Kupang, detakpasifik.com- Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang kembali disalurkan Bank NTT tahun ini tidak hanya menyasar pelaku UMKM. Dari total kuota Rp350 miliar yang diberikan pemerintah pusat, sebagian dana juga diarahkan untuk mendukung transformasi tenaga kerja migran asal Nusa Tenggara Timur.
Sebesar Rp50 miliar dialokasikan khusus untuk pembiayaan pekerja migran, sebuah skema yang dinilai cukup strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia daerah.
Direktur Kredit Bank NTT, Alo Geong, menjelaskan bahwa selama ini mayoritas pekerja migran asal NTT masih berada pada kategori tenaga kerja berkeahlian rendah atau low skill. Kondisi tersebut membuat daya saing mereka terbatas dan rentan menghadapi persoalan kesejahteraan di negara tujuan.
Melalui dukungan pembiayaan KUR, pemerintah daerah bersama Bank NTT ingin mendorong perubahan pola pengiriman tenaga kerja menjadi lebih profesional dan kompetitif.
Skema pembiayaan itu nantinya akan terhubung dengan lembaga pelatihan kerja yang mempersiapkan calon pekerja migran sebelum diberangkatkan ke luar negeri.
Artinya, dana KUR tidak semata digunakan untuk biaya keberangkatan, tetapi juga mendukung peningkatan keterampilan dan sertifikasi tenaga kerja.
Pemerintah daerah berharap pendekatan tersebut dapat menciptakan tenaga kerja migran dengan kemampuan menengah atau middle skill sehingga memiliki peluang kerja yang lebih baik dan pendapatan lebih tinggi.
Selain sektor pekerja migran, mayoritas alokasi KUR tetap difokuskan pada pengembangan usaha mikro dan kecil. Dari total kuota yang diterima Bank NTT, sebesar Rp300 miliar disiapkan untuk pembiayaan UMKM.
KUR mikro memperoleh alokasi Rp100 miliar dengan plafon pinjaman mulai Rp10 juta hingga Rp100 juta. Sementara KUR kecil mendapatkan jatah Rp200 miliar dengan nilai pembiayaan Rp100 juta sampai Rp500 juta.
Kembalinya Bank NTT sebagai penyalur KUR sendiri menjadi perhatian karena program tersebut sempat dihentikan sejak 2019 akibat tingginya rasio kredit bermasalah.
Selama beberapa tahun terakhir, Bank NTT melakukan pembenahan besar-besaran untuk memperbaiki kualitas kredit dan meningkatkan kesehatan bank. Hasilnya mulai terlihat ketika rasio NPL berhasil ditekan kembali di bawah ambang batas regulator.
Keberhasilan itu membuat pemerintah pusat kembali memberikan kepercayaan kepada Bank NTT untuk menyalurkan KUR pada 2026.
Namun kali ini, bank menegaskan akan lebih berhati-hati dalam proses penyaluran. Fokus tidak lagi sekadar memperbesar jumlah kredit, tetapi memastikan pembiayaan benar-benar berdampak terhadap peningkatan ekonomi masyarakat.
Bank NTT juga menaruh perhatian besar pada literasi keuangan nasabah. Masyarakat akan diberikan pemahaman bahwa KUR merupakan kredit produktif yang wajib dikembalikan, bukan bantuan sosial.
Melalui pendekatan tersebut, Bank NTT berharap program KUR tidak hanya membantu permodalan masyarakat, tetapi juga menciptakan usaha yang lebih kuat, tenaga kerja yang lebih kompetitif, dan perputaran ekonomi yang lebih besar di Nusa Tenggara Timur.









