Catatan Pius Rengka
Mereka yang memandang sepak bola hanya sebagai olahraga, mungkin bertanya, mengapa pemerintah harus mengalokasikan perhatian dan sumber daya untuk sebuah permainan yang berlangsung sembilan puluh menit?
Pertanyaan itu tampak sederhana. Tetapi, jawabannya sesungguhnya menyentuh salah satu jika bukan satu-satunya, inti dari politik pembangunan.
Politik, dalam makna yang paling luhur, bukanlah sekadar perebutan kekuasaan. Politik adalah seni mengelola dambaan dan harapan masyarakat melalui kebijakan yang berpihak pada masa depan. Karena itu, setiap pemimpin pada akhirnya akan dikenang bukan karena banyaknya pidato yang diucapkan, banyaknya pertemuan dengan aneka ragam warga masyarakat, melainkan karena pilihan-pilihan strategis yang diambilnya. Pilihan itulah yang membedakan seorang administrator dengan seorang negarawan. Pilihan itu pulalah yang memantulkan siapa pemimpin sejati dan siapa yang hanya hasil dari sebuah ritus yang, mungkin banyak sandiwara.
Di Kabupaten Malaka, sebuah kabupaten di tepi selatan daya pulau Timor, keberpihakan terhadap pembinaan sepak bola usia dini dapat dibaca sebagai salah satu pilihan politik pembangunan. Pilihan tersebut, mungkin tidak selalu populer, bahkan dapat diperdebatkan. Bergantung lensa mana yang hendak dipakai. Namun, pembangunan memang sering kali menuntut keberanian untuk keluar dari cara berpikir yang konvensional. Mengingat itu, kita mengenang Thomas Carlyle. Kata dia, lebih baik hidup secara jantan daripada mati secara terhormat. Kalimat itu pulalah kerap dikutip mendiang John F. Kennedy, presiden Amerika Serikat itu (vide: Profiles in Courage, 1961).
Selama bertahun-tahun, ukuran keberhasilan pembangunan daerah hampir selalu diidentikkan dengan gedung pemerintahan yang megah, jalan yang mulus, atau tingginya realisasi anggaran. Semua itu memang penting dan perlu. Akan tetapi, pembangunan yang hanya berorientasi pada infrastruktur fisik akan kehilangan jiwanya apabila manusia sebagai subjek pembangunan diabaikan.

Di sinilah olahraga memperoleh makna strategis. Sepak bola bukan sekadar aktivitas rekreasi. Sepak bola merupakan ruang pendidikan karakter. Arena mengukur pesona jiwa dan bahkan menengok jendela sukma.
Di dalamnya anak-anak belajar disiplin, kerja sama, sportivitas, kepemimpinan, kemampuan mengambil keputusan, menghargai kemenangan tanpa menjadi angkuh pongah nan congkak, dan menerima kekalahan tanpa kehilangan martabat dan harga diri. Nilai-nilai seperti inilah yang sesungguhnya menjadi fondasi masyarakat yang maju. Kita ingat kata-kata penyair Libanon, Kahlil Gibran. Anak-anak bukan milikmu, anak-anak datang melalui engkau dia putra-putri kehidupan yang melesat ke ruang bebas bagai anak panas lepas dari busurnya.
Dalam dokumen pembangunan Kabupaten Malaka, olahraga bahkan ditempatkan sebagai bagian dari misi pembangunan bersama penguatan adat istiadat, seni budaya, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Penempatan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan manusia dipandang sebagai satu kesatuan dengan pembangunan sosial dan budaya, bukan sekadar pelengkap pembangunan ekonomi.
Karena itu, ketika Pemerintah Kabupaten Malaka mengirim anak-anak bertanding ke tingkat nasional, sesungguhnya pemerintah sedang mengirimkan pesan yang lebih besar. Bahwa anak-anak dari daerah perbatasan memiliki hak yang sama untuk bermimpi, bersaing, dan menang.
Memilih Jalan Berbeda Dari Lapangan Hijau Menuju Peradaban
Setiap daerah memiliki sumber daya yang berbeda. Ada daerah kaya ikan, ada yang memiliki pesisir pantai nana indah, tetapi ada pula yang dianugerahi sektor pariwisata yang kuat, seperti Labunabajo. Kabupaten Malaka, tidak memiliki semua kemewahan itu. Yang dimilikinya adalah manusia dan lingkungan pertanian nan subur ternak yang banyak.
Kesadaran inilah yang menjadi titik tolak penting dalam membaca arah pembangunan Malaka. Ketika sumber daya alam memiliki keterbatasan, maka investasi terbaik adalah investasi pada sumber daya manusia. Kita pun mencatat, Malaka sajalah satu-satunya kabupaten yang berani membayar para dokter spesialis dengan gaji tertinggi di NTT. Mereka dilengkapi kenyamanan tempat tinggal dan moda transportasi kelas menengah atas.
Keberanian memilih olahraga sebagai salah satu instrumen pembangunan bukan berarti mengabaikan sektor-sektor lain. Sebaliknya, olahraga menjadi bagian dari strategi pembangunan yang lebih luas. Bukan sekadar raga yang diolah, melainkan diolah manusia dengan karakter yang tangguh.
Visi pembangunan Kabupaten Malaka menempatkan swasembada pangan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, tata kelola pemerintahan yang baik, pembangunan infrastruktur, serta penguatan adat, seni budaya, olahraga, dan kerukunan sebagai satu kesatuan agenda pembangunan daerah. Kerja sama dengan kejaksaan membuktikan transparansi, niat besar good governance dan good government.
Pilihan seperti ini mencerminkan pemahaman bahwa pembangunan tidak cukup hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga membangun kualitas hidup mereka. Pendapatan naik, kualitas manusia turut mendongkrak.
Dalam perspektif ilmu kepemimpinan, seorang pemimpin tidak hanya dituntut mampu menyelesaikan persoalan hari ini (problem solver). Ia juga harus sanggup mempersiapkan generasi yang akan memimpin daerahnya dua puluh atau tiga puluh tahun mendatang.
Anak-anak yang hari ini berlari mengejar bola mungkin kelak menjadi guru, dokter, pengusaha, anggota TNI dan Polri, birokrat, atau bahkan pemimpin Kabupaten Malaka. Apa yang mereka pelajari di lapangan hijau akan ikut membentuk karakter ketika mereka kelak mengambil keputusan-keputusan penting dalam kehidupan.
Ada satu hal yang sering luput dari perhatian orang ramai. Sepak bola sesungguhnya menghapus sekat-sekat sosial. Di lapangan tidak ada anak pejabat atau anak petani. Tidak ada anak guru ataupun anak buruh. Yang ada hanyalah sebelas pemain yang mengenakan seragam yang sama dan mengejar tujuan yang sama. Karena itu, sepak bola merupakan ruang demokrasi yang paling jujur. Kita boleh mengutip kisah bagaimana Ronaldinho lahir dari lingkungan kumuh di Brazil. Anak miskin yang hanya bermodalkan skill sepakbola, lalu menasional, kemudian mendunia dan kini legenda.
Di sana seseorang dihargai bukan karena latar belakang keluarganya, melainkan karena kerja keras, kemampuan, disiplin, dan dedikasinya. Nilai-nilai itulah yang dibutuhkan dalam pembangunan daerah.
Kabupaten Malaka yang berada di wilayah perbatasan Indonesia Timor Leste membutuhkan generasi yang percaya diri menghadapi perubahan zaman. Dunia terus berubah. Kompetisi semakin ketat. Daerah-daerah tidak lagi hanya bersaing dalam menghasilkan komoditas pertanian, tetapi juga bersaing menghasilkan manusia-manusia unggul. Dalam perspektif Samuel Hutington, dunia cibernetik tiak lagi mengenal pusat. Semua mengalir ke akar-akar di kampung. Going to the roots.
Jika Malaka ingin berdiri sejajar dengan daerah lain di Indonesia, maka investasi terhadap manusia tidak boleh berhenti. Sekolah harus semakin baik. Pelayanan kesehatan harus semakin berkualitas.
Pertanian harus semakin produktif. Infrastruktur harus terus dibangun. Birokrasi harus semakin profesional.
Namun, pada saat yang sama, ruang-ruang pembinaan karakter seperti olahraga, seni, dan kebudayaan tidak boleh kehilangan perhatian. Sebab, pembangunan tanpa karakter hanya akan melahirkan kemajuan yang rapuh.
Belajar dari Kekalahan
Kekalahan PS Malaka U-12 dari Jawa Timur tidak perlu disesali. Justru di sanalah pendidikan itu sedang berlangsung. Mereka menyaksikan bagaimana lawan bermain dengan tempo tinggi. Mereka belajar bahwa pengalaman internasional memberikan pengaruh terhadap kualitas permainan. Mereka menyadari bahwa menjadi juara NTT bukanlah akhir perjalanan. Masih ada Indonesia. Masih ada Asia. Masih ada dunia. Asal kita tidak perlu menolak bermain dengan Israel.
Kesadaran seperti itu jauh lebih berharga daripada sekadar membawa pulang piala. Karena sesungguhnya pembangunan bukanlah perjalanan menuju kemenangan yang instan. Pembangunan adalah proses panjang memperbaiki kualitas dari hari ke hari. Pembangunan adalah perbuatan sadar diri dan sadar cakrawala. Di baliknya selalu ada perubahan.
Sebagaimana sebuah tim yang hebat dibangun melalui latihan bertahun-tahun, demikian pula sebuah kabupaten dibangun melalui kebijakan yang konsisten, kepemimpinan yang visioner, birokrasi yang bekerja, dan masyarakat yang percaya pada masa depannya. Pemimpin pembawa suluh di lorong gelap, tetapi melihat seberkas cahaya di ujung sana.
Pada akhirnya, saya memahami bahwa perjalanan ke Yogyakarta bulan silam, bukan semata-mata tentang pertandingan sepak bola. Perjalanan itu adalah metafora tentang sebuah daerah yang sedang berusaha keluar dari batas-batas geografis dan psikologisnya.
Malaka sedang belajar berdiri sejajar dengan daerah lain. Anak-anak yang mengenakan kostum kuning itu sesungguhnya sedang membawa lebih dari sekadar nama sebuah tim. Mereka membawa harga diri sebuah daerah, harapan para orang tua, doa para guru, dan cita-cita masyarakat yang menginginkan masa depan yang lebih baik.
Sepak bola akhirnya menjadi bahasa pembangunan yang mudah dipahami semua orang. Sepakbola bukan sekadar bola ditendang-tendang, atau menyepak betis lawan dengan perasaan puas, melainkan mengajarkan bahwa kemenangan tidak lahir dari bakat semata, tetapi dari latihan yang konsisten. Sepakbola mengajarkan bahwa pemimpin bukanlah orang yang berlari paling cepat, melainkan orang yang mampu membawa seluruh tim mencapai garis akhir bersama-sama. Kita tidak selalu ada di batas, tetapi pemimpin selalu berlari melampaui batas demi mengatasi keterbatasan rakyatnya.
Dan, sepakbola mengingatkan bahwa daerah yang besar bukanlah daerah yang tidak pernah kalah, melainkan daerah yang selalu belajar dari setiap kekalahan. Dari tribun kecil (mini soccer) di Yogyakarta itu, saya tidak hanya menyaksikan pertandingan sepak bola. Saya melihat sebuah narasi besar tentang Kabupaten Malaka tentang keberanian memilih jalan yang mungkin tidak lazim, tentang keyakinan bahwa manusia adalah investasi paling berharga, dan tentang tekad membangun dari pinggiran melalui generasi muda. Mungkin beberapa tahun lagi, kita tidak lagi mengingat skor 0–1 melawan Jawa Timur. Dr. Johny Lumba pelatih, mentor dan pengamat sepakbola yang handal selalu riang meletupkan semangat anak-anak dari tepi lapangan. Dia tidak hanya berteriak instruksi, tetapi dia juga awas pada keterbatasan untuk menjaga gawang yang kian sempit. Dr. Johny Lumba, putra kelahiran Alor, dosen Universitas Kristen, tetapi ketua pelatih untuk semua jenis sepak bola di PS Malaka. Kepada saya Doktor Johny berbisik, kita perlu punya mini soccer di Malaka. “Kaka ikut provokasi Bupati,” ujarnya sambil senyum di kulum tanda optimis yang kian mekar.
Namun, kita akan mengingat bahwa pada suatu pagi, anak-anak dari Rai Malaka telah mengajarkan kepada kita satu pelajaran penting. Bahwa mimpi sebuah daerah selalu dimulai dari keberanian untuk melangkah, meskipun langkah pertama itu tampak kecil. Sebab, setiap perjalanan besar selalu diawali oleh satu tendangan pertama.
Itu hari masih pagi. Kesebelasan U12, juara NTT di kelasnya, kalah 1-0 dari Jawa Timur. Kalah tipis. Tetapi, nun jauh di relung hati yang paling sunyi, di arena mini soccer Jogyakarta, Kepala Sekolah SDN Webalu, Kecamatan Wewiku, Jakobus Seran Dinik (60 th) gembira bukan main.
Dari sekolahnyalah 14 anak masuk squad U12. Ia berbangga. Ia pantas bangga bukan hanya lantaran sekolahnya disebut-sebut dalam serial rekruitmen para pemain bola sepak, tetapi karena dia boleh menyaksikan pertandingan itu langsung di arena berkelas persis di urat nadi sejarah hidupnya. Ia asing di tanah Raja Jawa.
Jakobus Seran tidak sendirian. Dia bersama para pendamping lain. Kepala Sekolah dari mana pemain U12 itu berasal, guru olahraga, official pelatih dan para orang tua murid.
Bagi Jakobus di usianya yang kian senja itu tidak akan pernah mungkin diperoleh pengalaman begitu andaikan bukan dr. Stef Bria Seran, Bupati Malaka. “Bupati Stef Bria Seran sangat baik. Olahraga menjadi program prioritas di kabupaten kami, utamanya sepakbola,” ujar Jakobus Seran Dinik sambil air mata bening menetes pelan-pelan.
Kata Jakobus Seran Dinik, seluruh biaya perjalanan Betun-Surabaya-Jogya pergi pulang diurus pemerintah. Juga penginapan selama lima hari. “Anak-anak dilatih nonstop,” kata Manuel Makaraek, satu dari staf pendamping pembangunan Malaka.
Ucapan serupa diungkapkan Felix Seran (53 th). Felix Seran, pelatih U12. Ia guru biologi lingkungan. Ia mantan pesepakbola Malaka. Kata dia, di masa kepemimpinan Bupati dr. Stef Bria Seran, dirinya boleh melihat banyak daerah di NTT dan Indonesia.
Berbeda dengan Felix, petani sawah setengah hekatar, Dominuks Luan (40 th) mengaku baru pertama kali sepanjang sejarah hidupnya datang ke Pulau Jawa. Domikus Luan hadir lantaran anaknya Gabriel Luan (12 th) bernomor punggung 8 itu adalah satu kekuatan inti pemain sayap PS Malaka U12. Dia tidak hanya tercengang menyaksikan perbedaan pembangunan di Pulau Jawa dengan apa yang dilihatnya di NTT. Tetapi, dia mengakui kelebihan lawan tanding anaknya.
Mereka kuat. Mereka punya pengalaman luas. Kabarnya lawan tanding U12 Jawa Timur pernah bertanding dengan Thailand dan Jepang bahkan menaklukan pemain di dua negara itu. “Mereka tidak hanya berpengalaman tanding di tingkat nasional, tetapi juga main di level internasional,” ujar ayah sederhana ini sambil memeluk anaknya. Berterimakasih.
Johanes Alberto Klau (12 th) mengenakan kostum nomor punggung 7. Dia striker handal dari Malaka. Kini dia SMP kelas satu. Dia anak Kepala Sekolah yang gemar melihat Messi mengocek bola. Ia pun suka cara Neymar mengakali si kulit bundar dan terpesona menyaksikan Vincius Junior berkelit di tengah kepungan lawan. Viva Sepakbola. Viva Malaka.











