Berita  

10 Tokoh Politik Kristen Paling Berpengaruh di Indonesia

Kolase foto: Basuki Tjahaja Purnama, Sherly Tjoanda, Melki Laka Lena

Disusun oleh Juan Pesau

Catatan: Eksistensi daftar ini tidak lahir dari hasil survei, bukan pula sebuah ketetapan yang absolut. Ini adalah sebuah penilaian khidmat dari editorial detakpasifik, yang disusun melalui refleksi atas rangkaian sejumlah indikator.

detakpasifik Pengaruh dalam politik tidak selalu berbanding lurus dengan jabatan yang sedang diemban.

Ada politisi yang pengaruhnya lahir dari kursi pemerintahan. Ada yang mengandalkan kekuatan partai. Ada pula yang tetap punya daya politik meski sudah tidak berada dalam lingkar kekuasaan formal.

Di Indonesia, sejumlah politisi Kristiani berhasil membangun pengaruh dengan cara masing-masing. Mereka datang dari latar belakang berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan yakni nama dan keputusan politik mereka mampu memberi warna terhadap percakapan politik nasional maupun daerah.

Dari lingkar kekuasaan pusat, Senayan, partai politik hingga pemerintahan daerah, pengaruh mereka terbentuk melalui perjalanan politik yang teramat panjang.

Berangkat dari pijakan i tu, detakpasifik merangkai untaian kisah sepuluh tokoh politik Kristiani paling berpengaruh di panggung Nusantara.

Eksistensi daftar ini tidak lahir dari hasil survei, bukan pula sebuah ketetapan yang absolut. Ini adalah sebuah penilaian khidmat dari editorial detakpasifik, yang disusun melalui refleksi atas rangkaian indikator utama: keagungan jabatan yang sedang dipangku, pengaruh di tampuk partai, reputasi birokrasi, serta jam terbang di parlemen. Poros penilaian ini juga diperkuat kedalaman jejaring politik, akses ke pusat kekuasaan, serta kemahiran dalam membentuk opini publik.

Berlandaskan ukuran tersebut, kami mempersembahkan sepuluh nama terpilih ke dalam daftar ini.

1. Luhut Binsar Pandjaitan

Sulit mencari nama lain yang lebih layak ditempatkan di posisi pertama jika ukurannya adalah kedekatan dengan pusat kekuasaan dan panjangnya rekam jejak dalam pemerintahan nasional.

Luhut bukan sekadar politikus. Latar belakang militernya, pengalaman sebagai menteri di sejumlah pemerintahan, pengusaha, diplomat, hingga orang kepercayaan Presiden membuat namanya memiliki bobot yang jauh melampaui jabatan formal yang sedang diembannya.

Saat ini Luhut menjabat Ketua Dewan Ekonomi Nasional dan tetap menjadi salah satu figur penting dalam lingkar kebijakan ekonomi pemerintahan.

Pengaruh Luhut terletak pada satu hal, ia memiliki akses dan jaringan yang terbentuk selama puluhan tahun.

Dalam politik Indonesia, jaringan semacam ini adalah modal yang tidak mudah digantikan.

2. Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok

Ahok adalah contoh bagaimana pengaruh politik tidak selalu bergantung pada jabatan formal.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini masih menjadi salah satu figur politik Kristen paling dikenal di Indonesia. Ketegasan, gaya komunikasi yang frontal, rekam jejak sebagai kepala daerah, serta basis pendukung yang terbentuk sejak lama membuat namanya tetap memiliki daya politik.

READ  Pejabat Berfoya, Rakyat Berdoa

Ahok memiliki pengalaman di parlemen, pemerintahan daerah hingga perusahaan negara.

Kekuatan Ahok bukan hanya terletak pada struktur partai.

Ia mempunyai brand politik yang sangat kuat.

Dan dalam politik, brand semacam itu tidak mudah hilang hanya karena seseorang tidak sedang duduk di kursi pemerintahan.

3. Sherly Tjoanda

Sherly Tjoanda adalah fenomena politik yang menarik.

Ia tidak melalui jalur panjang birokrasi nasional, tetapi berhasil mengubah modal sosial, jaringan politik dan dukungan masyarakat menjadi kekuatan politik di Maluku Utara.

Sebagai Gubernur Maluku Utara, Sherly kini memiliki kekuasaan eksekutif langsung atas sebuah provinsi yang semakin strategis dalam peta ekonomi Indonesia.

Maluku Utara memiliki sumber daya alam besar dan menjadi salah satu kawasan penting dalam perkembangan industri berbasis mineral.

Karena itu, posisi Sherly tidak bisa dibaca sekadar sebagai gubernur daerah.

Sherly adalah salah satu figur politik Kristen yang kini memiliki kekuasaan eksekutif langsung di wilayah strategis Indonesia timur.

4. Melki Laka Lena

Melki Laka Lena adalah salah satu figur yang mengalami kenaikan kelas politik paling menarik dalam beberapa tahun terakhir.

Dari politisi Senayan, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, kader senior Golkar, hingga akhirnya menjadi Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melki kini berada pada titik penting dalam karier politiknya.

Kekuatan Melki menjadi lebih besar karena ia tidak hanya memiliki jabatan eksekutif di daerah, tetapi juga jaringan politik melalui Partai Golkar.

Dua pintu kekuasaan itu, pemerintahan dan partai, membuat ruang pengaruhnya menjadi lebih luas.

Sebagai gubernur di provinsi kepulauan yang berbatasan langsung dengan Timor-Leste dan Australia, posisi Melki juga memiliki nilai strategis tersendiri.

Itulah alasan detakpasifik menempatkannya di posisi keempat.

5. Yasonna H. Laoly

Jika ukuran pengaruhnya adalah rekam jejak pemerintahan nasional dan kekuatan jaringan partai, Yasonna layak masuk dalam daftar ini.

Mantan Menteri Hukum dan HAM tersebut merupakan salah satu politikus senior PDI Perjuangan dari kalangan Kristen yang memiliki perjalanan panjang di Senayan maupun pemerintahan.

Yasonna pernah menjadi anggota DPR RI dan kemudian dipercaya menjadi menteri dalam pemerintahan Joko Widodo.

Pengaruhnya tidak berhenti pada jabatan menteri.

Ia merupakan bagian dari generasi politisi senior PDIP yang memahami dua arena sekaligus. Politik parlemen dan kekuasaan eksekutif.

Karena itu, meski tidak lagi menduduki kursi menteri, pengalaman dan jaringan politik Yasonna tetap membuatnya menjadi salah satu figur Kristen penting di panggung nasional.

6. Olly Dondokambey

Kalau bicara tentang kekuatan politik Kristen di internal PDI Perjuangan, nama Olly Dondokambey sulit dilewatkan.

READ  Setelah Vakum Sejak 2019, Bank NTT Siap Kembali Salurkan KUR pada 2026

Gubernur Sulawesi Utara ini mempunyai basis politik yang kuat di daerah sekaligus jaringan yang panjang di tingkat nasional.

Olly juga pernah menjadi anggota DPR RI dan memiliki posisi penting di struktur PDI Perjuangan.

Kekuatan politiknya terletak pada kemampuannya menjaga hubungan antara politik daerah, partai dan pusat kekuasaan.

Sulawesi Utara sendiri merupakan salah satu wilayah dengan basis pemilih Kristen yang kuat.

Olly mungkin tidak selalu menjadi politisi yang paling ramai di media.

Namun dalam politik, yang tidak banyak bicara di depan kamera belum tentu sedikit pengaruhnya di belakang layar.

7. Melchias Markus Mekeng

Nama Mekeng mungkin tidak sepopuler Luhut atau Ahok di ruang publik.

Namun dalam politik parlemen, pengaruhnya tidak bisa dianggap kecil.

Politisi senior Partai Golkar ini memiliki pengalaman panjang sebagai anggota DPR RI dan pernah menduduki posisi strategis di alat kelengkapan DPR, terutama yang berkaitan dengan bidang keuangan dan anggaran.

Di situlah letak kekuatannya.

Mekeng memahami politik dari ruang yang sangat menentukan, anggaran negara.

Pengalaman panjang di Senayan membuatnya mempunyai jaringan politik yang luas sekaligus pemahaman mendalam mengenai mekanisme kekuasaan legislatif.

Untuk ukuran politikus Kristen dari Golkar, Mekeng adalah salah satu nama yang mempunyai modal institusional paling panjang.

8. Viktor Bungtilu Laiskodat

Viktor Laiskodat harus berada di posisi kedelapan sesuai standar editorial yang kita tetapkan.

Namun posisi kedelapan bukan berarti pengaruhnya kecil.

Viktor adalah salah satu politisi Kristen dari Indonesia timur yang berhasil menembus panggung politik nasional dengan sangat kuat.

Ia pernah menjadi anggota DPR RI, memimpin Fraksi NasDem di DPR, kemudian menjadi Gubernur NTT periode 2018–2023, dan kini kembali duduk sebagai anggota DPR RI.

Perjalanan dari Senayan ke pemerintahan daerah, lalu kembali ke Senayan, memberikan Viktor pengalaman politik yang lengkap.

Viktor memahami bagaimana kekuasaan bekerja dari dalam parlemen sekaligus dari kursi kepala daerah.

Karakter politiknya juga sulit diabaikan.

Komunikasinya tegas, gagasannya sering kontroversial, tetapi justru itu yang membuat namanya sulit dikesampingkan dari percaturan politik nasional.

9. Maruarar Sirait

Maruarar Sirait adalah figur lain yang memiliki perjalanan panjang dalam politik nasional.

Mantan anggota DPR RI ini dikenal memiliki jaringan luas, baik di lingkungan politik, organisasi kepemudaan maupun kelompok masyarakat.

Kekuatan Maruarar bukan hanya pada jabatan formal yang pernah dipegang, tetapi pada network politik lintas kelompok yang dibangunnya selama bertahun-tahun.

Ia merupakan tipe politisi yang mampu membangun hubungan dengan berbagai kelompok.

Dalam politik Indonesia, kemampuan semacam itu adalah aset besar.

Sebab politik bukan hanya tentang jabatan.

READ  YBTS Gelar Youth Graduation Batch 4 di Kampung Lamba, Cetak Petani Milenial Mandiri

Politik juga tentang jaringan yang dapat bekerja jauh melampaui batas-batas struktur formal.

10. Robert Joppy Kardinal

Menutup daftar ini adalah Robert Joppy Kardinal.

Namanya mungkin tidak selalu berada di halaman depan media nasional. Namun di dalam struktur politik Golkar dan DPR RI, ia merupakan salah satu politikus Kristen yang memiliki perjalanan panjang.

Kardinal memiliki pengalaman panjang sebagai anggota DPR RI dan dikenal sebagai salah satu figur penting Golkar dari kawasan Papua.

Kekuatan politiknya terutama berada pada basis politik Papua, jaringan Golkar dan pengalaman panjang di parlemen.

Kardinal adalah contoh bahwa pengaruh politik tidak selalu harus dibangun dari panggung nasional yang penuh riuh biduk,.

Ada pengaruh yang tumbuh dari daerah pemilihan, partai dan jaringan politik yang dirawat selama bertahun-tahun.

Mengapa Mereka Berada di Urutan Itu?

Urutan tersebut merupakan standar editorial detakpasifik, Bukan angka yang lahir dari kotak suara, pun bukan riuh puja yang sementara.

Detak Pasifik melihat pengaruh politik dengan ukuran yang lebih luas.

Pertama, jabatan. Seberapa besar kewenangan yang sedang dimiliki seorang tokoh.

Kedua, partai politik. Seberapa kuat posisi tokoh tersebut di dalam struktur partai dan seberapa besar pengaruhnya terhadap arah politik partai.

Ketiga, akses kekuasaan. Seberapa dekat seorang tokoh dengan pusat pengambilan keputusan nasional.

Keempat, rekam jejak. Pengalaman panjang di pemerintahan, parlemen dan politik menjadi modal penting dalam menentukan daya pengaruh.

Kelima, jaringan dan opini publik. Seberapa luas jejaring politik yang dimiliki dan sejauh mana seorang tokoh mampu memengaruhi percakapan publik.

Berbekal garis pandu yang ada, Luhut ditempatkan di posisi pertama karena memiliki kombinasi pengalaman, jaringan dan akses kekuasaan yang sangat panjang.

Ahok berada di posisi kedua karena memiliki brand politik dan pengaruh publik yang tetap kuat, bahkan ketika tidak sedang menduduki jabatan pemerintahan.

Sherly Tjoanda dan Melki Laka Lena menempati posisi tiga dan empat karena keduanya kini memegang kekuasaan eksekutif sebagai gubernur, dengan Melki sekaligus mempunyai modal politik melalui Partai Golkar.

Hingga Viktor Laiskodat pun ditempatkan dalam daftar ini karena pengalaman politiknya membentang dari Senayan, pimpinan fraksi, gubernur hingga kembali menjadi anggota DPR RI.

Pada akhirnya, daftar ini tidak dimaksudkan untuk mengatakan bahwa tokoh nomor satu pasti lebih hebat daripada tokoh nomor sepuluh.

Sebab, pengaruh politik bukan matematika.

Pengaruhnya bergerak melalui jabatan, jaringan, partai, pengalaman, momentum dan kemampuan membaca arah kekuasaan.

Dengan demikian, mari membaca barisan nama ini sebagai manifestasi dinamika politik terkini sebagaimana yang ditangkap lensa detakpasifik. Begitulah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *