Malam Yang Panjang di Kampung Kami

Marselus Natar

Oleh Marselus Natar (rohaniawan Katolik pada Kongregasi Frater-Frater Bunda Hati Kudus)

Malam di pengungsian Kampung Pau, Manggarai Timur, selalu merayap lambat. Bagiku, malam seolah membawa beban yang teramat berat. Di dalam tenda pleton yang pengap ini, udara pengap berbau tanah kering dan kecemasan yang menggantung. Ketika pengungsi lain mulai menyerah pada kantuk, sepasang mataku justru terus menatap langit-langit terpal abu-abu. Dadaku bergemuruh.

Namaku Ambu. Sudah tiga minggu sejak bumi Flores berguncang hebat oleh gempa bermagnitudo 7,7 pada Agustus lalu. Bagi orang-orang di luar sana, bencana itu mungkin telah berlalu menjadi sekadar angka dan berita. Namun bagiku, patahan tektonik itu seolah berpindah, retak tepat di dalam dadaku.

Setiap kali aku mencoba merapatkan kelopak mata, lantai tanah Kampung Pau di bawah alas tidurku seolah melarut. Ia berubah menjadi gelombang yang siap menelanku bulat-bulat. Detik berikutnya, memori kelam itu kembali menyergapku: suara reruntuhan yang memekakkan telinga, jeritan histeris yang bersahutan, dan pemandangan dinding rumah warisan ibuku yang luruh menjadi debu dalam hitungan kedipan mata. Aku akan langsung terduduk dengan napas terengah-engah. Pelipisku basah oleh keringat dingin, sementara jantungku berdentum bagai martil.

Tiba-tiba, keheningan malam pecah.

Grumm… brummm… RRUUUMMM!

Sebuah truk logistik berukuran besar melintas di jalan berbatu tak jauh dari tenda kami. Suara raungan mesinnya begitu berat, memicu getaran samar pada tiang-tiang penyangga terpal.

Seketika, seluruh pasokan udara di paru-paruku seperti menguap. “Gempa… gempa lagi…” bisikku dengan mata melebar penuh horor. Seluruh tubuhku mendadak kaku, terkunci oleh kepanikan yang luar biasa. Tanganku mencengkeram ujung tikar begitu erat hingga buku-buku jariku memutih. Dunia di sekitarku mendadak buram, tergantikan oleh bayangan atap yang runtuh. Aku ingin lari, namun kakiku terasa seperti disemen ke dalam bumi.

Di sudut tenda yang lain, ketakutan itu menemukan korban barunya. Adi, bocah laki-laki berusia enam tahun yang tidur tak jauh dariku, terbangun sambil menjerit histeris. Truk yang lewat telah membangunkan monster di dalam mimpinya.

READ  FESTAYA KOMANTTA Vol. 4: Ketika Budaya NTT Menjadi Jalan Merawat Harapan di Tengah Keterbatasan

“Ibu! Rumahnya roboh! Adi takut!” tangis bocah itu pecah, melengking membelah malam. Tubuh kecilnya gemetar hebat. Tangannya menggapai-gapai udara dengan liar, menolak ditenangkan oleh ibunya yang juga tampak kebingungan.

Melihat Adi, ada sesuatu yang bergetar di benakku. Kami merasakan rasa sakit yang sama, ketakutan yang serupa.

“Ambu, Adi… lihat saya. Tarik napasnya perlahan,” sebuah suara lembut berbisik, memutus gelombang kepanikan yang nyaris menenggelamkan tenda kami.

Sari, seorang mahasiswi yang datang jauh-jauh dari salah satu kampus negeri di Kupang untuk menjadi relawan psikososial, bergerak cepat namun tenang. Ia berlutut di antaraku dan Adi, membawa seulas senyum yang teduh di wajahnya yang lelah. Di tangannya, sebotol air mineral diletakkan di lantai tanah.

Sari beralih menghadap Adi terlebih dahulu, merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan sang bocah. “Adi, anak pintar, coba lihat Kak Sari. Monster gempanya sudah pergi. Itu tadi cuma suara truk om relawan yang bawa mainan,” ucap Sari dengan nada yang sangat berirama, seolah sedang mendongeng.

Sari mengambil sebuah senter kecil dari kantongnya, menyalakannya, lalu mengarahkannya ke lantai. “Adi lihat cahaya ini? Yuk, kita tiup sama-sama cahayanya sampai padam. Tarik napas seperti mau tiup lilin ulang tahun… pffuuhh…”

Adi yang masih sesenggukan memandang cahaya itu. Dengan dada naik turun, ia mengikuti aba-aba Sari. “Pffuuhh…” tiupnya lemah.

“Lapi, tiup yang kuat sampai lampunya mati!” tutur Sari sembari perlahan meredupkan cahaya senter dengan jemarinya. Setelah tiga kali tiupan, tangis Adi mereda, digantikan oleh napas yang mulai teratur walau matanya masih sembap.

Sari kemudian menoleh ke arahku, memberikan tatapan penuh pengertian yang hangat. Ia menggenggam jemari tanganku yang masih kaku sekeras batu.

“Ambu, suara tadi sudah lewat. Truknya sudah pergi,” kata Sari lembut, selembut angin malam Flores. “Mari kita membumi lagi. Coba sebutkan kepada saya dan Adi, tiga benda di dalam tenda ini yang tidak bergerak sama sekali.”

READ  Dilantik Jadi Sekda NTT Sore Ini, Hans Sodo Pilih Rayakan Secara Sederhana

Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa begitu kering. Aku memandang Sari, lalu memandang Adi yang kini menatapku dengan mata bulat yang polos. Aku sadar, aku tidak boleh runtuh di depan anak ini.

“Tiang besi itu…” suaraku parau. “Botol air… dan… tanah ini. Tanah ini sudah diam, Kak Sari.”

“Betul. Tanahnya sudah tenang, Ambu. Mereka sedang menjaga kita sekarang,” bisik Sari seraya menuntun tanganku untuk mengusap punggung kecil Adi yang kini menyandarkan kepalanya di pangkuan ibunya.

Saat telapak tanganku menyentuh punggung Adi, merasakan sisa getaran ketakutan bocah itu yang perlahan luruh, sesuatu di dalam diriku ikut mencair. Menenangkan Adi rupanya menjadi penawar bagi jiwaku sendiri. Cengkeraman tak kasat mata di dadaku perlahan terlepas. Pundakku yang tegang berminggu-minggu akhirnya terkulai rileks.

Esok paginya, desas-desus baru berembus di antara jemuran kain yang basah di Kampung Pau. Kepala dusun mengumumkan lewat pelantang suara jinjing bahwa siang ini tim khusus dari kementerian akan datang membawa program “Trauma Healing Nasional Terpadu”.

Kami diminta berkumpul rapi di bawah terik matahari pukul dua siang. Aku, bersama ibu-ibu lainnya, duduk berjejer di atas rumput kering yang berdebu. Adi dan anak-anak lain diposisikan paling depan, dipakaikan baju terbaik mereka yang tersisa dari sumbangan.

Sebuah mobil hitam mengkilap berlogo instansi pemerintah akhirnya membelah debu Kampung Pau. Dari dalamnya turun sekelompok orang dengan seragam klimis yang kaku, lengkap dengan papan nama kuningan yang berkilau terpapar matahari Flores.

Seorang pejabat maju ke depan, memegang mikrofon yang mendengung riuh. Ia memulai pidato panjang selama tiga puluh menit, membacakan lembaran teks berisi teori-teori psikologi kebencanaan, regulasi penanggulangan pasca-krisis, serta daftar anggaran yang sedang diajukan di Jakarta. Angin kering menerbangkan debu, membuat anak-anak di dekatku mulai batuk dan gelisah.

READ  Rumah Runtuh, Harapan Stefanus Belum Beranjak dari Tanah

“Oleh karena itu, bapak, ibu, dan adik-adik sekalian,” suara pejabat itu menggema mantap lewat pelantang. “Mari kita sambut masa depan dengan optimisme! Kita harus melupakan hari kemarin yang kelam. Sekarang, mari kita foto bersama untuk dokumentasi laporan pusat. Tolong semuanya tersenyum dan katakan… Flores Bangkit!

Cekrek. Cekrek.

Kamera digital berspesifikasi tinggi menangkap senyum-senyum dipaksakan dari wajah-wajah kami yang terbakar matahari. Setelah sesi foto selesai, sang pejabat menyalami kepala dusun kami, memberikan sebuah map jepit berisi kuesioner evaluasi dampak psikologis sebanyak sepuluh lembar untuk diisi oleh kami—warga yang mayoritas bahkan belum sempat sarapan.

“Bantuan tim psikolog klinis gelombang pertama akan dijadwalkan setelah verifikasi data ini selesai di tingkat provinsi, ya Pak,” ucapnya ramah, sebelum kembali masuk ke dalam mobil ber-AC yang sejuk.

Mobil itu berlalu, menyisakan kepulan debu tebal yang membuat Adi kembali menangis karena matanya kelilipan.

Aku memandangi map jepit di tangan kepala dusun, lalu menoleh ke arah Sari yang sedang sibuk membagikan biskuit sisa logistik kemarin sambil membersihkan debu di wajah anak-anak dengan tisu basah seadanya. Aku menghela napas panjang, memandang langit Kampung Pau yang kembali sunyi.

Aku tahu, malam nanti truk logistik akan lewat lagi, bumi dalam kepalaku mungkin akan bergetar lagi, dan aku harus kembali belajar bernapas sendiri, sambil menunggu lembaran kuesioner itu menjelma menjadi penawar trauma yang entah kapan datangnya.

Catatan Penulis: Cerita pendek ini ditulis untuk menggambarkan realitas penanganan kesehatan mental penyintas bencana pasca-gempa Flores. Luka psikologis seperti kecemasan akut, kilas balik trauma (flashback), dan insomnia kronis sering kali terabaikan karena tidak kasat mata layaknya luka fisik atau kerusakan infrastruktur. Di tengah lambatnya birokrasi bantuan formal, metode pertolongan pertama psikologis sederhana yang dipraktikkan secara swadaya oleh relawan di lapangan sering kali menjadi garda terdepan penahan runtuhnya kondisi mental penyintas gempa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *