Menolak Verbalisme: Menguji Substansi Kepemimpinan Melalui Segitiga Retorika Aristoteles

Marselus Natar

Oleh: Fr. Marselus Natar, BHK., S. Pd

Kecakapan berkomunikasi adalah modal paling krusial bagi seorang pemimpin. Melalui kata-kata, seorang pemimpin dapat menyatukan visi, membakar semangat perjuangan, dan menggerakkan jutaan manusia. Sejarah mencatat bagaimana kekuatan orasi tokoh besar seperti Ir. Soekarno mampu membangkitkan harga diri sebuah bangsa yang berabad-abad terjajah. Namun, sejarah yang sama juga memberikan peringatan keras tentang batas tipis antara komunikasi yang menggerakkan dan verbalisme –sebuah penyakit kepemimpinan di mana kata-kata indah dilepaskan dari substansi dan realitas yang dihadapi rakyat.

Verbalisme dalam kepemimpinan ditandai oleh kemahiran bersilat lidah yang miskin eksekusi. Di era modern, fenomena ini kerap mewujud dalam bentuk obral janji manis dan benteng pertahanan berupa jargon-jargon rumit, seperti sinergi, transformas, keberlanjutan, atau disrupsi –yang sering kali digunakan hanya sebagai kosmetik untuk menutupi ketiadaan program nyata. Bagi rakyat yang sedang berjuang melawan himpitan ekonomi, kata-kata tanpa tindakan ini hanyalah ilusi kompetensi yang merusak kepercayaan publik.

Gugatan dari Panggung Akropolis

Dua puluh empat abad yang lalu, di bawah bayang-bayang panggung Akropolis, Aristoteles filsuf Yunani Kuno yang dikenal sebagai murid Plato sekaligus guru Alexander Agung –telah mencium aroma busuk dari komunikasi yang manipulatif. Di masa itu, Athena dipenuhi oleh kaum Sofis: para komentator dan pemikir yang dibayar mahal hanya untuk mengajarkan cara bersilat lidah dan memenangkan perdebatan tanpa peduli pada kebenaran objektif.

Gelisah oleh kedangkalan moral tersebut, Aristoteles merumuskan kitab monumental berjudul Rhetoric (Retorika: Seni Berbicara). Bagi Aristoteles, seni berbicara bukan alat kosmetik untuk menipu publik, melainkan sebuah metode ilmiah untuk menyingkap kebenaran. Ia membagi seni memengaruhi ini ke dalam sebuah konsep suci yang kita kenal sebagai Segitiga Retorika: Ethos (Kredibilitas), Pathos (Emosi), dan Logos (Logika).

READ  Retret Forkoma PMKRI NTT: Ruang Pulang, Ruang Berbagi

Hari ini, warisan pemikiran filsuf Stagira itu bertindak sebagai obat penawar sekaligus alat uji yang sangat kejam untuk menelanjangi apakah narasi seorang pemimpin benar-benar berjiwa atau sekadar omong kosong.

  1. Ethos: Menanam Kredibilitas di Atas Fondasi Karakter

Ethos adalah pilar pertama yang berbicara tentang siapa yang menyampaikan pesan. Ini mencakup integritas, rekam jejak, dan moralitas sang pemimpin sebelum ia membuka mulutnya di depan podium.

Dalam kepemimpinan yang substansial, Ethos bertindak sebagai jangkar kepercayaan. Rakyat mendengarkan seorang pemimpin bukan hanya karena suaranya lantang, melainkan karena mereka tahu ucapan tersebut lahir dari karakter yang jujur dan rekam jejak yang konsisten.

Rakyat membutuhkan rasa aman bahwa pemimpin mereka bertindak selaras dengan ucapannya. Ketika seorang pemimpin miskin Ethos, komunikasi yang ia bangun akan langsung jatuh menjadi verbalisme. Segala bentuk pidato megah akan dinilai masyarakat sebagai bualan atau sekadar pencitraan politik demi mempertahankan kekuasaan, karena tidak ada bukti nyata yang mendukung karakter sang pemimpin di masa lalu.

  1. Pathos: Mengikat Empati Tanpa Manipulasi Emosi

Pathos adalah kemampuan pemimpin untuk membangun jembatan emosional dengan audiensnya. Ini melibatkan penggunaan bahasa, metafora, dan intonasi yang mampu menyentuh hati, memicu empati, atau meredakan amarah masyarakat.

