Berita  

Kupang Pesta Budaya Perdana

Jeffry Pelt (foto: Timex)

laporan Juan Pesau

Kupang, detakpasifik.com- Pemerintah Kota Kupang tengah bersiap menggelar perayaan yang belum pernah ada sebelumnya. Pada 25 April mendatang, untuk pertama kalinya, festival budaya akan digelar dengan melibatkan berbagai komunitas budaya yang ada di kota ini. Bukan sekadar agenda seremonial, festival ini dirancang sebagai panggung bersama untuk merayakan keberagaman yang selama ini menjadi denyut nadi Kota Kupang.

Saat ditemui jurnalis Detakpasifik di ruang kerjanya, Sekretaris Daerah Kota Kupang, Jeffry Pelt, menjelaskan bahwa festival ini lahir dari semangat untuk menjaga sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya yang dimiliki ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur tersebut. Menurutnya, Kota Kupang bukan hanya pusat pemerintahan, tetapi juga “teras” atau beranda NTT yang mencerminkan wajah keberagaman daerah.

“Ini adalah ajang untuk menunjukkan keberagaman budaya di Kota Kupang, sebagai teras atau beranda Provinsi NTT,” ujarnya, Kamis siang (23/4/2026).

READ  Menafsir Pertanyaan Etis Benny K. Harman soal Vonis Mati Sambo

Yang menarik, festival ini tidak disokong anggaran besar dari pemerintah. Seluruh komunitas budaya yang ambil bagian hadir dengan inisiatif dan kesiapan masing-masing, tanpa mobilisasi ataupun bantuan pendanaan khusus dari pemerintah kota. Meski begitu, antusiasme justru terlihat tinggi. Sejumlah komunitas budaya telah lebih dulu mendaftarkan diri untuk ikut ambil bagian dalam perhelatan ini.

Festival akan dimulai dari kawasan Patung Tirosa, salah satu ikon Kota Kupang dan berakhir di halaman Kantor Wali Kota. Di titik akhir inilah, berbagai komunitas akan menampilkan pertunjukan yang merepresentasikan kekayaan budaya mereka masing-masing. Mulai dari tarian tradisional, musik daerah, hingga ekspresi budaya lainnya akan ditampilkan secara terbuka kepada masyarakat.

READ  Para Aspiran dan Postulan Frater BHK Sambangi Rumah Keuskupan Agung Kupang, Diterima Hangat oleh Vikjen

Tak hanya pertunjukan langsung, para peserta juga diberi ruang untuk menampilkan kearifan lokal melalui tayangan video yang mereka produksi sendiri. Dengan cara ini, setiap komunitas memiliki kesempatan untuk memperkenalkan identitas budaya mereka secara lebih luas dan kreatif.

Jeffry menegaskan, festival ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun Kota Kupang yang jatuh setiap 25 April. Momentum ini dinilainya tepat untuk memperkuat identitas Kota Kupang sebagai kota yang heterogen. Rumah bagi beragam suku, agama, dan latar belakang budaya.

“Kota Kupang adalah kota yang heterogen. Melalui festival budaya ini, kita ingin memperkenalkan kekayaan budaya yang kita miliki,” jelasnya.

Selain menjadi ruang ekspresi budaya, festival ini juga diharapkan mampu memberi dampak ekonomi. Pemerintah kota turut mengundang pelaku UMKM untuk ambil bagian, memperkenalkan sekaligus memasarkan produk mereka kepada masyarakat yang hadir.

READ  Gubernur NTT Kuliah Umum di Universitas Indonesia, Perkenalkan Simfoni Budaya Sumba

Dengan demikian, lanjut Jeffry, perayaan budaya ini juga diharapkan dapat menggerakkan roda ekonomi lokal.

Meski melibatkan banyak pihak, partisipasi dari kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) tetap dibatasi. Hanya lima Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang akan dilibatkan dalam festival ini, sebagai bentuk menjaga keseimbangan antara peran pemerintah dan inisiatif masyarakat.

Bagi Pemerintah Kota Kupang, demikian kata Jeffry, festival ini bukan sekadar perayaan satu hari. Lebih dari itu, ini adalah langkah awal untuk menjadikan kota ini sebagai etalase budaya NTT. Ruang di mana keberagaman tidak hanya dirayakan, tetapi juga diperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *