Lekanglah Luka dan Duka, Floresku

Di tengah gempa yang belum sepenuhnya reda, sanak saudara masih dihantui ketakutan, malam-malam panjang di tenda darurat, dan kerinduan untuk kembali hidup tenang di tanah Flores.

Seorang biarawati dari Karitas Keuskupan Ruteng saat mendampingi anak-anak korban Gempa Flores.

oleh Juan Pesau – dari Flores, untuk Flores

Gempa masih menggerogoti Flores.

Flores itu bagaikan lukisan dewata yang dipahat jemari tak kasatmata. Dibentuk dengan garis-garrris alam yang anggun, lalu diletakan perkasa di atas hamparan samudra. Pantainya membentang, bukit-bukitnya menjulang, dan kebudayaannya tumbuh dari tanah yang diwariskan leluhur.

Flores adalah rumah yang semestinya selalu menyambut dengan damai.

Namun kini, duka merekah di mana-mana.

Yng tegak telah rebah. Yang kokoh telah retak. Sebagian rumah luruh dalam sekejap, bersama kenangan dan segala sesuatu yang dibangun bertahun-tahun. Mereka yang terkasih bahkan pergi begitu tergesa, tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal. Direnggut paksa dalm pelukan gempa yang begitu dahsyat.

Flores sedang terluka.

Dan luka itu belum juga mengering.

Dari kejauhan, kami hanya bisa menunggu kabar.

Telepon adalah satu-satunya jembatan yang menghubungkan kami dengan tanah kelahiran, dengan rumah-rumah yang kami tinggalkan, dengan sanak saudara yang masih bertahan di tengah ketakutan.

Hampir setiap kali telepon berdering, ada rasa cemas yang lebih dulu menyergap.

Kabar dari seberang sana, dari tanah Flores ku masih saja sama.

“Gempa lagi.”

Kalimat sederhana itu terdengar begitu menakutkan.

Sanak saudara masih menelepon, memberi kabar. Bumi Flores ku belum benar-benar tenang. Getaran masih datang berulang. Kadang terasa kuat, kadang hanya seperti gerakan kecil yang cukup untuk membuat tubuh kembali menegang.

Mereka bercerita tentang malam-malam yang panjang.

Tentang tidur yang tak pernah benar-benar terlelap.

Tentang tubuh yang direbahkan di dalam tenda darurat, tetapi pikiran tetap terjaga. Tentang anak-anak yang mudah terbangun ketika merasakan getaran. Tentang orang-orang tua yang semakin cemas setiap kali tanah di bawah kaki kembali bergerak.

READ  Rp200 Miliar untuk Bencana NTT: Seberapa Siap APBD Daerah Menghadapi Bencana?

Kami yang mendengar dari kejauhan hanya bisa terdiam.

Ingin rasanya berlari pulang.

Namun jarak membentang panjang.

Maka kami hanya bisa bertanya, “Bagaimana keadaan di sana?”

Dan dari ujung telepon, jawaban itu kembali datang.

“Masih gempa.”

Betapa pendek kalimat itu.

Tetapi di dalamnya ada ketakutan yang panjang.

Ada kecemasan seorang ibu yang memeluk anaknya lebih erat ketika bumi bergetar. Ada seorang ayah yang berusaha terlihat tenang, meski diam-diam menyimpan ketakutan yang sama. Ada orang-orang yang setiap malam menatap langit, berharap pagi datang tanpa kabar buruk.

Getaran demi getaran seakan mengingatkan kami bahwa Flores belum benar-benar tenang.

Malam yang biasaya menjadi waktu untuk melepas lelah berubah menjadi ruang panjang penuh kecemasan. Di bawah langit yang luas, banyak orang memilih terjaga. Sebagian lainnya merebahkan tubuh di dalam tenda-tenda darurat, tetapi tidak pernah benar-benar bisa tidur.

Sebab rasa takut ikut berbaring di samping mereka.

Setiap suara terdengar seperti pertanda.

Setiap getaran kecil membuat jantung berdegup lebih cepat.

Rumah yang dahulu menjadi tempat paling aman kini menyimpan kecemasan. Tanah yang selama ini menjadi pijakan justru terasa seperti sesuatu yang sewaktu-waktu dapat mengguncang kehidupan.

Dan kami yang berada jauh dari sana pun ikut merasakan gemetar itu.

Bukan pada tubuh, melainkan di dada.

Sebab setiap kali telepon dari Flores masuk, ada doa yang lebih dulu terucap sebelum kata “halo” terdengar.

Semoga kabar baik.

READ  Di Tengah Luka Gempa, Gereja Hadir Menemani Korban Flores

Semoga mereka selamat.

Semoga tidak ada lagi yang pergi.

Kapan ketenangan itu kembli?

Sampai kapan mereka harus tidur dengan mata setengah terjaga, menanti dengan cemas kapan bumi kembali bergetar?

Wahai Floresku,

segeralah pulih.

Lekanglah luka dan duka yang hari-hari ini melekat di tubuhmu. Biarkan bencana berlalu bersama waktu. Peluk kembali anak-anakmu dengan ketenangan yang teduh. Biarkan jubah indahmu kembali mekar, berseri seperti sediakala.

Izinkan sanak saudara kembali menikmati pagi tanpa rasa takut.

Izinkan merkea kembali ke kebun ketika matahari baru saja menyibak kabut. Izinkan anak-anak kembali berlarian dengan riang. Izinkan keluarga-keluarga kembali duduk bersama di rumah mereka, menikmati percakapan sederhana tanpa harus memikirkan apakah malam nanti bumi akan kembali berguncang.

Biarkan mereka kembali menghirup udara bebas.

Menikmati sunyi yang menenangkan.

Menyapa hangat mentari pagi.

Dan menatap jingga di ufuk barat tanpa bayang-bayang kecemasan.

Sebab kami tidak meminta banyak.

Kami hanya ingin kembali pulang.

Pulang ke rumah.

Pulang ke kebun.

Pulang kepada orang-orang tercinta.

Pulang kepada kehidupan yang sederhana, tetapi penuh damai.

Kami ingin telepon-telepon itu kelak membawa kabar yang berbeda.

Bukan lagi, “Gempa datang lagi.” melainkan “Di sini sudah tenang.”

Betapa indahnya mendengar kalimat itu.

Dan kelak, ketika luka itu telah menjadi kenangan, biarkan para penjelajah dari seberang lautan datang kembali. Menghirup wangi garis pantaimu, nenyusuri jalan-jalanmu, menatap takjub harmoni alam dan budayamu.

Biarkan flores ku kembali menjadi dirinya.

Pulau yang indah.

Pulau yang perkasa.

Pulau yang ramah kepada siapa saja yang datang membawa harapan.

READ  Ratusan Rumah Rusak, Pemdes Belang Turi Bergerak Cari Bantuan untuk Warga

Maka, wahai bumi Flores, tenanglah.

Berhentilah mengguncang rumah-rumah kami.

Berhentilah menakut-nakuti malam-malam sanak saudara kami di sana.

Kembalikan lagi rasa aman yang pernah mereka miliki.

Biarkan sanak saudara kami di sana kembali tidur tanpa rasa cemas.

Biarkan anak-anak kembali bermimpi tanpa terbangun oleh getaran.

Biarkan para ibu kembali memeluk keluarganya tanpa dihantui pertanyaan tentang apa yang akan terjadi beberapa menit kemudian.

Dan biarkan kami yang berada jauh dari tanahmu menerima telepon dengan hati yang lapang.

Bukan lagi dengan dada yang berdebar.

Bukan lagi dengan doa yang tercekat.

Tetapi dengan senyum dan satu kalimat sederhana yaitu, “syukurlah Flores sudah tenang”

Kepada Floresku yang sedang berduka, satu doa ingin kami titipkan kepada langit:

Lekanglah luka, luruhlah duka.

Sebab setelah gempa ini benar-benar berlalu, kami ingin membangun kembali bukan hanya rumah-rumah yang runtuh, tetapi juga keberanian untuk percaya bahwa esok baik baik-baik saja.

Kami ingin kembali melihat Flores tersenyum.

Kami ingin kembali mendengar lautnya bernyanyi.

Kami ingin kembali menyaksikan matahari tenggelam di ufuk barat tanpa rasa takut.

Dan kami ingin, suatu hari nanti, ketika telepon dari kampung halaman kembali berdering, tidak ada lagi kecemasan yang mendahului suara di ujung sana.

Hanya kabar tentang kehidupan.

Tentang kebun yang kembali hijau.

Tentang anak-anak yang kembali bermain.

Tentang keluarga yang kembali berkumpul.

Tetang malam yang akhirnya benar-benar sunyi.

Flores, bertahanlah.

Suatu hari nanti, matahari akan terbit tanpa ketakutan.

Dan ketika itu tiba, kami akan kembali memelukmu lebih erat dari sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *