Lima Hari untuk Hery Susanto

3–4 minutes

Oleh: Dody Kudji Lede

JAKARTA, detakpasifik.com – Langit di atas Kebayoran Baru sore itu, Kamis (16/4), tampak muram, seolah-olah awan kelabu sengaja bergelayut rendah untuk menyembunyikan sesuatu yang besar. Di pelataran Gedung Bundar Kejaksaan Agung, derit ban mobil hitam yang berhenti mendadak memecah keheningan yang mencekam.

Sementara itu di tempat yang berbeda, di pelataran kantor Ombudsman Republik Indonesia, Kuningan, deretan karangan bunga masih berdiri tegak. Kelopak-kelopak mawar dan krisan itu masih segar, membawa pesan sukacita atas pelantikan Hery Susanto sebagai nakhoda baru lembaga pengawas pelayanan publik tersebut. Namun, pada Kamis (16/4) sore yang lembap, keharuman ucapan selamat itu mendadak menguap, digantikan aroma anyir skandal yang menggetarkan jantung ibu kota.

Hanya lima hari setelah sumpahnya diucapkan di bawah kitab suci, Hery Susanto menempuh perjalanan yang tak pernah ia bayangkan: dari kursi empuk pimpinan lembaga negara menuju kursi dingin di ruang pemeriksaan Gedung Bundar Kejaksaan Agung.

Dunia seakan berhenti berputar bagi Hery Susanto. Pria yang biasanya berdiri tegak sebagai tameng masyarakat melawan maladministrasi itu, kini melangkah turun dengan pergelangan tangan yang tak lagi bebas. Jaket merah muda bertuliskan “Tahanan Tipikor” yang ia kenakan tampak kontras dengan kemeja putih rapi yang biasanya ia pakai saat menyuarakan keadilan bagi rakyat kecil.

READ  Hak Jawab IUSTITIA LAW FIRM Soal Artikel Kewenangan Rektor UKSW dan Gugatan Umbu Rauta yang Gugur

Langkah kaki Hery saat memasuki gedung Kejaksaan Agung tampak berat, seolah beban dugaan korupsi tata niaga komoditas nikel yang disangkakan padanya menggelayut di tiap langkah. Tidak ada lagi senyum lebar yang ia pamerkan saat pelantikan. Wajahnya tertutup masker, namun sorot matanya yang layu tak mampu menyembunyikan badai yang sedang berkecamuk di dalam dirinya.

Rompi merah muda, warna yang menjadi simbol nestapa bagi para tersangka korupsi, kini melekat di tubuhnya, menindih kemeja yang masih rapi. Di sekelilingnya, para penyidik dari Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) menggiringnya dengan ketat, menciptakan barikade manusia di tengah kepungan lampu kilat kamera wartawan yang membelah senja.

Tragedi Lima Hari

Penangkapan itu tidak terjadi dengan riuh rendahnya sirine. Ia datang dalam sunyi yang menghujam. Tim penyidik Kejaksaan Agung bergerak dengan presisi, menjemput sang pejabat di tengah kesibukannya yang tampak biasa. Tak ada perlawanan. Hanya ada sorot mata yang kosong, menatap jauh ke arah cakrawala Jakarta yang mulai tertutup polusi.

READ  Prabowo dan PM Kanada Saksikan Penandatanganan Sejumlah Kesepakatan Strategis

Penangkapan ini meruntuhkan harapan yang sebelumnya dibangun bangsa ini semenjak lima hari lalu tatkala Hery bersumpah di bawah kitab sucinya akan mengembang amanah yang dipercayakan negara kepadanya. Bagaimana tidak, lembaganya dianggap sebagai “Pintu Terakhir” tempat rakyat mengadu ketika birokrasi menjadi labirin maladministrasi. Lembaganya hadir untuk menjadi telinga bagi rakyat yang terzalimi oleh kepentingan para birokrat. Namun, sore ini, semua narasi harapan itu runtuh. Penyidik menemukan jejak-jejak gelap dalam urusan nikel yang menyeretnya ke pusaran hukum, sebuah rekam jejak tentang rapuhnya integritas di bawah godaan uang dan kekuasaan.

Penangkapan ini bukan sekadar proses hukum biasa. Ini adalah drama tentang kekuasaan yang masih seumur jagung namun telah layu sebelum berkembang. Saat karangan bunga di luar gedung masih memuja namanya, di dalam ruang tahanan, Hery harus mulai terbiasa dengan dinding beton dan dinginnya ubin penjara.

Malam yang Panjang bagi Integritas

Saat matahari terbenam di ufuk barat Jakarta, Hery Susanto resmi menjadi penghuni baru di balik jeruji besi. Ia tak lagi memegang pena untuk menandatangani rekomendasi perbaikan pelayanan publik, melainkan memegang pena untuk menandatangani berita acara pemeriksaan (BAP).

READ  Retret Forkoma PMKRI NTT, Menata Ulang Kompas Moral Alumni

Lima hari lalu, Hery menyambut kilatan lampu kamera wartawan yang seolah memberikan cahaya penuh harapan. Hari ini, lampu-lampu yang sama menyambar-nyambar mencari celah wajahnya yang sengaja disembunyikan dari lensa-lensa yang pernah memujanya sebagai pahlawan pelayanan publik.

Di luar sana, publik hanya bisa tertegun. Karangan bunga yang masih terpajang di Kuningan kini tampak seperti nisan bagi integritas yang mati prematur. Hery Susanto, sang penjaga gerbang keadilan publik, kini justru terjepit di pintu hukum yang ia remehkan sendiri.

Saat pintu lift mulai tertutup, malam mulai jatuh di Kota Jakarta. Di kantor Ombudsman yang terletak di Kuningan, lampu-lampu ruangan masih menyala, namun suasananya terasa mati. Tak ada lagi aroma kopi yang biasa menenangkan, kini terasa semakin pahit dan menyesakkan bagi siapa saja yang menyaksikan momen jatuhnya sang penjaga birokrasi.

Meja kerja Hery kini kosong, meninggalkan tumpukan berkas laporan rakyat yang kini kehilangan nakhodanya dalam badai yang ia ciptakan sendiri.

Malam ini, Jakarta tidak hanya kehilangan seorang pejabat, tapi juga kehilangan sebuah kepercayaan yang baru saja coba dibangun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *