Sapi Tuan Takur

Ilustrasi


Oleh: Marselus Natar

Tuan Takur tidak pernah dapat menentukan dengan pasti sejak kapan sapinya berhenti makan rumput. Ia hanya mengingat bahwa suatu hari rumput itu tidak lagi berkurang, lalu keesokan harinya tetap utuh, dan pada hari-hari berikutnya berubah menjadi benda yang sekadar ada, seperti umbi-umbian Porang yang dibiarkan tergeletak begitu saja di sudut kandang sebab harganya yang kian tak menentu.

Sapi jantan itu berdiri di kandang dengan ketenangan yang tidak wajar. Tubuhnya besar, kakinya kokoh, tetapi geraknya minim. Ia tidak melenguh meminta makan. Ia tidak mengamuk. Matanya menatap kosong ke hadapan tumpukan rumput King Grass dan jerami padi yang masih tampak hijau dan segar. Ada semacam ekspresi yang sulit dijelaskan–bukan penolakan, bukan kebingungan, melainkan sejenis penangguhan, seperti seseorang yang menunggu keputusan dari meja yang tak terlihat.

Ketika aroma nasi mengepul dari dapur, barulah sapi itu bergerak. Langkahnya pelan, terukur. Ia mendekat ke sisi kandang yang paling dekat dengan dapur rumah, lalu berhenti. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Seolah jarak pun memiliki aturan tak tertulis.

Tuan Takur, tanpa alasan yang jelas, mengambil sepiring nasi dan meletakkannya di sudut kandang. Sapi itu makan. Bukan dengan lahap, bukan dengan kerakusan binatang, melainkan dengan ketenangan yang hampir membuat Tuan Takur merasa bersalah. Setiap kunyahan berlangsung lama, seperti sedang menimbang sesuatu yang lebih berat dari sekadar rasa lapar. Tidak ada sisa nasi yang tercecer. Tidak ada suara. Hanya gerak rahang yang pelan dan konsisten.

Sejak hari itu, nasi menggantikan rumput.

Tuan Takur tidak pernah membicarakan hal itu dengan siapa pun. Ia juga tidak pernah menanyakan pada dirinya sendiri, atau kepada istrinya. Dalam hidupnya, terlalu banyak hal yang tidak pernah benar-benar ia pahami, tetapi tetap berjalan sebagaimana mestinya. Ia belajar menerima bahwa pemahaman bukanlah syarat mutlak bagi keberlangsungan.

READ  Hak Tahu (Refleksi tentang Identitas, Relasi, dan Luka yang Diturunkan)

Ia menamai sapi itu Maximus.

Nama itu diwariskan bersama tubuh sapi tersebut. Maximus adalah nama kakeknya, lelaki tua yang meninggal beberapa tahun lalu dengan cara yang biasa-biasa saja: sakit, berbaring, lalu tidak bangun lagi. Kematian itu telah diselesaikan secara keluarga, secara agama, bahkan secara adat. Namun entah mengapa, ia tidak pernah benar-benar selesai secara administratif.

Di kantor desa, nama Maximus tetap tercatat sebagai warga hidup. Lansia. Layak menerima bantuan.

Tuan Takur mengetahui hal itu ketika suatu siang dua orang aparat desa datang membawa karung beras dan amplop putih. Mereka menyebut nama Maximus dengan nada resmi, seolah memanggil seseorang yang sedang bersembunyi di balik pintu rumah.

“Ini hak beliau,” kata salah satu dari mereka.

Tuan Takur mengangguk.

Ia tidak mengatakan bahwa Maximus telah mati. Ia juga tidak mengatakan bahwa Maximus kini berkaki empat. Kata-kata terasa tidak relevan ketika berhadapan dengan sesuatu yang sudah diputuskan jauh sebelum ia sempat ikut serta.

Sejak itu, setiap akhir bulan, bantuan selalu datang. Tepat waktu. Tidak pernah tertunda. Tidak pernah salah alamat. Beras itu dimasak. Uang itu digunakan untuk membeli lauk. Maximus–sapi itu–hidup dari bantuan negara dengan keteraturan yang hampir mengesankan.

Kadang Tuan Takur berpikir bahwa sapinya lebih terjamin keberadaannya daripada dirinya sendiri.

Orang-orang desa mengetahui kebiasaan Maximus makan nasi, tetapi tidak ada yang benar-benar mempermasalahkannya. Keanehan yang berlangsung lama akan berubah menjadi aturan tak tertulis. Seperti banyak hal lain di desa itu, kejanggalan hanya akan menjadi masalah jika terlalu keras disuarakan.

Tuan Takur sering duduk di depan kandang pada sore hari. Ia tidak membawa apa-apa. Tidak membaca. Tidak berpikir. Ia hanya duduk, menatap Maximus yang mengunyah nasi dengan ketenangan yang membuat waktu terasa melambat.

Kadang ia merasa sedang ditatap balik oleh sesuatu yang lebih tua darinya. Tatapan itu tidak menghakimi, tetapi juga tidak menghibur. Tatapan yang membuatnya merasa kecil, seolah keberadaannya hanyalah pelengkap bagi sesuatu yang lebih penting–sesuatu yang bahkan tidak ia pahami.

READ  Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Unwira Siap Mengabdi melalui Program MBKM

Suatu malam, Tuan Takur bermimpi.

Dalam mimpi itu, ia berada di kantor desa. Lorong-lorongnya panjang dan sempit, tanpa jendela. Setiap pintu bertuliskan: Pembaruan Data. Sesuatu yang ia tidak pernah paham. Ketika ia membuka satu pintu, ia menemukan pintu lain. Dan di setiap ruangan, ada map bertuliskan Maximus.

Ia membuka satu map. Isinya kosong.

Ia menutupnya. Map itu kembali penuh.

Ia terbangun dengan perasaan bahwa ia telah dipanggil ke sebuah sidang yang tidak pernah ia hadiri.

Beberapa hari setelah mimpi itu, Maximus jatuh sakit.

Ia tidak makan. Ia tidak berdiri. Nafasnya berat dan pendek, seolah setiap tarikan adalah beban yang tidak lagi ingin ia pikul. Tuan Takur memanggil dokter hewan dari kecamatan. Dokter itu datang, melihat sekilas, lalu menggeleng.

“Virus,” katanya singkat.

Tidak ada penjelasan lanjutan. Tidak ada saran. Tidak ada formulir.

Maximus mati pada sore hari, saat hujan turun begitu deras. Tidak ada petir. Tidak ada angin. Hujan itu seperti sesuatu yang jatuh karena memang harus jatuh.

Tuan Takur duduk lama di depan tubuh Maximus. Ia menunggu rasa sedih, tetapi yang datang hanyalah kehampaan. Seolah sesuatu yang selama ini berdiri di antara dirinya dan dunia telah hilang, dan kini ia harus berhadapan langsung dengan ruang kosong yang terlalu luas.

Tiba-tiba pikiran muncul dalam kepalanya. Ia melapor ke desa.

Responsnya cepat. Terlalu cepat. Aparat desa datang membawa bantuan duka, karangan bunga, dan kata-kata belasungkawa yang terdengar seperti kutipan dari dokumen resmi. Mereka menyebut Maximus sebagai “almarhum” dengan keyakinan yang tidak goyah.

Ketika aparat desa tiba di rumah duka, keadaan biasa-biasa saja. Tidak ada hal yang menunjukkan kedukaan. Gang lengan, teras rumah tuan Takur sepi. Seorang dari aparat desa memberanikan diri untuk bertanya kepada beberapa anak kecil yang sedang bermain karet. Anak-anak itu hanya mengarahkan aparat untuk masuk ke rumah tuan Takur. Tuan Takur menyambut kedatangan mereka. “Di mana jenazahnya?” tanya seorang aparat. “Di kandang”, jawab tuan Takur. Mereka menyaksikan bangkai Maximus yang hampir membusuk. Beberapa lalat hijau mengerumuni biji mata dan bokongnya.

READ  Mahasiswa di Kupang Refleksi Sumpah Pemuda: Kawal Isu Lingkungan dan Peran Gen Z dalam Kearifan Lokal

Beberapa aparat saling berpandangan. Map dibuka. Data diperiksa. Nama Maximus masih tercantum. Status: Hidup.

“Ini tidak sesuai,” kata seseorang pelan.

“Yang tidak sesuai apa?” tanya yang lain.

Tidak ada jawaban.

Setelah hening yang panjang, kepala desa berkata, “Kita tetap harus memprosesnya.”

“Memproses apa?”

“Kematian,” jawabnya. “Atau apa pun yang bisa kita sebut.”

Mereka menulis laporan. Mereka mencatat tanggal wafat. Mereka tidak mencatat jenis makhluk. Tidak ada kolom untuk itu. Bantuan tetap diserahkan. Karangan bunga tetap dipasang.

Setelah semua selesai, mereka pergi, meninggalkan kandang dan beras yang tidak lagi dimakan siapa pun.

Beberapa hari kemudian, surat datang dari kantor desa. Isinya singkat dan dingin:

“Data sedang dalam proses pembaruan. Selama proses berlangsung, bantuan akan tetap disalurkan sesuai data terakhir.”

Tuan Takur membaca surat itu berulang-ulang.

Ia menatap kandang kosong. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa Maximus belum sepenuhnya mati. Ia hanya berpindah bentuk–dari tubuh ke kertas, dari keberadaan ke prosedur.

Di luar, langkah kaki aparat terdengar lagi di kejauhan. Tuan Takur tidak bergerak. Ia menunggu. Ia tidak tahu apa yang ia tunggu.

Penulis buku antologi cerpen dengan judul Usaha Membunuh Tuhan dan novel berjudul Janji Yang Kian Koyak dan Terkoyaklah. Beberapa karyanya telah dimuat di media lokal dan blog pribadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *