Berita  

Ratusan Rumah Rusak, Pemdes Belang Turi Bergerak Cari Bantuan untuk Warga

Sebanyak 222 rumah warga mengalami kerusakan akibat gempa, sementara Pemdes Belang Turi aktif menjalin komunikasi dengan LSM dan pihak swasta untuk memastikan bantuan menjangkau warga terdampak.

Pemdes Belang Turi saat menerima bantuan dari Yayasan Bambu Lingkungan Lestari

Ruteng, detakpasifik.com- Pemerintah Desa Belang Turi, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), memilih bergerak aktif mendata kerusakan rumah sekaligus mencari dukungan bantuan bagi warga setelah gempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang wilayah Flores.

Hingga kini, gempa susulan masih dirasakan warga. Kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat terganggu dan sebagian warga masih diliputi kecemasan, terutama mereka yang rumahnya mengalami kerusakan.

Data Pemerintah Desa Belang Turi mencatat, terdapat 284 kepala keluarga (KK) atau 946 jiwa yang terdampak. Dari jumlah tersebut, 43 rumah mengalami rusak berat, 140 rumah rusak sedang, dan 39 rumah rusak ringan.

Sekretaris Desa Belang Turi, Fransiskus Beni, mengatakan pemerintah desa terus memperbarui data kerusakan sebagai bagian dari respons terhadap kondisi warga pascagempa.

“Kami terus melayani masyarakat, salah satu yang terus kami laksanakan yakni meng-update data dampak musibah ini, lebih khusus pada kerusakan rumah,” kata Fransiskus.

READ  Bantuan Gempa Belum Merata, Bonifasius Temukan 25 Rumah Rubuh Luput dari Distribusi

Menurutnya, pemerintah desa tidak hanya menunggu bantuan datang, tetapi berupaya mendatangi berbagai pihak yang dinilai dapat membantu warga terdampak.

Langkah tersebut dilakukan dengan menjalin komunikasi dengan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan pihak swasta untuk memenuhi kebutuhan mendesak warga.

“Selama ini kami sudah berupaya ‘menjemput bola’ mendatangi banyak pihak, lebih khusus dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk membantu warga terdampak,” ujarnya.

Sejumlah bantuan kemudian mulai masuk ke Desa Belang Turi. Yayasan Bambu Lestari, misalnya, menyalurkan obat-obatan serta susu untuk bayi, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Bantuan sembako juga datang dari Amati Jakarta, Ayo Indonesia, dan Flamingo Hotel. Sementara PT Pupuk Indonesia mendistribusikan beras 10 kilogram, gula 2 kilogram, minyak goreng 2 liter, serta dua selimut untuk 131 KK.

Bantuan sembako lainnya datang dari PT Gag Nikel Jayapura yang menyasar 14 KK di wilayah Maras.

READ  Integritas (Purn.) Oegroseno: Tolak Perintah Kapolri Tembak Mati Fabianus Tibo cs

Fransiskus menegaskan, pemerintah desa berkomitmen agar bantuan dapat menjangkau seluruh warga yang terdampak.

“Kita semua menjadi korban dari dampak musibah ini. Kami berkomitmen semua warga di desa ini agar tersalur bantuan. Kami sudah dan terus mencari cara yang terbaik,” tuturnya.

Ia menjelaskan, dalam proses penyaluran bantuan dari lembaga-lembaga tersebut, pemerintah desa tidak menentukan secara langsung penerima bantuan.

Menurut Fransiskus, masing-masing lembaga datang dan melakukan penyaluran berdasarkan hasil pendataan serta dokumentasi kondisi rumah warga.

“Untuk proses penyaluran selama ini semua pihak LSM hadir sendiri, tidak ada istilah titipan ke Pemdes. Untuk menentukan siapa yang berhak menerima itu ditentukan oleh mereka berdasarkan hasil bukti foto serta kategori kerusakan. Pemdes hanya sebagai jembatan penyaluran,” jelasnya.

Bantuan Pemerintah Belum Tersalur

Di tengah bantuan dari sejumlah LSM dan pihak swasta, Fransiskus menyebut bantuan resmi dari pemerintah hingga kini belum tersalurkan kepada warga Desa Belang Turi.

READ  Bank NTT Siapkan Kuota KUR Rp350 Miliar pada 2026, Fokus Dorong UMKM dan Pekerja Migran

Ia mengatakan pemerintah desa telah melakukan koordinasi dengan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD). Namun, distribusi bantuan masih terkendala keterbatasan logistik di tingkat Kabupaten Manggarai.

“Untuk sementara bantuan resmi dari pemerintah belum tersalur. Memang kami sudah melakukan koordinasi di beberapa OPD terkait, kendalanya ada kekosongan logistik di Kabupaten,” ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat pemerintah desa terus mengandalkan berbagai jalur bantuan untuk memenuhi kebutuhan warga sambil menunggu dukungan logistik pemerintah.

Salah seorang warga, Stefanus Mandut, yang rumahnya mengalami kerusakan parah, mengakui manfaat bantuan yang diberikan sejumlah LSM.

“Kehadiran LSM menjadi bentuk kepedulian kepada kami. Kontribusi mereka sudah luar biasa, patut kami ucap terima kasih,” kata Stefanus.

Namun, di tengah bantuan yang mulai berdatangan, Stefanus berharap pemerintah dapat hadir secara langsung untuk memastikan kebutuhan warga terdampak terpenuhi.

“Saya sangat berharap kehadiran pemerintah,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *