Berita  

Gempa Guncang Flores, Rakyat Menangis Ratusan Rumah Remuk

Potret rumah warga yang terdampak Gempa Flores, Sabtu (15/8/2026)

Laporan Pius Rengka

detakpasifik- Gempa dahsyat kembali mengguncang Flores. Ratusan rumah remuk. Berkali-kali mereka tertindih derita. Rakyat menangis. Mereka tak putus-putus dirundung duka.

Terduga ratusan rumah remuk menyusul gempa bumi berkekuatan 7,7 pada scala richter terjadi di perairan laut, utara Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur, dini hari Jumat 14 Agustus 2026.

Akibatnya, rumah rakyat di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur terjerembab. Di Borong, Ibukota Kabupaten Manggarai Timur, dikabarkan ratusan penduduk di dataran rendah tak jauh dari pesisir pantai, lari lintang pukang mengungsi ke tempat ketinggian di Gereja Paroki Golo Karot berjarak satu kilometer.

Anak-anak, ibu rumah tangga mengungsi ke gereja. Para perempuan memikul barang semampunya. Lainnya memeluk patung kecil Bunda Maria sambil berlari. Barang lain yang sanggup dipikul pun dibawa. Mereka sungguh khawatir gempa susulan terjadi seiring tsunami laut Sawu.

Implikasi sosial peristiwa ini bakal luas. Kecuali ratusan rumah penduduk rusak parah, rakyat pun kehilangan akses ke berbagai sumberdaya demi merawat kelangsungan hidup mereka.

Seperti rakyat di kampung Wakel dan Manu, Desa Bangka Lelak, Kecamatan Lelak, Kabupaten Manggarai. Kecuali rumah rusak, penduduk lari berhamburan meluputkan diri ke lapangan sepakbola karena khawatir.

READ  Bank NTT Siapkan KUR untuk Pekerja Migran, Dorong SDM NTT Naik Kelas

Salah satu warga masyarakat di Desa Lentang, Kecamatan Lelak, Alfred B. Hasman, yang dihubungi detakpasifik.com hari ini, Sabtu, 15 Agustus 2026, dari lokasi korban menyebutkan, penduduk dusun Ketang, Manu, Wakel, Kecamatan Lelak, Kabupaten Manggarai, Flores NTT, praktis tumpa ruah keluar rumah. Warga berumah di sekitar Ketang, berhamburan ke lapangan sepakbola. Pengungsian sementara ini, kata dia, menimbulkan was-was yang kuat.

Dia menyebutkan beberapa rumah rakyat di kampung Manu, Wakel rusak parah. Penduduk dirundung duka. Mereka menangis. Tetapi, dia mengakui belum diketahui pasti berapa total rumah penduduk rusak berat di Kabupaten Manggarai. Dia menduga bakal banyak rumah rakyat yang rusak berat, apalagi rumah penduduk di dekat pusat gempa terjadi.

Rumahnya di Ketang, ujar Alfred, di bagian dapurnya retak. Padahal konstruksi rumah tersebut semi permanen. Lainnya terdiri dari papan. Apalagi rumah penduduk yang seluruh bangunannya batako berbahan semen.

Alfred menyebutkan rumah salah satu keluarganya, Bapak Josef Ongko, juga rusak berat. Josef Ongko, salah satu tokoh masyarakat terkemuka di kampung Wakel. Josef pada masa mudanya merupakan salah satu tokoh penting Partai Katolik di wilayah itu. Dua anaknya bergelar Doktor dari Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah.

Borong Diberondong

Sementara itu, sumber detakpasifik dari Borong melaporkan, Kota Borong tidak luput dari berondongan gempa. Rumah penduduk di persawahan Wae Reca, Kelurahan Rana Loba dan Desa Nanga Labang, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, banyak rumah rusak parah.

READ  Gempa M7,7 Guncang NTT, Warga di Flores Berhamburan Keluar Rumah

Belum diketahui pasti berapa jumlah rumah rakyat rusak berat. Tetapi, Ardi Turut menyebutkan, penduduk di dataran rendah melarikan diri mengungsi ke Gereja Paroki Golo Karot, Borong. Padahal gereja tersebut pun tidak luput dari ancaman gempa. Plafon gereja rusak. Menurut Ardi, kejadian ini berlangsung pukul 06.00 Wita. Kata dia, belum diketahui pasti apakah ada warga yang meninggal dunia.

Laporan lain juga datang dari Mbay, Nagekeo. Vera Aja, sumber detakpasifik yang tinggal di Kecamatan Aesesa melaporkan di wilayahnya terdapat banyak rumah warga yang rusak terdampak gempa. Hal lainnya yang tidak bisa dihindari kata Vera adalah listrik padam, sementara jaringan komunikasi hidup-mati, muncul sesaat lalu lenyap lagi, seolah mengikuti irama gelombang angin.

Kejadian serupa pernah dialami Pulau Flores tahun 2021. Implikasinya luas. Sejumlah rumah di Kepulauan Selayar rusak akibat gempa berkekuatan 7,4 skala richter di Laut Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sejumlah rumah rusak akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,4 di Desa Sambali, Kecamatan Pasimarannu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Rabu (15/12/2021).

READ  Pers Wajib Kritik Pemerintah

Sebelumnya bulan Desember tahun 1992, tsunami dahsyat menerjang Flores. Larantuka, Maumere, Ende dan sekitarnya remuk redam. Korban jiwa tercatat 250an orang. Penduduk di Pulau Babi, bagian utara Maumere, banyak yang meninggal dunia, rumah mereka remuk.

Muhamad Salahutu, yang ditemui wartawan kala itu menuturkan, saat kejadian dirinya sedang mengajar teori olahraga di kelas. Tiba-tiba, tanah menggelembung dan berbusa, kemudian disusul air laut naik menghajar sekolahnya. Banyak penduduk yang histeris berteriak memohon. Tetapi maut menjemput mereka.

Salahutu luput semata-mata karena dia secara refleks berenang. Dia berenang dari pulau Babi menuju tepian utara Flores dekat Kota Maumere.

Dia adalah satu-satunya orang yang berenang dari Pulau Babi menuju Flores yang dalam keadaan normal hal itu tidak pernah mungkin terjadi. Dia mengakui, dirinya terdorong arus besar tsunami hingga dia terlontar dan terdampar di tepian pesisir pantai Pulau Flores Utara tak jauh dari Kota Maumere.

Tsunami Flores tahun 1992 itu tidak hanya meremukkan fasilitas publik, juga menghancurkan beberapa fasilitas pendidikan swasta Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Ledalero. Pada waktu itu, gedung kampus total remuk.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *