oleh Marselus Natar
Hari-hari ini saya sedang berada di Manggarai Timur, salah satu wilayah yang cukup merasakan dampak dari gempa bumi yang mengguncang Flores. Saya berada di tengah keluarga dan orang-orang sekampung yang sama-sama sedang berhadapan dengan rasa takut yang tidak mudah dijelaskan.
Saya sendiri mengalami bagaimana sebuah gempa susulan mengubah suasana dalam hitungan detik. Belum lama berselang, ketika tanah kembali berguncang, suasana kampung yang semula tenang tiba-tiba pecah. Orang-orang berhamburan keluar rumah. Dalam kepanikan itu terdengar teriakan khas orang Manggarai ketika gempa datang:
“Ruha lale! Ruha lale!” Lalu disusul teriakan, “Ata dokm! Ata dokm!”
Sambil berlari mencari tempat yang dirasa lebih aman, orang-orang saling memanggil dan memastikan keluarga mereka tidak tertinggal. Anak-anak dipanggil. Orang tua dicari. Ada yang masih sempat meraih tangan anggota keluarganya, ada yang berlari begitu saja karena naluri untuk menyelamatkan diri lebih cepat daripada pikiran.
Dalam beberapa detik itu, semua terasa begitu dekat dengan kematian. Rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung tiba-tiba terasa menakutkan. Tanah yang selama ini kita pijak tanpa pernah kita pikirkan, tiba-tiba bergerak di bawah kaki. Dan ketika guncangan berhenti, kami tidak langsung kembali ke dalam rumah.
Kami masih berdiri di luar. Saling melihat. Saling bertanya. “Semua sudah keluar?” “Anakanak di mana?” “Bapak sudah ada?” “Ibu bagaimana?”
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu menjadi sangat penting. Barangkali begitulah wajah sebuah kampung ketika bencana datang. Tidak ada lagi yang bertanya siapa yang kaya dan siapa yang miskin. Tidak ada lagi yang terlalu memikirkan urusan masing-masing. Yang penting adalah memastikan bahwa orang di sebelah kita selamat.
Tetapi yang paling sulit justru datang setelahnya. Ketika malam tiba. Ketika suasana mulai sunyi. Ketika tubuh sebenarnya sudah lelah, tetapi mata sulit terpejam. Sebab kita tidak pernah tahu kapan tanah akan kembali berguncang. Gempa mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Tetapi rasa takutnya bisa tinggal jauh lebih lama.
Saya merasakan sendiri bagaimana pengalaman itu meninggalkan semacam trauma. Setiap bunyi tiba-tiba membuat kita waspada. Ketika lantai terasa sedikit bergerak, tubuh seperti secara otomatis bersiap untuk berlari.
Di tengah situasi seperti itulah, tiba-tiba saya teringat kepada seseorang yang datang ke Flores puluhan tahun lalu.
Kapten Tasuku Sato.
Dan saya teringat pada bukunya yang fenomenal: I Remember Flores – Aku Terkenang Flores.
Ada sesuatu yang terasa ganjil sekaligus menarik ketika mengingat buku itu dalam situasi seperti sekarang.
Tasuku Sato bukan orang Flores.
Ia datang dari Jepang. Ia mengalami Flores dalam sebuah masa yang berbeda, masa perang yang penuh dengan ketegangan dan ketidakpastian.
Tetapi setelah semuanya berlalu, yang ia bawa pulang bukan hanya ingatan tentang perang.
Ia membawa pulang kenangan tentang Flores dan orang-orangnya.
Ia mengenang perjumpaan-perjumpaan yang dialaminya di pulau ini. Ia mengenang masyarakat, para imam, kehidupan umat Katolik, dan berbagai pengalaman yang meninggalkan kesan dalam hidupnya.
Dan mungkin di situlah letak kekuatan sebuah tempat.
Sebuah tempat bisa begitu jauh dari tanah kelahiran kita, tetapi manusia-manusianya bisa tinggal dalam ingatan kita selama bertahun-tahun.
Kita mungkin lupa nama jalan yang pernah kita lewati. Kita mungkin lupa rumah yang pernah kita singgahi. Tetapi kita tidak mudah melupakan seseorang yang pernah memberikan kita makan ketika lapar, memberi tempat ketika kita membutuhkan perlindungan, atau sekadar menyapa kita dengan tulus.
Mungkin itulah Flores yang dikenang Tasuku Sato.
Dan hari ini, ketika saya berada di Manggarai Timur dan menyaksikan sendiri bagaimana orang-orang berlari keluar rumah sambil meneriakkan “ruha lale” dan “ata dokm”, saya seperti melihat kembali satu sisi lain dari Flores yang mungkin juga pernah membuat Sato terkesan: manusia-manusianya.
Orang Manggarai boleh panik ketika gempa datang. Tentu saja. Kami juga takut. Kami juga ingin menyelamatkan diri. Tetapi di tengah kepanikan itu, ada sesuatu yang tetap dilakukan: mencari orang lain. Memastikan keluarga selamat. Memanggil tetangga. Membantu mereka yang kesulitan. Itulah manusia ketika berhadapan dengan bencana.
Naluri pertama memang menyelamatkan diri. Tetapi setelah itu, naluri berikutnya adalah mencari orang-orang yang kita cintai.
Dan di sanalah kemanusiaan sering kali terlihat paling jelas.
Gempa telah membuat banyak rumah retak. Sebagian bangunan mungkin tidak lagi bisa ditempati. Ada keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Ada yang kehilangan anggota keluarga. Ada yang kehilangan harta benda dan sumber penghidupan.
Tetapi ada satu hal yang juga ikut terguncang dan sering kali tidak masuk dalam laporan bencana: rasa aman.
Seorang anak mungkin masih takut tidur di dalam rumah. Seorang ibu mungkin tidak bisa tidur nyenyak karena terus memikirkan keselamatan keluarganya. Seorang bapak mungkin terlihat tenang, tetapi sebenarnya menyimpan kecemasan yang sama. Karena itu, pemulihan setelah gempa tidak cukup hanya dengan memperbaiki bangunan.
Rumah perlu dibangun kembali. Tetapi rasa aman juga perlu dipulihkan. Dan untuk itu, manusia membutuhkan manusia lain. Kita membutuhkan kehadiran. Membutuhkan orang yang datang bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga membawa ketenangan. Membutuhkan seseorang yang duduk bersama kita dan berkata, “Kita hadapi ini sama-sama.” Mungkin karena itulah I Remember Flores terasa kembali relevan di tengah bencana hari ini.
Tasuku Sato pernah mengenang Flores melalui orang-orang yang ia jumpai.
Hari ini kita pun sedang melihat kembali Flores melalui orang-orang yang sedang berjuang menghadapi bencana.
Zamannya berbeda. Peristiwanya berbeda. Tetapi manusianya tetap sama. Orang Flores yang sedang berduka. Orang Flores yang sedang takut. Orang Flores yang sedang berusaha bertahan.
Dan juga orang Flores yang masih mau menolong sesamanya. Mungkin beberapa puluh tahun dari sekarang, ketika gempa ini hanya tinggal cerita dalam buku-buku sejarah, anak-anak kita tidak lagi mengingat berapa kali gempa susulan terjadi. Mereka mungkin tidak hafal angka magnitudo. Tetapi semoga mereka masih mendengar cerita tentang bagaimana orang-orang sekampung pada suatu malam berlari menyelamatkan diri sambil berteriak:
“Ruha lale!”
“Ata dokm!”
Semoga mereka tahu bahwa di balik teriakan itu ada ketakutan manusia yang sangat nyata.
Tetapi juga ada sebuah pesan yang lebih dalam: ketika bumi berguncang, kita mencari satu sama lain. Dan mungkin, kelak ketika semuanya sudah berlalu, kita akan mengenang Flores bukan hanya karena gempa yang pernah mengguncangnya.
Kita akan mengenangnya karena orang-orangnya. Karena mereka pernah takut, tetapi tetap bertahan. Pernah kehilangan, tetapi tetap berbagi. Pernah berlari menyelamatkan diri, tetapi setelah keadaan tenang mereka kembali mencari tetangga dan keluarga.
Seperti Tasuku Sato yang puluhan tahun lalu membawa Flores dalam ingatannya, mungkin kita pun suatu hari akan membawa kenangan tentang masa ini. Kenangan tentang sebuah Flores yang pernah berguncang. Tetapi lebih dari itu, kenangan tentang orang-orang Flores yang memilih untuk saling menggenggam ketika tanah di bawah kaki mereka tidak lagi bisa dipercaya.
Aku terkenang Flores.
Dan hari ini, di tengah gempa dan ketakutan yang belum sepenuhnya reda, saya semakin mengerti bahwa yang paling layak dikenang dari Flores bukan hanya tanahnya.
Tetapi orang-orangnya.











