Catatan Valensius Ngardi
( Pengunjung Lokal Perdana)
Banjarnegara-Dieng, detakpasifik.com- Jumat (12/6/2026) menjadi sebuah perjumpaan istimewa dengan seorang anak bernama Chandra, siswa kelas 3 SD yang tinggal di salah satu desa di kawasan Dieng, Jawa Tengah. Di lorong sebuah vila milik orang tuanya, ia tampak bersemangat menggiring lima ekor kuda pacuan kembali ke kandang. Sesekali ia tersenyum kepada saya dan mas Beni, teman pengunjung Wisata Dieng, meskipun masih terlihat malu ketika diajak berfoto bersama.
Menurut penuturan kedua orang tuanya, Bapak Panut Sambodo dan Ibu Istiqomah, rambut gimbal Chandra mulai tumbuh ketika ia berusia sekitar tiga tahun. Sebelum rambut itu muncul, Chandra sering mengalami demam tinggi berulang. Berbagai pemeriksaan medis telah dilakukan, namun dokter tidak menemukan penyakit tertentu yang dapat menjelaskan kondisi tersebut. Sejak saat itu, rambut di sebagian kepalanya tumbuh menggumpal dan membentuk gimbal secara alami.
Bagi masyarakat Dieng, fenomena ini bukan sekadar persoalan biologis. Anak-anak yang memiliki rambut gimbal dipercaya sebagai anak istimewa yang membawa berkah dan anugerah. Karena itu, keberadaan mereka dihormati dan dijaga sesuai tradisi yang diwariskan oleh para leluhur.
Kepercayaan tersebut berkaitan erat dengan tradisi “Ruwatan Rambut Gimbal”, sebuah ritual adat yang telah menjadi identitas budaya masyarakat Dieng. Tradisi ini setiap tahun menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan Dieng Culture Festival (DCF). Pada tahun 2026, festival ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, yaitu 28–30 Agustus.
Festival pemotongan rambut gimbal menjadi daya tarik wisata yang luar biasa. Ribuan wisatawan domestik maupun mancanegara datang untuk menyaksikan prosesi yang unik ini. Menurut informasi dari masyarakat setempat, sejumlah tamu kehormatan dari berbagai negara Asia juga direncanakan hadir untuk mengikuti rangkaian kegiatan budaya tersebut.
Dalam tradisi ruwatan, tidak ada unsur paksaan. Setiap anak yang memiliki rambut gimbal berhak menentukan sendiri kapan ia siap mengikuti prosesi pemotongan rambut. Keputusan itu sepenuhnya berasal dari anak yang bersangkutan. Karena keunikan tradisi ini, jauh sebelum pelaksanaan festival, ratusan vila dan penginapan di kawasan Dieng biasanya telah habis dipesan oleh wisatawan.
Dari sisi ekonomi, DCF memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat. Produk pertanian khas Dieng seperti kentang, carica, dan berbagai jenis sayuran laris dibeli pengunjung. Demikian pula dengan kerajinan tangan, topi, syal, jaket, dan berbagai perlengkapan musim dingin yang menjadi ciri khas kawasan pegunungan ini.
Selain itu, para wisatawan juga menikmati berbagai destinasi wisata seperti Kawah Sikidang, Candi Arjuna, Bukit Sikunir, hamparan terasering pertanian, arena pacuan kuda, hingga aneka kuliner tradisional yang menggugah selera. Kehadiran festival budaya ini terbukti mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat setempat.

Salah satu keunikan dalam ritual ruwatan adalah adanya permintaan khusus dari anak yang akan diruwat. Permintaan tersebut dapat berupa sepeda, telepon genggam, laptop, kambing, atau barang lain yang diinginkannya. Dan Candra sendiri tahun ini mas minta sepeda Motor Trail. Menurut kepercayaan masyarakat, permintaan itu harus dipenuhi sebelum prosesi pemotongan rambut dilakukan. Jika tidak, diyakini rambut gimbal tersebut akan tumbuh kembali. Menariknya, permintaan itu berasal dari anak yang bersangkutan, bukan dari orang tua atau keluarganya.
Prosesi ruwatan biasanya dilaksanakan di kompleks Candi Arjuna. Anak-anak yang akan diruwat mengenakan pakaian adat Jawa dan mengikuti berbagai tahapan ritual yang dipimpin oleh para sesepuh adat. Sesepuh inilah yang dipercaya memiliki kewenangan untuk memotong rambut gimbal dalam upacara tersebut.
Fenomena rambut gimbal Dieng juga menjadi perhatian para akademisi. Tradisi ini telah diteliti dari berbagai perspektif, mulai dari budaya, komunikasi, sosiologi, antropologi, hingga studi agama.
Serafina Indah Chrisanti (2021), dalam penelitiannya yang berjudul “Persepsi Masyarakat Dieng terhadap Ruwatan Rambut Gimbal: Sebuah Tinjauan dari Ilmu Komunikasi dan Media”, menjelaskan bahwa ruwatan rambut gimbal merupakan salah satu ritual unik yang masih bertahan hingga saat ini karena masyarakat Dieng tetap menghormati warisan leluhur mereka. Namun, setelah ritual tersebut menjadi bagian dari Dieng Culture Festival, muncul perubahan persepsi di kalangan masyarakat. Sebagian melihat adanya pergeseran dari nilai budaya yang sakral menuju nilai ekonomi melalui proses komodifikasi budaya.
Penelitian lain oleh Erika Amanda Salsabila Putri (2024) yang berjudul “Ruwatan Rambut Gimbal: Simbol Keharmonisan antara Manusia dan Alam di Dieng Wonosobo” menunjukkan bahwa tradisi ini tidak hanya berkaitan dengan kepercayaan masyarakat, tetapi juga menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam. Sementara itu, Arif Moh. Choirul dan Andin Faturrahman (2013) dalam penelitian mereka mengenai makna simbolik ruwatan cukur rambut gembel di Desa Dieng, Kecamatan Kejajar, Wonosobo, menemukan bahwa ritual tersebut memiliki makna mendalam sebagai sarana pelestarian identitas budaya masyarakat setempat.
Lalu, apakah rambut gimbal membawa berkah atau kutukan? Bagi masyarakat Dieng, rambut gimbal lebih dipandang sebagai berkah daripada kutukan. Kehadirannya menjadi identitas budaya yang memperkuat solidaritas sosial sekaligus menggerakkan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat. Namun, dari sudut pandang lain, muncul pertanyaan kritis ketika tradisi yang sakral mulai masuk ke dalam industri pariwisata. Apakah nilai-nilai budaya tetap terjaga, atau justru berubah menjadi komoditas yang diperjualbelikan?
Pertanyaan itu mungkin tidak mudah dijawab. Namun yang jelas, rambut gimbal Dieng telah menjadi simbol yang mempertemukan tradisi, kepercayaan, ekonomi, dan ilmu pengetahuan dalam satu ruang yang unik. Tugas generasi sekarang bukan hanya melestarikan ritualnya, tetapi juga menjaga makna dan nilai luhur yang terkandung di dalamnya agar tidak hilang ditelan arus zaman.
Pada akhirnya, berkah atau kutukan bukanlah terletak pada rambut gimbal itu sendiri, melainkan pada cara manusia memaknai dan memperlakukannya. Ketika tradisi dihormati sebagai warisan budaya yang memperkaya kehidupan bersama, maka rambut gimbal akan tetap menjadi berkah bagi masyarakat Dieng dan bagi Indonesia.
Oleh karena itu, tradisi ruwatan rambut gimbal mengajarkan bahwa budaya bukan sekadar tontonan, melainkan jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Di dalamnya tersimpan nilai penghormatan kepada leluhur, solidaritas sosial, harmoni dengan alam, serta semangat kebersamaan masyarakat Dieng.
Karena itu, harapan besar tertuju pada keberlangsungan Dieng Culture Festival (DCF) agar tetap hidup dan berkembang tanpa kehilangan makna aslinya. Festival ini tidak hanya penting sebagai daya tarik wisata, tetapi juga sebagai ruang pendidikan budaya bagi generasi muda dan masyarakat luas. DCF diharapkan terus menjadi panggung yang menghormati kesakralan tradisi, memberdayakan ekonomi warga, serta memperkenalkan kekayaan budaya Dieng ke tingkat nasional maupun internasional.
Semoga pemerintah, pelaku wisata, akademisi, dan masyarakat setempat dapat berjalan bersama menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan perkembangan pariwisata. Dengan demikian, DCF akan tetap bertahan sebagai warisan budaya yang hidup—bukan sekadar festival tahunan, tetapi juga simbol identitas, kebanggaan, dan kebersamaan masyarakat Dieng untuk generasi-generasi mendatang.*











