Catatan Valensius Ngardi
Peneliti Ekologi, tinggal di Pontianak
Perjalanan menuju Rumah Pelangi memakan waktu sekitar dua jam dari Kota Pontianak. Jalan yang dilalui perlahan meninggalkan hiruk-pikuk perkotaan. Semakin jauh kendaraan melaju, udara terasa lebih sejuk. Ketika memasuki kawasan konservasi itu, semilir angin hutan menyambut, disertai kicauan burung yang bersahutan dari balik rimbunnya pepohonan. Sesekali seekor tupai melintas cepat dari satu dahan ke dahan lainnya, seolah menjadi bagian dari harmoni alam yang masih terjaga.
Rumah Pelangi merupakan kawasan konservasi seluas sekitar 200 hektare yang berada di Kalimantan Barat tepatnya di Jalan Trans Kalimantan KM 64 Ambawang Pontianak. Hamparan hutan tropis masih berdiri kokoh dengan beragam pohon endemik seperti tembesu, meranti, belian, bengkirai, keruing, kamper, sungkai, dan berbagai jenis pohon lainnya. Rimbunnya pepohonan menjadi habitat bagi beragam satwa liar. Bila kita mengobservasi lebih lama, akan muncul secara tiba-tiba di hari tertentu burung murai batu, punai, tekukur, gelatik, pipit, hingga enggang gading masih dapat dijumpai di kawasan ini. Kehadiran mereka menjadi penanda bahwa ekosistem hutan masih bekerja sebagaimana mestinya.
Di tengah kawasan konservasi itu, tiga biarawan Ordo Saudara Dina Kapusin sedang menyelesaikan pekerjaan rutin mereka. Bersama sejumlah karyawan, mereka membersihkan kawasan, merawat tanaman, memelihara sumber air, dan memastikan hutan tetap lestari. Aktivitas itu dilakukan setiap hari, bukan semata sebagai pekerjaan, melainkan sebagai bagian dari panggilan hidup untuk menjaga ciptaan. Pastor Warsito, OFMCap, yang mendampingi kawasan tersebut, mengisahkan awal mula Rumah Pelangi. “Dulu kawasan ini sebagian besar merupakan lahan yang gersang. Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap, memulai penghijauan dengan menanam berbagai jenis pohon. Apa yang kami lakukan sekarang adalah melanjutkan semangat beliau,” ujarnya.
Puluhan tahun kemudian, pepohonan yang ditanam telah tumbuh menjadi hutan yang menaungi kehidupan. Mata air yang dahulu sulit ditemukan kini mengalir dan ditampung dalam sebuah waduk sederhana. Airnya dimanfaatkan oleh komunitas biarawan sekaligus membantu kebutuhan masyarakat sekitar.
Di salah satu sudut kawasan berdiri sebuah bangunan yang mengadaptasi bentuk Rumah Betang, rumah adat masyarakat Kalimantan. Material dan desainnya menyesuaikan kondisi alam sekitar sehingga menyatu dengan lingkungan. Berbagai tanaman buah lokal seperti durian, cempedak, dan temawang juga masih dipertahankan sebagai bagian dari kekayaan hayati kawasan ini.
Rumah Pelangi tidak hanya menjadi ruang konservasi. Banyak mahasiswa, peneliti, komunitas, Dinas lingkungan hidup dan lembaga pendidikan datang untuk belajar mengenai ekologi, keanekaragaman hayati, maupun pengelolaan lingkungan. “Kami tidak pernah menetapkan tarif bagi mereka yang datang. Yang kami harapkan hanya satu, siapa pun yang berkunjung ikut memiliki kepedulian untuk menjaga alam,” kata Pastor Warsito.
Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, deforestasi, dan berkurangnya ruang hijau, Rumah Pelangi menghadirkan sebuah pendekatan yang sederhana tetapi konsisten: menanam, merawat, dan menjaga. Apa yang dilakukan di kawasan ini menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, melainkan dari kesetiaan merawat sebidang tanah secara terus-menerus.

Gagasan tersebut sejalan dengan semangat Ensiklik Laudato Si’ yang diterbitkan Paus Fransiskus pada 2015. Dokumen itu mengingatkan bahwa bumi adalah “rumah bersama” yang harus dipelihara melalui tanggung jawab bersama, melampaui sekat agama, budaya, maupun kepentingan ekonomi.
Menariknya, semangat itu telah lebih dahulu diwujudkan di Rumah Pelangi. Jauh sebelum ‘Laudato Si’ diterbitkan, Mgr. Samuel Sidin, OFMCap, telah mengembangkan kawasan ini sebagai ruang konservasi yang berpijak pada penghormatan terhadap alam. Upaya tersebut kemudian memperoleh pengakuan nasional melalui penghargaan Kalpataru yang diberikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas dedikasinya dalam pelestarian lingkungan hidup.
Rumah Pelangi memperlihatkan bahwa merawat hutan sesungguhnya bukan hanya menjaga pepohonan tetap tumbuh. Di dalamnya tersimpan upaya menjaga sumber air, melindungi keanekaragaman hayati, menyediakan ruang belajar bagi generasi muda, sekaligus membangun kesadaran bahwa manusia merupakan bagian dari alam, bukan penguasanya.
Di tengah berbagai kabar tentang kerusakan lingkungan, Rumah Pelangi menghadirkan kisah yang berbeda. Hutan yang kini tumbuh lebat menjadi bukti bahwa kesabaran, ketekunan, dan kepedulian mampu mengubah lahan gersang menjadi ruang kehidupan. Dari sudut Kalimantan Barat itu, tumbuh sebuah harapan bahwa masa depan bumi masih dapat dirawat, selama manusia tidak berhenti menanam dan menjaga.
Tak hanya menjadi ruang konservasi, Rumah Pelangi juga menghadirkan pengalaman batin bagi setiap orang yang datang. Di bawah rindangnya pepohonan, keheningan terasa memiliki makna. Suara angin yang menyapu dedaunan, gemericik air dari waduk, dan nyanyian burung yang bersahutan menghadirkan suasana yang mengajak orang berhenti sejenak dari kesibukan hidup. Bagi sebagian pengunjung, tempat ini menjadi ruang untuk belajar mencintai alam; bagi yang lain, menjadi tempat menemukan kembali hubungan yang lebih utuh dengan Sang Pencipta melalui ciptaan-Nya.
Keberadaan Rumah Pelangi menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan tidak dapat diserahkan hanya kepada pemerintah atau pegiat lingkungan. Komunitas religius, masyarakat adat, dunia pendidikan, dan warga sekitar memiliki peran yang sama pentingnya. Ketika berbagai pihak bekerja bersama, konservasi tidak lagi menjadi sekadar program, melainkan budaya hidup. Hutan dipandang bukan sebagai objek yang dieksploitasi, tetapi sebagai warisan yang harus diteruskan kepada generasi berikutnya dalam keadaan yang tetap lestari.
Di tengah berbagai tantangan ekologis yang dihadapi Indonesia, Rumah Pelangi menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering kali berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan ketekunan. Pohon-pohon yang kini menjulang tinggi berawal dari bibit yang ditanam dengan harapan. Mata air yang menghidupi masyarakat berawal dari kesetiaan menjaga kawasan resapan. Kisah Rumah Pelangi pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah hutan di Kalimantan Barat, melainkan tentang keyakinan bahwa ketika manusia merawat alam dengan kasih dan tanggung jawab, alam akan kembali menghadirkan kehidupan bagi semua. ***











