah itu memang dibangun dengan bantuan pemerintah. Stefanus menerima sekitar Rp8 juta. Namun jumlah tersebut tidak cukup untuk seluruh kebutuhan pembangunan.

Ia kemudian menjual tanah miliknya untuk menambah biaya.

“Rumah utuh itu pun runtuh sekejap. Saya menahan air mata. Saya seperti orang kehilangan arah,” piluh Stefanus.

Kini, tempat yang dahulu menjadi rumah hanya menyisakan reruntuhan.

Stefanus mengatakan rumahnya telah didata oleh Pemerintah Desa Belang Turi sebagai salah satu bangunan yang terdampak gempa. Aparat desa juga telah datang untuk mendokumentasikan kondisi rumah tersebut.

READ  Bantuan Gempa Belum Merata, Bonifasius Temukan 25 Rumah Rubuh Luput dari Distribusi

Namun setelah itu, ia masih menunggu.

Bantuan sembako memang sempat diterima dari PT Pupuk Indonesia. Tetapi untuk bantuan resmi pemerintah di tingkat yang lebih tinggi, Stefanus mengaku belum mendapatkannya.

“Jangankan bantuan, datang untuk melihat saja tidak ada, kecuali Pemdes yang telah hadir mendokumentasi keadaan rumah ini,” katanya.

Di antara puing-puing rumah yang hancur, harapan Stefanus justru sederhana. Ia ingin pemerintah datang melihat langsung keadaan warga yang terdampak, bukan sekadar membaca laporan dari atas meja.

“Semoga pemerintah Kecamatan sampai Pusat melihat laporan keadaan rumah saya. Harapannya mereka hadir melihatnya, seperti di daerah-daerah lain. Tolonglah perhatikan juga kami,” katanya.

READ  Permai Kupang Desak Kapolda NTT Usut Tuntas Mafia Distribusi BBM di Manggarai

Stefanus bukan satu-satunya.

Bonefasius Ito, warga lainnya, juga mengaku belum tersentuh bantuan resmi pemerintah. Bagi mereka, gempa tidak memilih siapa yang harus kehilangan rumah dan siapa yang harus tetap memiliki tempat berlindung.

“Perhatian pemerintah memberi warna tersendiri. Hingga saat ini kami belum tersentuh bantuan resmi pemerintah. Kami juga korban seperti di daerah lain,” ujarnya.

Di Rentung, gempa mungkin telah berhenti mengguncang tanah. Tetapi bagi Stefanus dan warga lainnya, guncangan itu belum benar-benar selesai.

Sebab setelah rumah roboh, ada pertanyaan yang masih menggantung: kapan bantuan akan datang, dan kapan mereka bisa kembali memiliki rumah untuk pulang?

Editor: Juan Pesau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *