Meneropong Kupang sebagai “Kota Terbesar di Indonesia Selatan”: Membaca Posisi Geopolitik dan Geoekonomi NTT dalam Bingkai NKRI

Menimbang peran strategis Kupang di kawasan Pasifik, dari geopolitik dan geoekonomi hingga agenda pembangunan Nusa Tenggara Timur dalam kerangka NKRI.

Piet Djami Rebo

Oleh: Piet Djami Rebo

Ungkapan pemantik dari Dr. Pius Rengka melalui dinding Facebook beliau yang menyebut Kupang sebagai “Kota Terbesar di Indonesia Selatan” bukanlah sekadar retorika lokal atau romantisme kedaerahan. Bagi saya, ungkapan tersebut merupakan sebuah dekonsentrasi epistemologis—sebuah ajakan berani untuk membongkar cara pandang sentrisme Jawa/Jakarta (Java-centric) yang selama ini menempatkan Nusa Tenggara Timur (NTT) di pinggiran imajinasi pembangunan nasional.

Namun, bagaimana kita mengartikulasikan klaim geopolitik tersebut di tengah realitas objektif NTT saat ini? Bagaimana kita mempertemukan “ambisi geostrategis” Kupang dengan berbagai indikator pembangunan yang masih berjuang di papan bawah?

Tulisan ini mencoba memberikan sumbangsih pemikiran bagi para pemangku kepentingan (stakeholders) dengan membaca gagasan Dr. Pius Rengka melalui lima pijakan strategis.

1. Reorientasi Geopolitik: “Teras Depan” Indonesia ke Pasifik

Selama ini, NTT dan Kupang sering dipandang sebagai halaman belakang yang terisolasi. Padahal, dalam lanskap geopolitik kawasan, Kupang adalah benteng depan Indonesia di Pasifik Selatan dan Australasia.

Etnisitas, akar sejarah, dan kedekatan kultural mayoritas masyarakat NTT yang bercorak Melanesia, serta dominasi Kristiani, memberikan modal diplomasi lunak (soft-power diplomacy) yang sangat kuat. Kupang memiliki kedekatan budaya (cultural proximity) yang alami dengan negara-negara Kepulauan Pasifik, seperti Fiji, Vanuatu, dan Kepulauan Solomon, serta Timor Leste. Dalam konteks persaingan pengaruh kekuatan global di Pasifik, Kupang adalah simpul kebudayaan dan keamanan nasional yang sangat menentukan.

READ  Di Meja Dapur Caca, Kami Mengingat Marga

2. PKSN dan Kodam NTT: Menegaskan Sabuk Kedaulatan dan Ekonomi

Penetapan Kupang sebagai Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) dalam RTRWN serta rencana pembentukan Kodam tersendiri untuk NTT di Kupang harus dibaca sebagai kesatuan strategi geopolitik dan geoekonomi.

Secara Pertahanan: Berada di garis batas langsung dengan Timor Leste dan berdekatan dengan Australia Utara (Darwin), keberadaan Kodam memagari kedaulatan NKRI sekaligus menciptakan rasa aman.

Secara Geoekonomi: Status PKSN dan hadirnya institusi pertahanan harus membawa efek berganda (multiplier effect). Kupang tidak boleh berhenti sebagai kota administratif, melainkan bertransformasi menjadi hub perdagangan subregional (Kupang–Dili–Darwin) yang memasok kebutuhan pangan, jasa, dan konstruksi di kawasan perbatasan.

READ  Tiga Tekanan terhadap Kepemimpinan Melki Laka Lena

3. UNDANA: Menjadi “Pusat Riset dan Vokasi Pasifik”

Sebagai perguruan tinggi negeri terbesar di NTT, Universitas Nusa Cendana (UNDANA) tidak boleh hanya mencetak lulusan untuk birokrasi lokal. UNDANA harus diposisikan sebagai Center of Excellence (Pusat Keunggulan) untuk riset lahan kering (semi-arid agriculture), energi terbarukan (surya dan angin), serta studi perbatasan. UNDANA berpeluang menjadi magnet pendidikan internasional bagi mahasiswa dari Timor Leste hingga Pasifik Selatan.

4. Wacana Pemekaran dan Tantangan Tata Ruang Kota

Dinamika wacana pemekaran provinsi di NTT, baik Flores, Sumba, maupun Timor Barat, tidak akan menggeser posisi Kupang. Justru, Kupang akan makin mengukuhkan perannya sebagai metropolitan hub—seperti halnya Makassar bagi Sulawesi.

Namun, ambisi geopolitik ini akan runtuh jika masalah internal dasar Kota Kupang diabaikan. Krisis air bersih, sanitasi, permukiman kumuh pesisir, dan tata ruang yang belum teratur adalah pekerjaan rumah yang mendesak. Kita tidak bisa berbangga menjadi “Kota Terbesar di Indonesia Selatan” jika pelayanan dasar warganya masih tersendat. Kupang membutuhkan pendekatan penataan Smart & Green City berbasis daya dukung lingkungan lahan kering.

READ  Pemuda Katolik NTT Dorong Generasi Muda Kuasai AI dan Bioteknologi

Catatan Dr. Pius Rengka harus kita jadikan batu pijakan untuk mentransformasikan narasi ketimpangan menjadi agenda pembangunan strategis:

Meminta Asymmetric Fiscal Policy (Fiskal Khusus): Pemerintah pusat harus mengalokasikan anggaran infrastruktur skala besar bagi Kupang sebagai PKSN terdepan.

Diplomasi Harmoni: Memposisikan toleransi dan kerukunan umat beragama di NTT sebagai etalase diplomasi Indonesia di Pasifik.

Konektivitas Laut dan Udara: Modernisasi Pelabuhan Tenau dan Bandara El Tari agar Kupang benar-benar siap menjadi pintu gerbang logistik internasional.

Memahami Kupang sebagai Kota Terbesar di Indonesia Selatan adalah wujud nasionalisme yang visioner. Ini menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya memandang ke arah Barat atau Utara, tetapi berdiri tegak, berdaya saing, dan berpengaruh di belahan Bumi Selatan—semuanya demi membawa NTT melompat lebih cepat, bertumbuh lebih kuat, tetap dalam bingkai kokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *