Kematian dalam Sembilan Baris: Membalas Surat Yohanes Bastian Roja (YBR)

Melalui surat terakhirnya, Yohanes Bastian Roja tidak sekadar berpamitan kepada ibunya, tetapi mengirimkan gugatan sunyi kepada negara. Tentang kemiskinan, kelalaian, dan kemanusiaan yang kian kehilangan makna.

Dr. Marsel Robot

Oleh: Marsel Robot
Dosen Bahasa dan Sastra FKIP Undana

Perkenankan aku menyapamu Bastian. Sebelum memulai menulis surat duka ini, maafkan aku, bila baru membalas suratmu setelah engkau pergi dan telah tiba di pangkuan bunda kesunyian. Aku telah membaca suratmu yang pendek itu. Kian lama aku membaca, kian memuai huruf-hurufnya, melampaui kertas itu dan maknanya membentang dari Sabang sampai Merauke dari Sangir Talaud sampai Rote. Engkau menulis dengan bolpoin kecil, dengan tinta air mata di atas kertas kusam sekusam hidupmu. Sedangkan aku menulis dengan tinta libido kekuasaan. Namun, tulisanmu lah yang menginterogasi nurani, hinga aku begitu sibuk menggandakan alibi.

Kini surat itu beraroma rampe memenuhi ruang republik. Engkau menulis sembilan baris dengan huruf yang goyah. Semacam petunjuk psikologis yang mendesak keputusan mengakhiri hidupmu. Aku teringat, filsuf dan sastrawan Prancis Albert Camus pernah berkata: “Hanya ada satu masalah filsafat yang benar-benar serius, yaitu bunuh diri.”(Il n’y a qu’un problème philosophique vraiment sérieux : c’est le suicide). “Apakah hidup masih layak dijalani,” katanya lagi. Aku menjawab pertanyaan itu dengan angka di buku stambuk program pembangunan yang penuh dengan grafik yang elok menggambarkan nasibmu. Sedangkan, engkau menjawabnya dengan membunuh, menggantung diri, menggantung nurani. Lebih tepat menyalibkan diri di pohon cengkeh guna mewartakan keruntuhan moral di negeri yang tampak paling religius ini.

Engkau berjalan menuju pohon cengkeh untuk menggantung tubuh mungilmu dan wajah Indonesia adalah lakon pemberontakan yang paling filosofis dalam episode kematianmu. Tubuhmu yang tergantung kaku di pohon cengkeh adalah pose hati nurani bangsa yang mati. Karena itu, sejak hari keberangkatanmu, terasa setiap kali angin meniup daun cengkeh, aku mendengar suara kertas. Sembilan baris suratmu bergesek dengan udara seperti kata-kata itu berjalan ke dalam jiwaku, “Molo Mama” dan suara terakhir lebih terang, “Molo Indonesia”. Dua kata. Pendek. Sependek napas terakhir yang tersedak oleh tali gantung, tetapi lebih panjang dari buku sejarah.

READ  Dari Buraen Kami Belajar Tumbuh

Aku ingin membela diri, Bastian. Aku ingin berkata, anggaran sedang dibahas, program sedang disiapkan, mekanisme sedang dirapikan, arsip masih dibereskan. Itu semua alibi yang melebihi salib (penderitaan) bagimu. Filsuf bahasa Ludwig Wittgenstein mengingatkan aku tentang apa yang tak bisa dibela secara etis, bahasa seharusnya berhenti. Dan hari ini, bahasaku berhenti. Di hadapan suratmu, orasi-orasiku menjadi kusut.

Aku hidup di negeri yang pandai memberi makan ke dalam perut tetapi sering lupa memberi makan makna. Aku rajin menghitung uang reses, uang tunjangan perumahan, tunjangan ini itu, tetapi malas membaca air matamu. Aku menyebutnya Makan Bergizi Gratis, tetapi lupa bahwa pikiran yang lapar akan lebih dulu memberontak daripada perut yang kosong.

Hannah Arendt menyebut ini kejahatan yang banal, kejahatan yang duduk penuh wibawa, memakai jas, dan merasa tidak bersalah karena hanya “menjalankan prosedur”. Aku menjalankan prosedur itu, Bastian, sementara engkau menjalankan keputusan terakhir di pohon cengkeh. Pohon sejarah berdahankan hati nurani yang meranggas.

Suratmu ditulis dalam bahasa ibu. Bahasa yang lahir lebih dulu daripada Sumpah Pemuda. Bahasa kasih yang mengajarkan kita menghitung kasih sebelum menghitung angka dalam daftar gaji dan tunjangan. Karena itu, suratmu tidak pernah mati. Surat itu tidak bisa dikubur. Sebab, surat tidak berasal dari tanah, melainkan dari kenyataan ketidakadilan. Walter Benjamin pernah menulis tentang aura: daya magis yang membuat sesuatu menolak dilupakan. Suratmu memiliki aura itu. Ia tidak tunduk pada waktu. Ia berjalan sendiri, mengetuk pintu-pintu nurani yang selama ini aku kunci rapat dari dalam.

READ  Mencermati Hubungan Kebijakan Publik dengan Konflik

Aku membaca baris pertama suratmu: “Mama galo zee.” Mama pelit sekali. Kalimat itu seperti revolusi. Kata “pelit” sebagai argumentasi yang lebih mendalam adalah kemiskinan. Karl Marx mengingatkan aku: kemiskinan bukan kegagalan pribadi, melainkan kegagalan structural alias kegagalan negara. Namun, aku lebih suka cerita sederhana, karena cerita sederhana membebaskan aku dari tanggung jawab. Engkau menulis: “Mama, molo ja’o.” Mama, biarkan saya pergi. Kalimat itu tidak meminta izin. Ia hanya berpamitan, berisikan kepasrahan terhadap keadaan yang sudah diterima sebagai nasib. Seperti seseorang yang tahu pintu ini tak akan dibukakan meski diketuk seribu kali.

Dan ketika engkau menulis: “jangan menangis, Mama”, aku jatuh terantuk oleh nurani ke sendiri. Seorang anak menenangkan ibunya sementara negara menenangkan dirinya sendiri. Emmanuel Levinas berkata, etika lahir ketika wajah orang lain menuntut kita bertanggung jawab. Wajahmu menuntut itu, Bastian. Namun, aku menunduk, sibuk menghitung langkah, takut menatap terlalu lama karena takut merasa bersalah. Lebih takut lagi ketika aku bersua dengan perkataan Yesus: “Apa yang kamu lakukan terhadap salah seorang yang paling kecil ini, kamu melakukannya terhadap Aku” (Matius 25:40).

Di bait terakhir, bahasamu terengah-engah. Kata-kata berdempetan seperti orang-orang berdesakan di pasar rakyat. Bahasa kehilangan jarak, seperti hidupmu kehilangan jalan keluar. Dan kalimat terakhirmu: “Jangan cari saya.” Kalimat ini bukan penutup. Ia adalah tragedi pembebasan. Engkau membebaskan ibumu dari pencarian tanpa tepi. Walau engkau mewariskan pencarian itu kepada aku semua. Friedrich Nietzsche filsuf Jerman yang pernah mengabarkan Tuhan telah mati berbicara tentang tragedi sebagai pertemuan antara penderitaan dan kesadaran. Suratmu adalah tragedi itu, Bastian. Ia tidak menawarkan hiburan, hanya kejujuran yang terlalu terang untuk mata aku yang terbiasa gelap dan begitu kelam memandangmu di ujung negeri.

READ  Pius Rengka Raih Gelar Doktor: Membaca Ulang Kepemimpinan Politik di NTT Lewat Lensa Akademik

Engkau tidak menulis namamu. Engkau menggambar dirimu menangis. Seolah berkata: ingat aku bukan sebagai angka statistik di ruang dewan yang mengocok brankas, melainkan sebagai rakyat kecil yang gagal dijaga. Aku ingin berkata bahwa kematianmu akan mengubah segalanya. Namun, kata-kata semacam itu terlalu sering aku ucapkan sebelum kembali tidur nyenyak. Giorgio Agamben menyebut hidup semacam ini sebagai bare life: hidup yang dibiarkan ada tanpa sungguh-sungguh dilindungi. Aku membiarkanmu hidup seperti itu, Bastian. Dan ketika engkau pergi, aku pura-pura terkejut dan berbondong dengan pawaian mobil mewah menuju pusaramu. Jika satu saja mobil fortuner itu dijual, maka engkau mendapatkan 100 gudang buku tulis dan pena.

Kini aku menulis, bukan untuk menebus, karena tak ada kata yang bisa menebus kehilangan. Aku menulis agar rasa bersalah ini tidak segera menguap menjadi rutinitas baru. Jika suratmu aku baca, lalu aku kembali nyaman, maka engkau mati dua kali. Jika setiap kali aku berbicara tentang kesejahteraan wajahmu muncul sebagai gangguan, sebagai mimpi buruk, sebagai suara yang tak bisa dibungkam, maka engkau masih hidup. Dan aku di negeri yang masih bernapas ini, akan terus ditanyai oleh sembilan baris tulisan tangan dari seorang anak yang lebih jujur daripada seluruh orasiku.

Jika besok aku kembali berpidato, ingatkan aku pada sepuluh ribu yang menjatuhkan negara dari podium ke tanah. Di sana seorang anak pernah bertanya tanpa mikrofon, tanpa ruang mewah dewan yang berjuang untuk nasibmu, dan kami tak menjawab. Sejak itu, kami hidup di alam yang ramai oleh tepuk tangan menutup nurani. Lalu, terbayangkan tangan kecilmu yang mungil itu melambai: Molo Indonesia. Dan sesayup suara yang masih tersisa dalam dompet nuraniku: “Dengarlah jeritan orang kecil” (Amsal 21:13).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *