Seratus Tahun Cahaya Sunyi: Meditasi Ingatan untuk Seminari Todabelu Mataloko


Catatan Pius Rengka
Pemulung Kisah Masa Silam

Ada saat-saat tertentu dalam sejarah manusia ketika waktu seolah berhenti berlari. Waktu menepi. Waktu duduk diam di beranda kenangan. Waktu memberi ruang bagi manusia untuk menoleh ke belakang tanpa rasa takut kehilangan masa depan. Seratus tahun Seminari Mataloko adalah momen seperti itu.

Bagi Seminari Todabelu Mataloko, seratus tahun bukan sekadar hitungan kronologis dengan urutan rigid. Satu abad adalah akumulasi napas sejarah, nafas ceritera tentang aneka kenangan terbuka. Satu abad adalah kumpulan doa yang mungkin terucap setengah sadar saat fajar menggigil di lereng-lereng bukit tak jauh dari Mataloko. Satu abad adalah gema langkah kaki anak-anak muda yang meninggalkan rumah dengan koper kecil, tetapi membawa mimpi yang jauh lebih besar daripada usia mereka. Dan, hamparan hutan bambu menaungi cakrawala.

Di lembah sejuk yang diselimuti kabut pagi itu berdiri sebuah institusi yang sejak awal tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi mengajarkan cara menjadi manusia.
Bagi banyak orang, utamanya manusia Flores, Seminari Todabelu Mataloko bukan sekadar sekolah. Ia adalah ruang inisiasi. Arena adu cara pandang. Di sana manusia tidak hanya diajarkan untuk tahu (knowing), tetapi untuk mengerti (understanding). Tidak hanya untuk berpikir, tetapi untuk merenung, pergi lebih ke dalam (duc in altum) untuk mendengar betapa riuhnya suara sepi.

Di balik bunyi lonceng yang memecah sunyi subuh, di balik doa pagi yang kadang diucap dengan mata setengah terpejam, di balik kapel yang hanya ditemani napas dan detak jantung sendiri, tumbuh manusia-manusia yang kelak berjalan ke dunia nyata membawa sesuatu yang tak terlihat namun terasa kuat, etos hidup.

Disiplin bukan sekadar aturan main yang disusun tanpa alasan. Ia menjadi bahasa tubuh. Keheningan bukan sekadar kewajiban. Keheningan menjadi cara mendengar dunia. Tentang betapa gaduhnya suara sunyi.

Di Seminari Todabelu Mataloko, pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Para seminaris hidup dalam ritme harian, bangun pukul 04.30 WITA, kerja bersama membersihkan lingkungan, makan sederhana yang dibagi rata, serta praktik silentium magnum yang mengajarkan bahwa manusia tidak selalu harus berbicara untuk memahami kehidupan. Diam adalah cara bertindak yang pantas demi kepantasan makna.

Di sana anak-anak muda belajar sesuatu yang sering dilupakan dunia modern yaitu menjadi manusia bukan soal seberapa banyak yang dimiliki, tetapi seberapa dalam makna hidup dipahami. Meminjam Immanuel Kant, seberapa pantas aku boleh berharap.

READ  Menjaga Kendali BPD Bank NTT: Strategi Aman Dana KUB Tanpa Dilusi Saham Pemda

Para seminaris dibentuk untuk hidup dekat dengan kesederhanaan. Bukan untuk memuliakan kemiskinan, tetapi agar tidak takut berhadapan dengannya. Mereka belajar bahwa berbagi bukan mengurangi, melainkan memperluas makna kebahagiaan. Setiap kebahagiaan yang dibagi menjadi berlipat ganda. Setiap kepedihan yang dibagi menjadi berkurang.

Sejarah Seminari Todabelu Mataloko tidak dapat dilepaskan dari para sejarah dan peran mulia misionaris SVD. Mereka datang bukan hanya membawa Injil, menenteng sabda kosong, tetapi juga membawa peradaban literasi, kesadaran intelektual, dan keberanian berpikir.

Di tanah Flores, mereka menanam benih yang baru terlihat hasilnya puluhan tahun kemudian, manusia yang mampu berdiri dengan iman sekaligus akal sehat. Ribuan alumni lahir dari tempat ini. Mereka menyebar ke berbagai penjuru dunia, entah menjadi imam, guru, dokter, jurnalis, politisi, aktivis, bahkan petani kritis. Mereka membawa satu keyakinan yang tampak sederhana namun radikal bahwa ilmu pengetahuan membebaskan manusia, dan iman menjaga agar pembebasan itu tetap manusiawi justru karena menaruh hormat pada martabat manusia.

Misteri Jubah Putih:

Tidak semua yang masuk Seminari Todabelu Mataloko menjadi imam. Dan, memang tidak seharusnya begitu. Panggilan tidak selalu berujung di altar. Panggilan bisa berujung di ruang kelas, desa terpencil, ruang sidang politik, kantor pemerintahan dan swasta, atau bahkan sawah yang sunyi sambil menakar lenguh keluhan kerbau milik petani.

Jubah putih sering disalahpahami sebagai simbol kemuliaan. Padahal jubah putih lebih dekat pada salib daripada mahkota. Jubah putih adalah simbol tanggung jawab sunyi. Yang membuat jubah itu bercahaya bukan kainnya, tetapi jiwa yang berjuang jujur di hadapan Tuhan.

Hari ini dunia bergerak sangat cepat. Teknologi berkembang lebih cepat daripada etika. Informasi bergerak lebih cepat daripada kebijaksanaan. Politik bahkan yang paling busuk pun sering bergerak lebih cepat daripada nurani. Lainnya berpikir, politisi juga sudah telah biasa hidup dalam selimut tanpa selembar nurani.

Dalam kerangka Zygmunt Bauman, kita hidup dalam liquid modernity, dunia cair yang cepat berubah dan sering kehilangan arah. Dalam dunia seperti ini, lembaga seperti Seminari Todabelu Mataloko menjadi penting bukan karena romantisme masa silam, tetapi karena kemampuannya membentuk manusia yang mampu berhenti sejenak dan bertanya, untuk apa saya hidup?

Sejak awal, pendidikan di seminari ini tidak diarahkan untuk melahirkan manusia penguasa, melainkan manusia pelayan. Namun, justru dari ruang pelayanan itulah banyak alumninya kemudian memasuki dunia sosial dan politik dengan membawa kesadaran moral yang tidak diajarkan oleh buku teks. Mereka lalu bertemu dengan wajah Nusa Tenggara Timur yang penuh duka lara ini dalam derai tawa yang terpaksa ditawarkan.

READ  Khofifah Dorong Sinergi Bank Jatim–Bank NTT untuk Perkuat Fondasi Ekonomi Kawasan

NTT bukan sekadar wilayah geografis. NTT adalah narasi panjang tentang ketertinggalan sekaligus daya tahan. Dalam kondisi kemiskinan struktural, spiritualitas sering menjadi energi sosial, daya rekat masyarakat, sekaligus sumber harapan. Dalam konteks ini, formasi spiritual-intelektual seperti yang lahir dari Seminari Todabelu Mataloko memiliki peran historis yaitu membentuk manusia yang tidak hanya mampu berdoa dan bertutur runtut teratur, tetapi juga berani melawan ketidakadilan, melawan penindasan struktural dan sanggup membuka tabir kepalsuan yang disetujui sejarah.

Memasuki abad ke-21, tantangan terbesar bukan mempertahankan tradisi, melainkan menghidupkannya kembali dalam konteks baru. Keheningan harus menjadi kemampuan mendengar jeritan masyarakat. Disiplin harus menjadi konsistensi melawan ketidakadilan. Spiritualitas harus menjadi keberanian berpihak pada yang lemah. Option for the poor.

Seminari Todabelu Mataloko tidak boleh menjadi museum spiritual. Seminari Mataloko harus menjadi laboratorium kemanusiaan. Warisan terbesarnya bukan bangunan atau statistik lulusan, melainkan manusia-manusia yang tahu berdoa, bekerja, melawan ketidakadilan, dan mencintai dunia yang terluka.

Maka pentas seni empat babak di Auditorium Universitas Nusa Cendana Kupang pada 31 Januari 2026 bukan sekadar pertunjukan seni. Ia menjadi altar ingatan kolektif, juga ruang di mana sejarah, spiritualitas, pendidikan, dan politik kebudayaan saling berkelindan di padang ziarah kehidupan.

Partisipasi sekolah-sekolah Katolik di Kupang yang ikut terlibat menyumbangkan kemampuan imajinasi masing-masing menegaskan bahwa menjelang satu abad usianya, Seminari Todabelu Mataloko bukan hanya milik manusia Flores atau Ngada semata, tetapi bagian dari memori intelektual NTT bahkan Nusantara.

Sebagaimana Alfred North Whitehead mengingatkan bahwa peradaban tanpa petualangan akan mengalami kemunduran, seminari ini sejak awal berdiri sebagai ruang petualangan intelektual dan spiritual. Para alumninya telah menancapkan panji kebenaran dan jernih intelektual ke semua ranah wilayah.

Alumni seminari hadir di berbagai sektor kehidupan seperti pemerintahan, parlemen, pendidikan, gereja, profesional swasta dan masyarakat sipil. Mereka membawa etos reflektif dan kepekaan sosial.

Namun, mereka juga menghadapi dialektika keras antara idealisme dan realitas kekuasaan. Dalam bahasa Max Weber, mereka diuji antara etika keyakinan dan etika tanggung jawab. Risiko kooptasi selalu mungkin ada. Namun gema formasi spiritual sering kembali sebagai suara batin di saat-saat paling kritis. Dalam perspektif Pierre Bourdieu, nilai-nilai seminari menjadi modal simbolik yang menentukan legitimasi sosial.

READ  Polemik Parkir dan Tantangan Tata Kelola Kolaboratif antara Pemprov NTT dan Pemerintah Kota Kupang

Refleksi Masa Depan:

Kini dunia berubah cepat. Demokrasi mengalami erosi di banyak tempat. Teknologi mengguncang hampir seluruh tatanan kehidupan. Pertanyaan mendasar muncul, apa yang ingin ditawarkan Seminari Todabelu Mataloko bagi dunia hari ini?

Jawabannya mungkin terletak pada keberanian menyandingkan spiritualitas dengan keberanian sosial. Dunia membutuhkan lebih banyak “imam” bukan hanya di altar, tetapi juga di parlemen, desa, sekolah, dan ruang publik, manusia yang memahami pelayanan sebagai panggilan hidup.

Barangkali kekuatan terbesar Seminari Todabelu Mataloko justru terletak pada kesunyiannya. Ia tidak berteriak. Seminaris Mataloko tidak memamerkan diri. Namun, Seminari Mataloko membentuk manusia yang mengubah dunia secara perlahan ke arah yang pantas.

Seratus tahun adalah bukti bahwa cahaya tidak harus menyilaukan. Kadang ia cukup menjadi pelita kecil yang setia menyala dalam badai. Dan, pada akhirnya, setiap orang yang pernah ditempa di lembah sejuk itu akan memahami satu hal sederhana: Seminari Todabelu Mataloko bukan sekadar tempat. Ia adalah cara hidup.

Ia adalah napas panjang peradaban. Ia adalah cahaya sunyi yang terus berjalan dalam sejarah manusia.

Namun, pada kesempatan itu, Gubernur NTT, Melki Lakalena, dengan tandas mengingatkan dengan kata-kata: “Saya minta kembalikan kualitas sekolah pada jalurnya yang jujur dan benar. Tidak boleh semua anak dipaksakan naik kelas, meskipun tidak patut”. Ucapan Gubernur NTT, Melki Lakalena yang adalah juga mantan Seminari Pius XII Kisol, Manggarai itu disaksikan aneka pihak antara lain, disaksikan oleh mantan Wakil Gubernur NTT, Dr. Josef A. Naesoi, Direktur PDAM Kota Kupang sekaligus Ketua Alumni Seminari Mataloko Kota Kupang, Isodorus Lilijawa, SFil., Ilmuwan Undana Prof. Philipi de Rosari, PhD., Anggota DPRD Kota Kupang sekaligus Ketua Penyelenggara Pentas Seni Seminari Mataloko, Maria Rosalinda Uta Teku, para intelektual Kota Kupang dan ratusan orangtua murid dan umat basis yang menghadiri acara itu.

Meski itu acara menelan waktu 4,5 jam, tetapi flow acara begitu lancar dan mulus dengan makna yang dalam dan menukik nun jauh. Begitulah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *