Bank NTT Tegaskan Sosialisasi KUR Bersama Golkar Bagian dari Gerakan Literasi Keuangan

Bank NTT menegaskan sosialisasi KUR bersama Partai Golkar merupakan bagian dari strategi memperluas literasi dan inklusi keuangan masyarakat NTT melalui kolaborasi dengan berbagai organisasi.

Urutan foto ki-ka, Rahmat Saleh dan Aloysius R.A Geong (foto: Juan Pesau)

Kupang, detakpasifik.com- PT Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT) memberikan penjelasan terkait kegiatan sosialisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dilaksanakan bersama Partai Golkar Nusa Tenggara Timur dan ramai diperbincangkan publik.

Dalam konferensi pers yang digelar di lantai II Kantor Bank NTT, Rabu (12/8/2026), manajemen Bank NTT menegaskan keterlibatan perseroan dalam kegiatan tersebut berada dalam kapasitas sebagai narasumber untuk memberikan edukasi dan literasi keuangan, khususnya terkait KUR dan produk layanan perbankan.

Konferensi pers dipimpin Direktur Kredit Bank NTT, Aloysius R.A. Geong, didampingi Direktur Umum dan SDM Rahmat Saleh, Kepala Divisi Kredit Mikro, Kecil dan Konsumer Endri Wardono, serta Kepala Divisi Corporate Secretary Frans Boli Tobi.

Alo Geong menerangkan, penjelasan itu disampaikan untuk memberikan konteks yang lebih utuh mengenai memo internal Bank NTT yang sebelumnya beredar dan dikaitkan dengan rencana sosialisasi KUR bersama Partai Golkar NTT.

Bukan Kegiatan Eksklusif Bersama Partai Politik

Alo menjelaskan, sosialisasi KUR bersama Golkar bukanlah program yang secara khusus ditujukan kepada satu partai politik.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari strategi Bank NTT memperluas jangkauan literasi keuangan melalui berbagai kelompok dan organisasi di tengah masyarakat.

Partai Golkar NTT sendiri melaksanakan kegiatan tersebut dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam kegiatan itu, Golkar menggandeng Bank NTT untuk memberikan pemahaman kepada kader dan anggotanya mengenai literasi keuangan serta akses terhadap pembiayaan KUR.

READ  Richard Sontani: Labuan Bajo Perlu Membangun Kawasan Penyangga

Bank NTT menilai pola kolaborasi semacam itu justru dapat menjadi sarana efektif untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai layanan keuangan formal.

“Ini adalah bagian dari seluruh rangkaian sosialisasi KUR Bank NTT. Bukan hanya kepada partai politik, tetapi juga kepada organisasi-organisasi lainnya, termasuk organisasi keagamaan,” demikian penjelasan Alo dalam konferensi pers tersebut.

Alo Geong bahkan menyebut bahwa pada Kamis (13/8/2026), perseroan dijadwalkan kembali melakukan sosialisasi literasi keuangan dan KUR bersama Nahdlatul Ulama (NU) di Kota Kupang.

Kegiatan tersebut diperkirakan diikuti sekitar 2.500 peserta secara hybrid.

Bagi Bank NTT, lanjut Alo Geong, sosialisasi KUR tidak dapat dipisahkan dari agenda yang lebih besar, yakni meningkatkan literasi keuangan masyarakat NTT.

Alo Geong berpandangan, masyarakat tidak cukup hanya mengetahui adanya fasilitas kredit. Sebelum memutuskan mengakses pembiayaan, calon nasabah perlu memahami cara kerja produk keuangan, kemampuan membayar, risiko pinjaman, hingga konsekuensi apabila kewajiban tidak dapat dipenuhi.

Dengan pemahaman tersebut, KUR diharapkan benar-benar menjadi instrumen pengembangan usaha, bukan justru menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat.

“Sebelum orang tahu kredit, dia harus mengerti literasi keuangan. Agar dia bisa berhubungan dengan bank,” kata Alo.

Karena itu, Bank NTT memandang organisasi masyarakat, lembaga keagamaan, kelompok sosial, institusi ekonomi maupun organisasi politik sebagai kanal yang dapat membantu memperluas jangkauan edukasi keuangan.

Menggandeng Organisasi untuk Dampak Eksponensial

Strategi menggandeng organisasi dinilai memiliki efek pengganda yang lebih besar dibandingkan sosialisasi yang dilakukan secara individual.

READ  Perspektif Filsafat Politik Tentang Konflik Tanah dan Perkawinan Adat di Manggarai

Alo Geong menyebut, satu kegiatan yang diikuti ribuan orang berpotensi membuka akses literasi keuangan kepada masyarakat dalam jumlah jauh lebih besar.

Sebagai gambaran, apabila sepanjang 2026 terdapat sekitar 10 kegiatan sosialisasi dengan rata-rata 2.500 peserta, maka sedikitnya 25.000 orang dapat terjangkau secara langsung.

Apabila sebagian dari peserta kemudian tertarik membuka rekening, menabung, menggunakan layanan perbankan atau mengembangkan usaha melalui pembiayaan yang sesuai dengan kemampuan mereka, dampaknya terhadap inklusi keuangan dapat menjadi signifikan.

Karena itu, Bank NTT berharap pola kolaborasi ini terus diperluas.

“Kami bahkan berharap setelah Golkar akan ada banyak lagi partai politik yang meminta Bank untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat binaan mereka,” ungkapnya.

Harapannya, bukan hanya partai politik, tetapi berbagai organisasi lain juga dapat menjadi mitra dalam memperluas edukasi keuangan masyarakat NTT.

Alo Geong juga juga menekankan bahwa sosialisasi yang dilakukan tidak hanya berbicara mengenai KUR.

Dalam setiap kegiatan, masyarakat juga diperkenalkan dengan berbagai produk dan layanan keuangan Bank NTT lainnya.

Pendekatan tersebut dianggap penting agar masyarakat memiliki pilihan layanan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan mereka, bukan semata-mata diarahkan untuk mengambil kredit.

Dalam konteks ini, literasi menjadi instrumen penting untuk memastikan masyarakat memahami produk yang digunakan sekaligus mampu mengambil keputusan finansial secara bertanggung jawab.

READ  Bank NTT dan Pemkab Sumba Barat Daya Percepat Digitalisasi Keuangan Daerah Lewat SP2D Online

Alo juga mengaitkan pendekatan tersebut dengan pentingnya prinsip pengenalan nasabah dalam industri perbankan.

Keterlibatan berbagai organisasi, menurut manajemen, dapat membantu bank mengenali karakteristik masyarakat dan kelompok yang menjadi sasaran edukasi, sekaligus membangun komunikasi yang lebih dekat dengan calon nasabah.

Bank NTT sendiri, demikian kata Alo Geong, menargetkan kegiatan literasi keuangan tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi berlanjut pada perubahan perilaku masyarakat.

Masyarakat diharapkan tidak lagi melihat bank sebagai institusi yang hanya didatangi ketika membutuhkan pinjaman. Sebaliknya, bank perlu dipahami sebagai mitra dalam mengelola keuangan, menabung, mengembangkan usaha dan meningkatkan kesejahteraan.

Karena itu, Bank NTT mengajak masyarakat untuk tidak takut berhubungan dengan lembaga perbankan.

Bagi Bank NTT, semakin baik pemahaman masyarakat mengenai keuangan, semakin besar pula peluang produk pembiayaan seperti KUR memberikan manfaat ekonomi.

Sebaliknya, rendahnya literasi keuangan dapat membuat masyarakat mengambil keputusan finansial yang tidak sesuai dengan kemampuan mereka dan berpotensi terjebak dalam persoalan utang.

“KUR yang disediakan Bank maupun koperasi harus dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan, bukan membuat masyarakat terjebak dalam utang yang tidak mampu mereka selesaikan. Karena itu literasi keuangan harus terus didorong.” ucapannya

Di akhir konferensi pers Alo kembali menegaskan bahwa Bank NTT akan terus berkomitmen memperluas gerakan literasi keuangan di NTT dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat seperti politik, sosial, ekonomi, keagamaan maupun kelompok-kelompok lainnya.* (Juan Pesau)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *