Gara-gara Aman Labuan Bajo Tak Nyaman

Ada kabar dari Labuan Bajo pekan lalu. Enam turis Italia diduga “ditipu” telak oleh seorang yang, mengaku travel agent. Kristoforus Aman namanya.

Dr. Pius Rengka (dokpri)

Catatan Pius Rengka

Ada kabar dari Labuan Bajo pekan lalu. Enam turis Italia diduga “ditipu” telak oleh seorang yang, mengaku travel agent. Kristoforus Aman namanya.

Mahluk ini, oleh kalangan dekat disapa Ito. Menilik namanya, Kristoforus (Christoforus?), mungkin saja, dulu orangtuanya memberi dia nama begitu lantaran terinspirasi semangat hidup Sang Penebus Juru Selamat dunia Jesus Kristus. Jujur, benar, baik, adil, damai dan tegas.
Seluruh hidupNya didedikasikan kepada kaum lemah. Dia memberi teladan agar kaum farisi yang bergaya parlente yang mempertontonkan kekayaan, kemunafikan paling dekaden, segeralah bertobat.

Jesus Kristus berpihak kepada kaum tertindas. Kaum terlindas lemah dan terpinggirkan. Dia tidak netral. Dia tegas berani. Dia tidak hanya mengucapkan kebenaran tetapi Dia menunjukkan kebenaran kebaikan kapan dan di mana pun melalui ucapan dan tindakanNya. Dia mencintai manusia. Tetapi, Ito Aman tidak begitu. Ito Aman persis sebaliknya.

Ito Aman bikin gaduh Labuan Bajo. Daerah wisata super premium tidak nyaman lantaran ada manusia “penipu” yang menipu wisatawan Italia. Konon katanya, Ito Aman berulah begitu kali kedua. Kini dia buron.
Paradox lagi. Citra Labuan Bajo tidak meroket lantaran pesona pantai dan pulau-pulaunya. Kali ini citra Labuan Bajo buruk karena ulah Ito Aman yang bikin wisatawan tak aman. Muka manusia Manggarai dan Flores tercoreng sejadi-jadinya.

Labuan Bajo kesohor bukan lantaran objek wisata super premium atau ceritera tentang hampir semua pulau dikuasai para konglomerat Jakarta atau tentang nyaris semua tanah di pesisir dimiliki para pemilik modal kuat dan politisi Jakarta.

READ  Bank NTT Kembali Salurkan KUR, Pemerintah Dorong UMKM Naik Kelas di NTT

Ada ceritera begini. Politisi Jakarta memiliki banyak tanah di kawasan itu dan sekitarnya. Polanya jelas. Nama istri suami atau anaknya atau sejenis itu demi nama sendiri tidak mencolok. Ada penuding menyebutkan kalau pembelian tanah harga mahal di pesisir Labuan Bajo merupakan sejenis pola operasi pencucian uang.

Kabar Labuan Bajo, tidak hanya perihal pembangunan hotel berbintang di kawasan pantai yang menutup akses orang ramai, tetapi juga tentang serakan sampah di mana-mana. Apalagi akses dan kontrol aneka kelompok sosial kian kandas terbatas dan dibatasi. Ceritera senada berkelindan di kalangan para penjasa moda transportasi. Transportasi darat laut harga naik suka-suka. Standar harga tak ada.

Bahkan ceritera Labuan Bajo ajo, tidak lagi haya tentang bagaimana pembagian konkuren pendapatan Pulau Komodo antara pemerintah Jakarta, provinsi kabupaten. Ceritera Labuan Bajo terjebak ke lingkaran gelap ngarai penipuan yang dilakukan anak kandung Manggarai sendiri. Ito Aman, satu di antaranya. Cerita kelam serupa datang dari para petugas negara yang berurusan dengan status sah kepemilikan tanah.

Bukan kabar baru kalau urusan tanah di Labuan Bajo, amat sangat berbelit. Bukan hanya bertele-tele lama, tetapi juga seiring itu dibaui aroma busuk pungli berkelindan dengan persyaratan rumit atau sengaja dirumitkan, sejenis rent seeking.

READ  Kukuhkan Pengurus Baru, PERMMABAR Kupang Pertegas Peran Intelektual dan Advokasi

Sejauh itu, saya maklum. Rent seeker di negeri ini telah berlapis sejak Orde Baru. Saya maklum karena memang ada orang di negeri ini suka berkhayal.

Menghayal kaya mendadak, menjadi kaya secara malas, kerap menghinggapi ubun-ubun kepala banyak orang utamanya kalangan manusia miskin. Miskin harta, miskin nurani dan miskin moral. Korupsi bermula dari sini.

Tidak terkecuali para politisi. Kerja seadanya, hasil banyak. “Tipu-tipu” dijamakkan hasil pun berlimpah. Begitulah gosip orang melukiskan operasi lapangan para pecundang perusak relasi sosial di negeri ini. Begitu pun Labuan Bajo. Meniru. Mimesis atau mimicking. René Girard. (1923-2015) berargumen, manusia sering kali tidak menginginkan objek secara langsung. Tetapi, mereka belajar menginginkan sesuatu melalui orang lain yang menjadi model.

Maka ketika Ito Aman melakukan operasi telikung kebenaran, telikung enam turis Italia demi keuntungan pribadi, dia sesungguhnya tidak hanya sedang meniru ulah para elit yang dibacanya di banyak kabar media, tetapi dia menyaksikan langsung bagaimana para calo tanah di Labuan Bajo beroperasi dalam lingkungan busuk sejadi-jadinya. Seorang pejabat penting di Labuan Bajo kepada saya pernah berkata, urusan tanah di Labuan Bajo rumit justru dirumitkan oleh orang-orang berbaju dinas. Ada komplotan. Ada mafia. Kita menuding ini penyakit bangsa Indonesia. Tetapi, saya yakin sesungguhnya ini bangsa baik.

READ  Labuan Bajo : Kota Padat Modal, Nihil Nurani Humanisme

Saya percaya, tidak ada dosa bangsa. Suatu bangsa sebenarnya tidaklah jahat, hanya pribadi-pribadi, individu-individu lah yang jahat busuk bau dan bermoral rendah. Saya mengamini ucapan filsuf Inggris, Edmund Burke (1729-1797), ketika dia mengatakan: “Saya tidak bisa mengerti tuduhan atas suatu bangsa”. Tidak ada dosa kolektif, tidak ada dosa bersama.

Kitab Bibel menulis bagaimana Tuhan menghancurkan Sodom dan Gomorah karena kejahatan orang-orang yang hidup di situ, dengan istri-istri mereka, anak-anak mereka, tetapi ada di antaranya seorang berhati bersih, dan karena dia benar maka dia tidak dibinasakan. Karena itu, dosa bersifat individu seperti juga penyelematan bersifat individual. Kejahatan individu lah yang menjatuhkan Labuan Bajo. Karena itu saya boleh katakan, para penjahat itu adalah bukan manusia, tetapi watak binatang dalam tubuh manusia.

Maka menjadi jelas bagi saya kalau saya usul agar ulah Ito Aman haruslah segera diamankan oleh pihak keamanan, sembari berharap agar pihak keamanan tidak diamankan oleh si Aman. Hal itu diperlukan agar Labuan Bajo menjadi aman jauh dari ulah seperti ulah si Aman. Siapa pun itu, buatlah yang aman-aman saja dan nyaman bagi banyak orang dari ekses kelakuan si Aman. Begitulah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *