Kupang, detakpasifik.com– Sebanyak 16 mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan, Universitas Katolik Widya Mandira, yang mengikuti program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) resmi diterima oleh Pemerintah Desa Oesena dalam kegiatan penerimaan dan pemaparan program kerja di Kantor Desa Oesena, Senin (11/5/2026).
Kegiatan tersebut menjadi penanda dimulainya pelaksanaan MBKM skema desa binaan yang mencakup dua jalur partisipasi mahasiswa, yakni skema pengabdian kepada masyarakat dan skema penelitian ilmiah.
Program ini bertujuan mengimplementasikan pengetahuan akademik mahasiswa ke dalam kehidupan masyarakat secara nyata, sekaligus memberikan pengalaman belajar lapangan terkait tata kelola pemerintahan desa. Selain itu, program ini diharapkan memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah desa dalam mendukung pembangunan masyarakat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan apel pagi di halaman Kantor Desa Oesena sebagai simbol kesiapan dan kedisiplinan mahasiswa sebelum mengikuti acara penerimaan resmi di aula kantor desa.
Kegiatan tersebut turut dihadiri dua Dosen Pendamping Lapangan (DPL), yakni Yohana Fransiska Medho, S.I.P., M.I.P. dan Bruno Rey Sonby Pantola, S.I.P., M.I.P., bersama Kepala Desa Oesena dan seluruh perangkat desa.
Dalam sesi awal, mahasiswa, dosen pendamping, serta pemerintah desa saling memperkenalkan diri guna membangun komunikasi dan kerja sama selama pelaksanaan program MBKM di desa tersebut. Setelah itu, mahasiswa peserta skema pengabdian memaparkan program kerja kelompok maupun individu yang akan dijalankan selama penugasan.
Dosen Pendamping Lapangan, Yohana Fransiska Medho, menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa di desa bukan hanya untuk mengabdi, tetapi juga belajar bersama masyarakat.
“Kehadiran mahasiswa di sini bukan hanya mengabdi kepada masyarakat, tetapi juga belajar dengan masyarakat. Mahasiswa diharapkan mampu berkolaborasi dengan berbagai stakeholder agar program kerja yang dijalankan dapat berdampak positif dan bermanfaat bagi masyarakat Desa Oesena,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa kegiatan MBKM di lapangan bukan sekadar formalitas akademik untuk memperoleh nilai, melainkan proses pembentukan karakter, sikap, dan pengabdian nyata bagi masyarakat desa.
Sementara itu, Kepala Desa Oesena, Nelson F. Boymaun, menyambut baik kehadiran mahasiswa MBKM dan berharap mereka dapat membantu pemerintah desa, terutama dalam peningkatan kapasitas perangkat desa di bidang teknologi.
“Kami masih memiliki banyak kekurangan, terutama ada perangkat desa yang belum menguasai perangkat lunak. Kehadiran adik-adik mahasiswa diharapkan dapat membantu memberikan pelatihan yang dibutuhkan,” katanya.
Kegiatan penerimaan ditutup dengan sesi foto bersama antara mahasiswa, dosen pendamping lapangan, Kepala Desa, dan perangkat desa.
Melalui program MBKM ini, mahasiswa diharapkan mampu menjalankan pengabdian secara profesional, bertanggung jawab, serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat Desa Oesena. (Arsen Setiawan)











