Berita  

Jalan Poros Pota–Riung Putus Total: Nadi Ekonomi dan Pariwisata Flores Utara Lumpuh

Kondisi jalan jurusan Pota-Riung putus total akibat hujan lebat selama 4 hari (foto: pr)

Labuan Bajo, detakpasifik.com- Hujan deras yang mengguyur wilayah Flores bagian utara selama empat hari berturut-turut sejak 15 Mei 2026 akhirnya meluluhlantakkan jalan poros Pota-Riung. Jalur yang selama ini menjadi urat nadi penghubung kawasan pesisir utara Flores itu kini putus total, menyisakan kecemasan panjang bagi masyarakat, petani, pelaku wisata, dan pengguna jalan lintas kabupaten.

Ruas jalan yang amblas tersebut berada di kawasan Nanga Lok, Desa Golo Lijun, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, tepat di wilayah perbatasan Kecamatan Elar dan Kecamatan Sambi Rampas. Putusnya jalan ini bukan sekadar kerusakan infrastruktur biasa, melainkan terhentinya denyut kehidupan ekonomi masyarakat di empat kabupaten: Ngada, Manggarai Timur, Manggarai, dan Manggarai Barat.

Arsyad, seorang pelaku pariwisata di Pota, ibu kota Kecamatan Sambi Rampas, kepada detakpasifik pada petang ini menuturkan bahwa badan jalan ambruk pada 19 Mei 2026 setelah diguyur hujan tanpa jeda selama empat hari.

Ia menggambarkan kerusakan itu sangat parah. Jalan dengan ukuran sekitar lima meter kali enam meter itu kini menganga dengan kedalaman mencapai empat meter. Tanah di sekitarnya terus bergerak dan dikhawatirkan akan semakin hancur apabila hujan masih terus turun dalam beberapa hari mendatang.

READ  Munculnya Komunikasi Digital dan Perubahan Kategori Media

“Jalan itu putus total. Kendaraan tidak mungkin lagi melintas. Kalau hujan terus terjadi, kerusakan bisa semakin melebar,” ujar Arsyad dengan nada cemas.

Jalan poros Pota-Riung selama ini merupakan satu-satunya akses utama lintas utara yang menghubungkan kawasan wisata Riung di Kabupaten Ngada dengan Labuan Bajo di Kabupaten Manggarai Barat, destinasi wisata super premium yang menjadi wajah pariwisata Indonesia di mata dunia. Jalur ini juga menjadi penghubung penting menuju Ruteng di Kabupaten Manggarai dan pusat-pusat perdagangan masyarakat di Manggarai Timur.

Bagi masyarakat Flores utara, jalan tersebut bukan sekadar hamparan aspal yang membelah bukit dan lembah. Ia adalah denyut ekonomi rakyat. Dari jalan itulah hasil bumi masyarakat bergerak menuju pasar-pasar besar. Jagung, kemiri, kopi, kelapa, kakao, mete, pisang, hingga hasil laut dari pesisir Riung dan Pota selama ini diangkut melewati jalur tersebut untuk dipasarkan ke Ruteng, Labuan Bajo, bahkan hingga keluar daerah Flores.

READ  Mengapa Rakyat NTT Peduli?Refleksi Demokrasi dari Polemik Tunjangan DPRD
hujan lebat selama 4 hari mengakibatkan jalan Pota-Riung putus total (foto: pr)

Akibat putusnya jalan itu, puluhan ton jagung milik petani di wilayah utara Pota dan Riung kini tertahan. Truk pengangkut hasil panen tidak lagi dapat melintas. Di gudang-gudang sederhana milik petani, hasil panen mulai menumpuk tanpa kepastian distribusi. Jika kondisi ini berlangsung lama, masyarakat terancam mengalami kerugian besar akibat penurunan harga dan kerusakan hasil pertanian.

Kerugian ekonomi yang ditimbulkan diperkirakan akan sangat besar karena jalur tersebut selama ini menjadi koridor distribusi utama bagi aktivitas perdagangan antarwilayah di Flores bagian utara. Putusnya akses menyebabkan biaya logistik melonjak karena kendaraan harus mencari jalur alternatif yang lebih jauh dan sulit ditempuh. Harga kebutuhan pokok dikhawatirkan ikut naik, sementara pendapatan petani dan pelaku usaha kecil menurun drastis.

Tidak hanya sektor pertanian yang terpukul. Dunia pariwisata pun ikut tersendat. Wisatawan yang hendak melakukan perjalanan dari Riung menuju Labuan Bajo atau sebaliknya kini tidak lagi dapat melintasi jalur utara yang selama ini menawarkan panorama pesisir Flores yang indah dan eksotis. Padahal jalur Pota–Riung merupakan bagian penting dari konektivitas destinasi wisata Flores, terutama bagi wisatawan yang ingin menikmati gugusan Taman Laut 17 Pulau Riung, budaya Manggarai, hingga pesona Labuan Bajo dalam satu lintasan perjalanan.

READ  Edukasi Mangan dan Kunjungan Tambang Prodi Kimia UNWIRA Kupang

Pelayanan pemerintahan dan mobilitas sosial masyarakat juga ikut terganggu. Aktivitas pendidikan, layanan kesehatan, distribusi barang kebutuhan pokok, hingga urusan administrasi pemerintahan menjadi tersendat akibat terisolasinya sejumlah wilayah.

“Itu satu-satunya jalan penghubung lintas utara antara Pota dan Riung. Masyarakat berharap pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, maupun pemerintah pusat segera turun tangan. Jalan ini sangat vital bagi kehidupan masyarakat,” kata Arsyad penuh harap.

Kini, di tengah reruntuhan badan jalan yang menganga, masyarakat Flores utara hanya bisa menunggu langkah cepat pemerintah. Sebab bagi mereka, jalan itu bukan sekadar infrastruktur—melainkan jembatan harapan, penghubung kehidupan, dan penopang masa depan ribuan warga di pesisir utara Pulau Flores (pr).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *