Berita  

Bantuan Gempa Belum Merata, Bonifasius Temukan 25 Rumah Rubuh Luput dari Distribusi

Anggota DPRD NTT Bonifasius Burhanus menyisir wilayah terdampak di Manggarai dan menemukan warga yang rumahnya roboh belum tersentuh bantuan. Ia meminta distribusi diperluas hingga ke kampung-kampung yang luput dari perhatian.

Bonifasius Burhanus (kiri) saat memberikan bantuan sembako kepada warga terdampak gempa bumi Flores.

Ruteng, detakpasifik.com- Gempa Flores masih menyisakan pekerjaan besar.

Di tengah derasnya bantuan yang terus mengalir ke sejumlah wilayah terdampak, masih ada warga yang harus menunggu. Di balik tumpukan logistik dan posko-posko bantuan, sejumlah keluarga masih luput dari perhatian.

Temuan itu disampaikan Anggota DPRD NTT dari Fraksi Gerindra, Bonifasius Burhanus, kepada detakpasifik, Jumat (21/8/2026).

Melalui sambungan seluler, Bonifasius menceritakan temuannya setelah turun langsung menyisir sejumlah wilayah terdampak gempa di Kabupaten Manggarai. Ia menemukan warga yang rumahnya rusak berat hingga roboh total, tetapi belum tersentuh bantuan.

Di wilayah Redo, Kecamatan Lelak, misalnya. Sedikitnya 25 rumah dilaporkan roboh total, namun warga yang kehilangan tempat tinggal itu disebut masih luput dari distribusi bantuan.

“Saya kaget ketika pertama kali saya menyambangi mereka,” kata Bonifasius.

Menurut dia, masyarakat terdampak gempa di Manggarai tersebar dalam beberapa kategori kerusakan, mulai dari ringan, sedang hingga berat. Persoalannya, distribusi bantuan cenderung terpusat pada titik-titik tertentu sehingga warga di kampung-kampung lain berpotensi terlewat.

READ  Membangun dengan Mental atau Membangun Mental?

Kondisi itulah yang kemudian mendorong Bonifasius berkoordinasi dengan pimpinan Partai Gerindra di tingkat provinsi. Ia menyampaikan temuan tersebut agar bantuan tidak hanya berhenti pada wilayah yang selama ini menjadi pusat perhatian.

Puji syukur, kata dia, pimpinan partai langsung menginstruksikan seluruh kader untuk bergerak membantu warga terdampak yang belum mendapatkan bantuan.

Pola distribusinya dilakukan secara langsung dari rumah ke rumah atau door to door.

“Kami sistem door to door ke para warga terdampak bencana di wilayah Manggarai. Fokusnya adalah mereka yang belum mendapat bantuan pemerintah. Kami coba masuk ke situ,” ujarnya.

READ  Cendana dan Jati Diri NTT: Harum yang Harus Terus Dijaga

Bonifasius mengatakan, langkah tersebut dilakukan untuk memastikan bantuan menjangkau warga yang tidak berada di sekitar posko maupun titik-titik distribusi utama.

Ia memilih kembali ke daerah pemilihannya dan turun langsung ke sejumlah wilayah, antara lain Kecamatan Lelak, Ruteng, Cibal dan sekitarnya.

Menurutnya, penyisiran di lapangan masih menemukan banyak rumah yang hancur total, tetapi pemiliknya belum mendapatkan bantuan.

Pada Jumat (21/8/2026), Bonifasius masih menyisir wilayah Kecamatan Lelak. Sejumlah kampung yang menjadi sasaran distribusi bantuan di antaranya, Redo, Ketang, Lamba, Kalo dan Lentang.

Dari sana, penyisiran akan dilanjutkan ke kecamatan Ruteng dan Cibal serta sejumlah wilayah lainnya hingga seluruh warga terdampak yang membutuhkan dapat dijangkau.

“Saya berharap semua warga terdampak tidak ada satu pun yang terlewati,” katanya.

Jangan Hanya Terpusat di Reo

Bonifasius juga mengaku telah berkomunikasi dengan Bupati Manggarai untuk menyampaikan persoalan tersebut.

READ  KUR Bank NTT Harus Jadi Motor Penggerak Usaha Produktif Masyarakat

Ia meminta pemerintah memastikan bantuan yang masuk ke Kabupaten Manggarai tidak hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu.

Kecamatan Reo, kata Boni, memang menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak cukup parah. Namun, perhatian terhadap Reo tidak boleh membuat warga terdampak di wilayah lain kehilangan akses terhadap bantuan.

“Reo memang menjadi wilayah terdampak yang paling parah. Tetapi jika semua bantuan hanya fokus ke situ, jumlah masyarakat yang terdampak di luar wilayah Reo juga jauh lebih banyak,” ujarnya.

Menurut Bonifasius, persoalan distribusi bantuan tidak hanya berkaitan dengan jumlah bantuan yang tersedia, tetapi juga bagaimana memastikan bantuan tersebut sampai kepada warga yang benar-benar membutuhkan.

“Terutama mereka yang berada di kampung-kampung yang jauh dari pusat distribusi,” imbuhnya. (Juan Pesau)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *