Kupang, detakpasifik.com- Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang menyelenggarakan kegiatan Pembekalan Mahasiswa Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) pada Selasa (21/4) di Aula St. Hendrikus. Kegiatan ini diikuti seluruh mahasiswa semester VI yang akan menjalankan program MBKM sebagai bagian dari implementasi pembelajaran berbasis pengalaman lapangan.
Pembekalan ini menjadi jembatan antara pengetahuan teoritis yang diperoleh di ruang kelas dengan realitas sosial yang akan dihadapi mahasiswa di lapangan. Program MBKM sendiri menekankan pentingnya kemampuan adaptasi, analisis sosial, serta keterampilan praktis dalam memahami dinamika masyarakat secara langsung.
Dalam sambutannya, Sekretaris Program Studi Ilmu Pemerintahan Yohana Fransiska Medho menegaskan, kegiatan ini merupakan langkah strategis dalam mempersiapkan mahasiswa sebelum terjun ke masyarakat. Ia menekankan bahwa MBKM bukan sekadar program akademik, melainkan ruang pembelajaran kontekstual yang menuntut kepekaan sosial serta kesiapan menghadapi situasi nyata.
“Pembekalan ini penting agar mahasiswa tidak hanya membawa teori, tetapi juga mampu menerjemahkan pengetahuan tersebut ke dalam tindakan nyata yang relevan dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Kegiatan ini turut menghadirkan narasumber utama, Vincencius Bureni, selaku Direktur LSM Bengkel APPeK (Bengkel Advokasi Pemberdayaan dan Pengembangan Kampung). Dalam pemaparannya, Vinsen menekankan pentingnya keberanian mahasiswa untuk keluar dari zona nyaman akademik dan benar-benar hadir sebagai bagian dari masyarakat.
“Mahasiswa harus berani melebur dengan masyarakat, meninggalkan sekat-sekat ‘kekotaan’, serta mampu menyederhanakan pengetahuan metodologis menjadi praktik yang dapat menjawab kebutuhan riil di lapangan,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa keberhasilan program MBKM sangat ditentukan oleh kemampuan mahasiswa dalam membaca realitas sosial serta merancang program yang berpihak pada kebutuhan masyarakat.
Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan tidak hanya siap secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, kemampuan adaptasi, serta keterampilan implementatif dalam menjalankan pengabdian di tengah masyarakat.
Kegiatan ini menjadi momentum penting yang menegaskan bahwa proses pendidikan tidak berhenti di ruang kelas, melainkan berlanjut ke ruang kehidupan nyata tempat di mana teori benar-benar diuji oleh realitas. (Arsen Setiawan)