READ  Mahasiswa di Kupang Refleksi Sumpah Pemuda: Kawal Isu Lingkungan dan Peran Gen Z dalam Kearifan Lokal

Model kepemimpinan karismatik seperti Ir. Soekarno sangat menguasai pilar ini. Soekarno tahu betul bahwa kebutuhan psikologis rakyat Indonesia saat merdeka adalah lepas dari rasa rendah diri akibat kolonialisme. Pilihan katanya yang puitis dan membakar semangat sangat relevan dengan kebutuhan batin masyarakat kala itu.

Pathos yang sehat lahir dari empati yang tulus terhadap penderitaan rakyat. Pemimpin hadir dan berbicara untuk membuat masyarakat merasa didengar dan diayomi. Namun, dalam jebakan verbalisme, Pathos sering kali dieksploitasi secara berlebihan. Pemimpin verbalistik menggunakan ketakutan, romantisme masa lalu, atau sentimen golongan untuk membius massa. Hasilnya adalah orasi yang riuh rendah di lapangan, namun langsung menguap tanpa arti begitu tepuk tangan penonton mereda.

  1. Logos: Menyediakan Daging Berupa Logika dan Solusi Konkret

Jika Ethos adalah karakter dan Pathos adalah hati, maka Logos adalah otak dari sebuah komunikasi. Logos adalah pilar yang menyajikan argumen masuk akal, data empiris, bukti statistik, serta rencana aksi nyata yang sistematis.

Logos adalah wilayah di mana verbalisme paling sering menemui ajalnya. Pemimpin yang verbalistik cenderung menghindari Logos karena mereka tidak menguasai masalah atau tidak memiliki kemauan untuk bekerja keras mengeksekusi kebijakan.
Mereka mengganti detail program kerja dengan retorika awang-awang agar terlihat cerdas.

Masyarakat tidak bisa makan kata-kata indah atau jargon modern di atas kertas laporan. Ketika harga pangan melonjak, petani kesulitan pupuk, atau pemuda kesulitan mencari kerja, rakyat tidak membutuhkan pidato teoritis tentang “ketahanan pangan global” atau “bonus demografi”. Mereka membutuhkan pendekatan Logos: langkah konkret bagaimana rantai pasok diperbaiki, bagaimana lapangan kerja dibuka, dan bagaimana solusi tersebut masuk akal secara hitungan kebijakan.

READ  SMP St. Stefanus Ketang Masuki Panca Windu, Rangkaian Perayaan Resmi Diluncurkan

Rakyat Butuh Perubahan

Penulis melihat adanya sebuah tren berbahaya di panggung kepemimpinan kontemporer kita saat ini: lahirnya generasi pemimpin yang “hiper-verbalistik” –mereka yang didesain oleh konsultan politik untuk terdengar fasih, tampak ramah di layar gawai, namun lumpuh ketika dihadapkan pada meja eksekusi kebijakan.

Kita harus kembali pada esensi baku yang dicanangkan Aristoteles maupun yang dipraktikkan oleh para pendiri bangsa: Kecakapan berkomunikasi tanpa substansi adalah kosmetik yang menipu, namun substansi tanpa kemampuan komunikasi adalah kekuatan yang terpendam.

Komunikasi tidak boleh sekadar menjadi alat penunjang popularitas. Agar terhindar dari verbalisme, setiap kalimat yang meluncur dari atas podium harus bersumber dari data dan solusi yang matang (Logos), disampaikan dengan bahasa yang memahami penderitaan rakyat (Pathos), dan divalidasi oleh rekam jejak kepemimpinan yang bersih serta teruji (Ethos)
.
Hanya dengan menyelaraskan antara lidah dan langkah kaki, seorang pemimpin dapat membawa perubahan yang nyata dan relevan bagi kesejahteraan rakyatnya. Jika tidak, bersiaplah melihat kata-kata kehilangan maknanya sama sekali, atau stereotip ‘omon-omon’, ‘Nepalkan’ saja, senantiasa hidup dan hadir dalam setiap percakapan masyarakat sebagai ungkapan kekecewaan mereka terhadap perilaku dan kebijakan pemimpin. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *