Oleh: Maria Prisilia Ajul, Et al.
Di era digital, smartphone telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia. Data tahun 2025 dari Layman Data Academy menunjukkan bahwa rata-rata masyarakat dunia menggunakan smartphone selama 6,6–7 jam per hari. Namun, di balik kemudahan komunikasi yang ditawarkan, muncul fenomena yang perlahan memengaruhi kualitas hubungan sosial, yaitu phubbing.
Apa itu phubbing?
Phubbing adalah kebiasaan mengabaikan orang di sekitar karena terlalu fokus pada smartphone. Kehadiran fisik kini tidak selalu berarti kehadiran emosional. Banyak orang lebih sibuk dengan layar dibanding membangun komunikasi langsung dengan orang di sekitarnya.
Komunikasi Menjadi Kurang Bermakna:
Salah satu dampak utama phubbing adalah menurunnya kualitas komunikasi secara langsung. Dalam percakapan sehari-hari, sering terlihat seseorang memeriksa notifikasi, membuka media sosial, atau membalas pesan saat orang lain sedang berbicara. Kebiasaan ini membuat lawan bicara merasa diabaikan dan tidak dihargai.
Penelitian dalam jurnal Computers in Human Behavior (2016) menunjukkan bahwa phubbing dapat menurunkan kepuasan hubungan interpersonal karena seseorang merasa kurang diperhatikan. Akibatnya, percakapan menjadi kurang hangat dan kehilangan makna.
Rasa Empati Semakin Menurun
Phubbing juga berdampak pada menurunnya rasa empati dan kedekatan emosional. Saat perhatian terlalu tertuju pada smartphone, seseorang menjadi kurang peka terhadap perasaan orang di sekitarnya.
Penelitian tahun 2024 berjudul Phubbing Makes the Heart Grow Callous menjelaskan bahwa perilaku phubbing dapat mengurangi rasa empati serta berdampak negatif terhadap hubungan sosial. Jika terus dibiarkan, manusia akan semakin sulit membangun hubungan yang hangat dan penuh kepedulian.
Kehadiran Digital Menggantikan Kehadiran Nyata
Saat ini, banyak orang merasa lebih nyaman terhubung melalui dunia digital dibanding berinteraksi secara langsung. Kehadiran di media sosial sering dianggap lebih penting daripada kehadiran nyata bersama keluarga maupun teman.
Akibatnya, banyak momen kebersamaan kehilangan makna karena setiap orang sibuk dengan ponselnya masing-masing. Penelitian dalam jurnal Computers in Human Behavior menemukan bahwa phubbing muncul dalam 62 dari 100 percakapan langsung, dan membuat tingkat keintiman percakapan menjadi lebih rendah.
Pada akhirnya, Smartphone memang membantu manusia terhubung dengan dunia luar, tetapi jangan sampai membuat kita menjauh dari orang-orang terdekat. Teknologi seharusnya mempererat hubungan sosial, bukan menggantikan kehadiran dan perhatian nyata.
Mari lebih bijak menggunakan smartphone, terutama saat bersama keluarga, teman, maupun pasangan. Karena pada akhirnya, manusia mungkin semakin terhubung secara digital, tetapi belum tentu semakin dekat secara emosional.
Artikel opini di atas ditulis bersama Dominikus Collins Haribaik, Aldegonda Nadia Jaya dan Natalia Desi Anggu.











