oleh Marselus Natar (rohaniawan Katolik pada Kongregasi Frater-Frater Bunda Hati Kudus, penulis buku kumpulan cerpen dengan judul Usaha Membunuh Tuhan).
Siang itu hujan turun cukup deras. Kebun di belakang biara kelihatan lebih hijau dari biasanya. Tanah sudah becek. Jalan setapak berubah menjadi lumpur. Daun-daun mentimun yang semula tegak mulai rebah karena menahan air. Frater Mandus berdiri di teras sambil memandangi kebun. Ia sebenarnya tidak sedang memikirkan apa-apa. Hanya menikmati hujan dan bau tanah yang sejak tadi masuk sampai ke hidung.
Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu dibalik kabut dan rinai hujan. Ada orang berdiri di tengah kebun. Seorang lelaki tua. Ia memakai baju yang sudah lusuh dan celana yang entah berapa kali dicuci. Di sampingnya ada karung. Isinya sudah hampir penuh. Frater Mandus memperhatikan beberapa saat. Lelaki itu sedang memetik mentimun. Bukan hanya satu atau dua. Banyak. “Wah,” gumam Mandus. Ia turun dari teras dan berjalan cepat ke kebun tanpa alas kaki. “Bapak!” Lelaki tua itu terkejut. Tangannya masih memegang satu mentimun. Ia menoleh. “Oh, Frater.” “Bapak sedang apa?” Lelaki itu melihat mentimun di tangannya. “Memetik mentimun.” Mandus menahan napas. “Seizin siapa?” Lelaki itu tidak langsung menjawab. Ia melihat ke arah kebun, kemudian ke langit yang masih menurunkan hujan. “Begini, Frater,” katanya akhirnya. “Kalau dibiarkan, nanti mentimun ini busuk.” Mandus mengerutkan kening.
Banyak hal terlintas di kepalanya. Termasuk kambing jantan kesayangannya yang dicuri orang dari kandangnya beberapa bulan lalu. “Terus?” “Ya, saya petik.” “Karena takut busuk?” “Iya.” Mandus menunjuk karung. “Semua ini Bapak petik supaya tidak busuk?” Lelaki itu mengangguk. “Daripada busuk, lebih baik saya ambil.” “Bapak tahu ini kebun siapa?” “Tahu. Kebun biara.” “Dan Bapak tahu mengambil barang orang tanpa izin itu namanya apa?” Lelaki tua itu tersenyum kecil. “Mencuri.” Mandus agak terkejut mendengar jawabannya yang begitu terus terang. “Jadi Bapak sadar?” “Sadar.” “Lalu kenapa tetap dilakukan?” Lelaki itu mengangkat bahu. “Mentimunnya tidak berguna lagi jika membusuk.” Mandus terdiam. Ia menatap lelaki itu. Lelaki itu menatap balik. Hujan turun masih deras saja. Entah mengapa Mandus merasa percakapan itu sudah tidak ada gunanya diteruskan. “Begini saja,” katanya. “Bapak sudah terlanjur memetik semuanya. Bawa ke dapur biara.” Lelaki tua itu tampak kaget. “Ke dapur?” “Iya.”. “Untuk apa?” “Supaya tidak sia-sia.” Lelaki itu tersenyum. “Frater juga bisa mencuri, ternyata.” Mandus hampir tertawa. “Hanya kali ini.” Lelaki tua itu mengangkat karung ke pundaknya. Berat. Ia berjalan tertatih-tatih menuju dapur. Mandus mengikutinya dari belakang. Ia tidak tahu mengapa, tetapi saat melihat lelaki tua itu membawa karung mentimun, ada perasaan aneh dalam dirinya. Seperti baru saja melakukan sesuatu yang benar. Padahal ia tahu, semuanya bermula dari pencurian.
Frater Benno, kepala biara, terkejut melihat isi karung itu. “Dari mana semua ini?” Mandus diam sebentar. “Dari kebun.” “Siapa yang petik?” “Ya… saya.” Frater Benno melihat wajah Mandus. “Sebanyak ini?” Mandus mengangguk. “Rencananya mau diapakan?” “Dijual.” Frater Benno tertawa. “Mentimun sebanyak ini?” “Kalau tidak laku, kita makan.” “Kalau tidak habis?” “Bikin acar.” “Kalau masih tidak habis?”. Mandus mengangkat bahu. “Bikin apa saja yang bisa dibuat dari mentimun.” Frater Benno mengangguk. Mereka tidak membicarakannya lagi.
Malam itu, setelah ibadat dan makan malam, Mandus mengajak seorang Frater muda membawa mentimun-mentimun itu ke kota. Mereka membuka lapak kecil di dekat alun-alun. Orang-orang lewat. Ada yang berhenti lalu sepintas melihat. Ada yang bertanya harga. Ada yang mengambil satu, melihat-lihat, lalu meletakkannya kembali. Tidak satu pun yang membeli. Sampai hampir tengah malam, mentimun masih menumpuk. Frater muda menguap. “Frater, mungkin orang kota tidak suka mentimun.” Mandus melihat ke arah tumpukan sayur. “Mungkin.” “Besok kita coba di gereja.” “Kenapa?” “Orang gereja lebih murah hati.” Mandus tertawa. “Jangan menghina umat.” “Saya tidak menghina. Saya sedang berharap.” Akhirnya mereka pulang. Mentimun dibawa kembali ke biara.
Hari Minggu, setelah misa, mereka mencoba lagi. Kali ini lapaknya diletakkan dekat pintu keluar gereja. “Mentimun segar!” teriak Frater muda. “Mentimun kebun biara!” Aneh juga. Orang-orang mulai datang. Mungkin karena baru selesai misa. Mungkin karena mentimunnya memang bagus. Atau mungkin karena melihat dua Frater berjualan sayur adalah pemandangan yang jarang terjadi. Tidak lama kemudian orang-orang mulai berkerumun. Ada yang membeli satu kilo. Ada yang dua kilo. Ada yang membawa pulang satu kantong penuh. Menjelang siang, tinggal delapan buah. Saat itu datang Dokter Marko bersama Pak Hermanus. Keduanya sudah cukup dikenal oleh umat. Dokter Marko terkenal suka membantu orang. Pak Hermanus juga sering membantu pembangunan gereja. “Masih ada?” tanya Dokter Marko. “Delapan buah, Dok.” Pak Hermanus melihat ember. “Kalau begitu, kita bagi dua saja.” “Boleh,” kata Dokter Marko. Mereka mengambil masing-masing empat buah. Kemudian membayar.
Mandus tidak terlalu memperhatikan jumlah uang yang mereka masukkan ke dalam kantong plastik biru. Setelah keduanya pergi, ia baru membuka kantong itu. Ia langsung diam. “Frater?” Frater muda mendekat. Mandus mengeluarkan uang satu per satu. “Ini berapa?” “Banyak.” “Hitung.” Mereka menghitung. Dua juta dari Dokter Marko. Dua juta dari Pak Hermanus. Empat juta. Mandus meliirik ember bak yang sudah kosong. Kemudian melihat uang. “Empat juta?” Frater muda mengangguk. “Untuk delapan mentimun?” “Iya.” Mereka diam, penuh kebingungan. “Jadi satu mentimun…” “Jangan dihitung,” potong Mandus. “Kenapa?” “Saya takut setelah dihitung, mentimunnya berubah jadi emas.” Frater muda tertawa. Sementara Mandus masih memandangi uang itu. Entah mengapa, yang muncul di kepalanya justru wajah lelaki tua yang ditemuinya kemarin. Baju lusuh. Kaki berlumpur. Karung di pundak. Dan kalimatnya yang sederhana: “Daripada busuk, lebih baik saya ambil.”
Malamnya Mandus kembali ke kebun. Ia berdiri di tempat lelaki tua itu pertama kali dilihatnya. Tidak ada siapa-siapa. Ia berjalan pelan di antara tanaman. Satu per satu dilihatnya. Tidak ada yang aneh. Hanya dedaunan yang tampak segar. Tanah yang masih basah dan berlumpur. Genangan air hujan. Sampai akhirnya ia menemukan beberapa buah mentimun yang tertinggal di tanah. Mandus memungutnya. Ia tersenyum sendiri. “Bapak belum selesai rupanya.” Gumamnya. Ia membawa mentimun itu ke dapur.
Besok paginya, Frater Benno menemukan mentimun itu di atas meja. “Siapa yang bawa?” Mandus yang sedang minum kopi menjawab, “Tidak tahu.” Frater Benno memandangnya. “Mentimun bisa berjalan sendiri?” Mandus mengangkat bahu. “Barangkali.” Frater Benno menggeleng. “Sejak kapan mentimun bisa berjalan?” Mandus menyeruput kopinya. “Sejak kita terlalu banyak bertanya.” Frater Benno pergi sambil menggerutu. Mandus tersenyum. Sejak hari itu, setiap kali hujan turun, ia selalu memeriksa kebun. Bukan karena takut ada pencuri. Justru karena diam-diam ia berharap lelaki tua itu datang lagi. Tetapi lelaki itu tidak pernah muncul. Yang muncul hanya satu dua mentimun yang tiba-tiba sudah berada di dapur. Tidak ada yang tahu siapa yang memetik. Tidak ada yang melihat. Tidak ada jejak kaki. Suatu pagi, Mandus bertanya kepada Frater Benno, “Frater, kalau mentimun di kebun hilang sendiri, itu mencuri atau mukjizat?” Benno menjawab tanpa menoleh, “Kalau hilangnya sedikit, mencuri. Kalau banyak, mukjizat.” Mandus tertawa. “Kalau begitu, empat juta kemarin apa?” Benno berhenti bekerja. Ia berpikir sebentar. “Jangan-jangan itu bukan harga mentimun.” “Lalu?” Benno menatapnya. “Mungkin harga kebodohan kita.” Mandus terdiam.
Mereka tidak pernah membicarakan soal itu lagi. Tetapi sejak saat itu, setiap kali ada orang meminta sayur dari kebun biara, Mandus tidak pernah langsung bertanya, “Seizin siapa?” Ia hanya bertanya, “Bisa habis dimakan?” Kalau jawabannya iya, ia akan memberikannya. Sebab ia sudah belajar satu hal yang agak aneh: Kadang-kadang yang kita kira pencurian hanyalah cara Tuhan memindahkan sesuatu dari satu tangan ke tangan yang lain. Dan kadang-kadang pula, manusia terlalu sibuk menghitung harga sebuah mentimun sampai lupa bahwa Tuhan mungkin sedang menghitung sesuatu yang lain. Apa? Mandus sendiri tidak tahu. Dan mungkin memang tidak perlu tahu. Sebab kalau semua hal di dunia ini bisa dijelaskan, barangkali Tuhan pun tidak diperlukan lagi.











